Tampilkan postingan dengan label Mendung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mendung. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Desember 2012

Dua kali lewat begitu saja

Jika saya tahu jauh-jauh hari mengenai rencana kedatangannya, mungkin saya tidak akan melewatkan kehadirannya kali ini. Padahal ketika tahun dulu ia datang kesini, saya sudah melewatkannya karena biayanya diluar kemampuan saya. Tapi kali ini saya pun melewatkannya karena ketidakmampuan saya. Bukan hanya karena saya melewatkan begitu saja rencana kedatangannya, tetapi karena saya juga sudah dipastikan untuk tidak mungkin mampu menggelontorkan dana sedemikian untuk sekadar melihatnya dari jauh. Maka saya melewatkan lagi kehadirannya.

Mengagumi sosoknya sejak mengenal dunia perfilman Bollywood, tentu saja saya sama histerisnya dengan para penggemarnya yang lain. Sebut saja, Amitabh Bachchan, Mithun Chakraborty, sampai kemudian mengenal sosoknya.

Saya mungkin diantara sekian yang tidak malu mengakui bahwa menyukai ketertarikan pada musik India. Saat remaja lain menggilai Basejam, Dewa 19, sampai Stinky.. saya malah berkutat dengan tontonan Bollywood. Apalagi beranjak dewasa saat yang lain mulai menyukai musik aliran luar negeri dari mulai Britney Spears sampai saat ini demam K-POP, saya masih juga tidak bosan dengan film Bollywood. Memang tidak semua film Bollywood saya sukai. Hanya beberapa saja, tetapi kecintaan akan sosoknya tidak bisa dikalahkan dengan yang lainnya.

King Khan atau nama lainnya Shahrukh Khan tetap mengisi salah satu daftar idola saya yang lain disamping aktor luar macam Tom Cruise dan band-band musik lain seperti Linkin Park, dan lainnya. Tentu saja, beberapa ada yang meledek selera saya kampungan dan lainnya. Saya sih masa bodoh. Terlanjur menyukai dan bangga!

Dan melewatkan kembali kedatangannya kesini adalah hal yang membuat saya sedih. Saya sempat menangis hari sabtu itu, sedikit menyesali ketidakmampuan saya mewujudkan keinginan untuk dapat melihat sosoknya secara nyata. Tapi mau gimana lagi, mungkin memang belum waktunya untuk saya dapat memenuhi keinginan saya kali ini. Gagal lagi.. hiks. Dan saya masih sedih jika mengingat kegagalan yang kedua kalinya ini. Dua kali, idola saya ini lewat begitu saja.. :'(

Saya melewatkan banyak kesempatan untuk melihat idola saya selama beberapa kali. Dan ini adalah kesekian kalinya saya melewatkan kesempatan itu. Sedih.. tapi mau gimana lagi.. Belum saatnya mungkin ya.. Atau memang saya tidak boleh merasakan senang? :(


XOXO
Source

Rabu, 27 Juni 2012

Ijo semangka

Bahkan ketika jarak dapat di persempit, tak juga mampu memecah rindu. Maka ketika air mata menjadi penghibur sementara, ku nikmati saja dalam kesepian.

Bukan salahku, karena mereka juga tidak mungkin mau dipersalahkan. Maka aku juga tak akan menyalahkan mereka. Karena hadirku mungkin hanya sekelebat. Seperti bintang yang kadang tak disadari keindahannya.

Bahkan dikala malam pekat begitu membutuhkannya untuk sekadar menjadi titik penerang yang seadanya.

Kangen kalian..


Sangat.

Eh, jadi pengen ngerujak semangka!
Source

Selasa, 05 Juni 2012

Afternoon numb

Rasanya hanya ingin menangis. Situasi ini, dan semua yang tidak menyenangkan ini.. enyahlah cepat. Kepala saya sakit, perut saya sakit. Menstruasi dan tekanan ini begitu mengerikan bahkan untuk dapat saya bayangkan. Tapi saya mengalaminya. Dan sedang berjuang melewati semuanya dengan baik. Mencari tambahan untuk menutupi kebutuhan adik saya yang paling kecil yang biaya sekolahnya begitu mahal. Bahkan hanya untuk satu mata kuliah saya harus membuat kami menjadi begitu deras memeras otak untuk dapat menutupinya.


Uang yang saya miliki masih jauh dari cukup untuk dapat saya andalkan  bahkan sampai akhir bulan ini. Dan saya sudah muak harus pinjam sana-sini hanya untuk gali lobang tutup lobang sementara hutang saya juga jadinya tidak pernah dapat tertutup sempurna. Saya lelah. Gerah. Putus asa.

Hubungan ini, kekakuan ini, perasaan janggal ini, dan segalanya yang tidak pernah terlihat benar di mata saya bahkan jauh sebelum semua kekacauan itu terjadi, sepertinya menjadi lebih buruk. Saya lelah mengadu. Saya lelah menangis. Saya sungguh lelah menjadi tidak bisa berbuat banyak. Bahkan saya mungkin lelah menjadi diri saya sendiri. Entah akan jadi apa saya kelak. Seketika saya bahkan seperti tak mampu merasakan tulang belulang saya. Bahkan pikiran saya sudah