![]() | |
Mengenai hatiku Source |
Dan bahwasanya membuat orang lain percaya itu tidak mudah, benar adanya. Pernah kukatakan padamu, dalam ruang bernama ‘berbagi’, bahwa untuk membuatku percaya, kau harus lakukan itu lebih dulu padaku. Sedang setiap kalimat manis yang kau ucap kemudian kutemukan jejak yang berakhir pada ketidakmampuanmu menjaga mulutmu agar sesuai dengan langkahmu.
Kau. Kemudian belum lagi aku sempat membuat kokoh bangunan yang hendak kupaksakan untuk berdiri, kembali meluruh. Ruang itu kembali lembab, sembab oleh kekecewaan. Kau. Yang untuk kesekian kalinya membuatku takut. Bahkan untuk sekedar mengamankan pikiranku dari segala macam tanya yang tak mampu kau tahan untuk dapat muncul dalam kepalamu.
Pernah kau tebarkan dengan manis dan penuh janjia mengenai pribadiku yang akan kau jaga, utuh. Namun kutemukan berserakan bekas dari pribadiku yang kau jaga itu, pada orang lain. Bukan satu. Bukan dua. Bukan juga tiga. Kau. Meninggalkan berbagai jejak mengenai pribadiku yang seharusnya kau jaga rapat dalam ruang pikiranmu dan keteguhan hatimu sebagai pria dalam kehidupanku, begitu mudahnya. Kau. Lagi-lagi hanya meninggalkan ruang gelap dalam sudut hatiku. Ketakutanku.
Aku menghargaimu, sebagai sosok yang kini ada dalam kehidupanku. Berusaha berlaku semampuku menerima reruntuhan puing yang telah kau dan orang-orang yang menyayangimu telah perlahan bobol. Tembok keangkuhan yang kau bilang itu, tembokku, yang telah perlahan-lahan kau paksa untuk kau lubangi hanya untuk menciptakan sebuah pintu untukmu masuk. Atas nama kepercayaan. Aku yang tak pernah hirau akan hiruk pikuk yang kau ributkan dibelakangku, harus begitu membelalakkan mata akan apa yang akhirnya terbentang di depanku. Bahwa lidah selamanya akan menjadi senjata paling mematikan bagi manusia.
Begitu akhirnya serta merta garam yang telah kau tebarkan itu, bersama dengan wanita tersayangku, atas nama sayang, coba untuk kau lupakan? Lalu bagaimana dengan taburan garam yang terlanjur menyatu dengan air laut itu? Siapa yang dapat memisahkan butiran garam yang telah melarut menjadi satu dengan cairan asin maha luas itu? Tuhan? Aku tidak membela siapapun, tidak pun diriku sendiri.
Aku salah. Dan kuakui Mengakui. Namun untuk garam yang sudah terlanjur tertabur, untuk pribadiku yang sudah terlanjur kau sebar begitu mudahnya, siapa yang akan bertanggung jawab untuk derita yang terasa? Untuk hati yang terlanjur terluka? Jika memang itu yang kau butuhkan untuk menyetarakan sakit yang kuakibatkan untukmu, maaf, rasanya terlalu jauh untuk disetarakan. Aku bersalah. Namun bukan garam yang ku tebar, aku hanya menancapkan sebilah pisau tepat dihatimu, dan tidak menarik deretan pisau itu menjadi sebuah luka yang menganga dimana setiap orang dapat menaburkan perasan lemon untuk menambahkan sakitnya. Aku cukup tahu diri. Dan menutup mulutku untuk tidak menyebarkan garam kemanapun, bahkan kepangkuan kaki yang mampu membukakan pintu surge untukku. Ibuku.
Kini, kau tahu semua. Kau tahu apa yang kubuat kepadanya dalam bias makna bahwa aku memutuskan mengalihkan padangan hanya padamu. Membiarkannya menelan luka yang sempat menguak karenaku. Membuatnya menahan kembali sakit yang entah kapan akan mendapat penawarnya. Membiarkannya melebur dalam berbagai macam pikiran, bahwa aku memperlakukanmu lebih baik darinya yang remuk redam dalam gelapnya.
Kini, kau, yang kau sebut penoreh luka itu telah kuusir jauh. Kubiarkan larut dalam pikirannya membenciku. Kubiarkan siksa itu ikut meleburku, dalam keterseokannya menatapi satu persatu jejakku yang perlahan mengabur, lalu menghilang. Membiarkannya membangkitkan dirinya sendiri kembali, menariki setiap kenangan yang telah terlampui menyita seluruh benaknya. Tentangku, dan kau.
Kubiarkan pikirannya melayang membayangkan betapa aku memilihmu, senantiasa menebarkan senyum kepada siapapun, memamerkan tembok luka yang dengan paksa kutambal senyum. Senyum yang akan terlihat begitu berbeda. Yang mampu kau baca bahkan dengan mata telanjangmu.
Aku bersamamu. Berada disampingmu. Bahkan mencoba membangun kembali tembok kepercayaan yang perlahan kau bolongi. Mencoba membuat sendiri tambalan untuk mengisi tiap kosong itu. Mencoba. Hal yang bahkan akan kau perlakukan luar biasa seolah aku adalah seorang murtad yang yang kemudian insyaf. Yang harusnya menangis meraung menciumi kaki bumi, bahkan demi mendapatkan surga. Aku. Yang kau sebut ego itu, yang semestinya mampu kau jaga dalam nama kasih yang serta merta kau bisikkan di telingaku tiap saat itu, begitu ketakutan.
Aku meringkih. Bergetar karena sakit yang ku coba tahan. Berusaha membersihkan perih dalam balutan air mata. Bahkan untuk setiap tangis yang tak mampu meluruh melalui manik mataku. Bukan saatnya menangis. Aku tak punya waktu untuk menangis. Bahkan untuk perasaanku yang kau tahu tak sepenuhnya untukmu.
Hati ini. Mungkin untukmu. Juga untuknya. Sedang sisanya telah kubagi untuk sepasang kaki yang mampu membukakan pintu surga untukku. Sepasang kaki yang entah kapan akan mengerti, bahwa yang kubutuhkan hanyalah berdiri disampingku, bukan untuk menunjukkan jalan padaku, bukan untuk menuntunku menemukan jalanku, bukan juga untuk memberitahuku apa yang harus kulakukan. Tapi sepasang kaki yang mampu ada tuk senantiasa terus mendampingi dalam setiap keterpurukan dan kekalutanku. Sepasang kaki yang mampu membantuku berdiri dalam setiap kali terperosok, dan tersenyum. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja, lalu tersenyum. Itu saja. Tidak lebih.
Lalu bila aku telah membiarkan diriku menghapus separuh hati yang kau tahu taka da dirimu disana, akan mulai kau menunjukkan sebuah alat tulis untukku menuliskan namamu di dalam ruang hatiku yang separuh itu. Akan mulai kau mendengungkan perlahan-lahan setiap rencanamu, keinginanmu, kebutuhanmu, dan apapun yang mampu kau buat untukku agar seperti pandanganmu akan seorang wanita yang mampu mengisi kehidupanmu.
Lalu jika kau masih dapat membiarkan hati dari masa lalumu untuk terus mengintip kehidupanmu, beberapa saat bertegur sapa, berbagi berbagai cerita, mengapa aku harus membuang separuh hati yang tak ada kau didalamnya? Karena ia adalah kesalahan yang kuseret untuk ikut hadir dalam hidupmu, yang membuatmu tak mampu memiliki hatiku seutuhnya? Cobalah sedikit, sejenak, kau intip bayanganmu, perlahan meratapi setiap detail bayangan pada cermin itu. Yang sosoknya sangat amat mirip denganmu, adakah gurat kesalahan disana? Ataukah wajah itu begitu mulusnya tanpa cela?
Aku. Membiarkannya menelan semua amarahku terhadapmu. Begitu sama halnya aku membuatmu menelan semua amarahku terhadapnya. Lalu kalian akan melampiaskan kesal satu sama lain padaku. Membiarkanku menerima semua hantaman kesal tanpa dapat kupantulkan kembali. Karena aku salah. Aku yang memulai. Aku yang dengan sengaja menempatkan hatiku dalam lumpur salah. Hatiku, tak pernah salah. Akulah, yang kebetulan memilikinya untuk sementara, yang salah. Aku tak terkontrol. Kau. Dan juga kamu. Terseret oleh ego yang kubangun. Kubiarkan terluka oleh ketidakmampuanku mengontrol hatiku.
Saat ku biarkan diriku dibenci olehmu, membuatmu kembali terluka, terjerambab dalam lubang yang sama. Kehilangan arah. Masa depan yang menggelap. Aku. Tersuruk dalam sudut dimana tak mampu bangkit membela diri. Terlalu banyak yang kubiarkan terluka. Terlalu banyak yang kubiarkan menggelepar dalam benak penuh tanda tanya. Aku. Yang bersalah.
Maka, jika akhirnya kau menuntutku untuk menjadi maumu, memaksaku melupakan separuh hati yang tak mampu kau miliki, aku minta maaf. Bahkan untuk rentang waktu yang tak mampu ku perkirakan, separuh hati ini mungkin akan selalu miliknya.
Dan bila kau memang benar memiliki hati itu sepenuhnya untukku, aku tak akan meminta apapun. Aku berterima kasih. Kau yang selalu menempatkan diriku teristimewa lewat kalimat yang kau ucap. Kau yang telah berusaha maksimal demi menciptakan masa depan bahagia. Kau yang telah menerjang berbagai anggapan mengenai pribadiku, dengan begitu tegarnya. Saat nanti kau tak mampu lagi melihatku dengan separuh hati ini, dimana masa depan yang kau impikan itu tidak dapat berjalan sebagaimana kau harapkan, aku mungkin hanya bisa menahan tangis. Mungkin suatu saat, meskipun aku hanya menyediakan separuh hatiku padamu, saat kau akhirnya tak ada, aku akan merindukanmu. Pun, bila saat ini aku memutuskan untuk mencoba bersamamu, kau pun akan kehilangan sabar itu untuk menghadapiku. Demikian seperti contoh yang kau ingin berikan padaku, saat kalimatmu tak mampu kau bawa bersamaan dengan langkahmu. Kau kembali akan kehilangan kepercayaanku. Dan aku hanya akan terperosok dalam lubang yang sama, dalam tangis tertahan. Tanpa mampu menyesali.
Dan bila kamu, yang kubiarkan terluka sendirian disana akhirnya membenciku. Aku terima. Aku minta maaf telah membiarkanmu terbuang, terluka, tanpa sempat mendengar sedikitpun gema dari suaraku. Aku. Yang bersalah telah menjadikanmu demikian rela berjuang demi kebahagiaan. Impianmu. Impianku. Bagaimana kamu, yang telah demikian berjuang demi aku. Bagaimana kamu, yang demikian menetapkan hati, untukku. Kamu. Yang pada akhirnya hanya dapat menelan perih melalui hatimu yang telah kucabik. Kusakiti. Bahkan untuk sekedar tegur sapa selayak kita pertama bertemu. Persahabatan.
Aku. Kau. Kamu. Bahkan tak akan dapat menemukan satu nama untuk menggambarkan lingkaran yang mengikat kita. Tak ada persahabatan. Tak ada hati. Kau yang tak mungkin mampu mengubur benci. Kamu yang tak mungkin mengubur benci. Dan aku, yang terjebak didalam permainan hati. Aku yang bersalah. Menyakiti, lalu lari tak bertanggung jawab. Bahkan untuk sekedar menjaga hubungan persahabatan yang mengawali kesadaran akan perasaan. Aku. Yang begitu jahat. Yang tak mampu menggambarkan sebuah garis batas bahkan untuk sekedar memberi pengertian bahwa aku mungkin akan melepasmu, dan menelan diri dalam dilemma, keluargamu, keluargaku, lingkunganmu, lingkunganku. Aku. Dan kau. Bukan aku. Dan kamu. Pernah bila aku melihat kalimat indahmu, bahwasanya karena kau mencintaiku, maka kau akan mencontohkan yang baik untukku, agar kelak kau mampu menjadikanku lebih baik menurut agama, bukan menurut pikiranmu. Aku ingin lihat. Bahkan bila kau tetap bersikeras menolak kehadirannya yang kupaksakan untuk bernaung dibawah sebutan sahabat, dalam kehidupanmu yang didalamnya termasuk kehidupanku.
Jadi begitulah ratapan yang ingin kusampaikan. Terlepas apakah kau, atau kamu, akan mungkin membaca. Mengetahui bahwa aku membagi hatiku, bahkan tanpa sadar tidak memiliki ruang untuk diriku sendiri. Aku. Yang tertelan dilemma. Dalam ketakutan yang kau perlahan patri. Dalam sayang yang terbentuk dari separuh hatiku. Aku. Yang tersekat kata. Dalam ketakutan akan kehilangan. Bahkan untuk menyebutmu sahabat. Bahkan untuk sekedar bersapa, dalam balut basa-basi belaka. Dalam kepedulian atas nama sahabat. Yang tak akan pernah dapat kau terima. Aku. Kamu. Akan selamanya terjebak dalam pikiran yang kau buat sendiri. Dan tak mampu kubantah. Tak mampu. Karena ketidakmampuanku. Yang membuatmu terlalu banyak berkorban untukku. Aku pantas jika akhirnya kamu membenciku. Jikapun akhirnya awal yang baik itu berakhir dengan buruk, semua salahku. Bencilah aku, tak akan ku sanggah. Aku yang bersalah.
Aku yang melemah, merapuh, dan meringkih dalam gempuran mereka yang menyayangiku. Dalam naungan kalimat manis dan sikap yang masih kucoba cerna. Aku yang bingung dan kehilangan sorot lampu itu. Tak mampu melihat, sulit mendengar, bahkan setiap kata yang kini tercekat dalam tenggorokkan dan tak mampu kusampaikan. Aku. Yang kini meminta belas kasihan kalian yang menyayangiku. Tunjukkanlah padaku, kalimat yang sejalan dengan langkah. Bayangan yang serupa dengan siluet. Bahkan tapak yang simetris dengan kaki. Aku. Yang menunggu. Dalam sudut diam nan buram. Meraba. Masa depan.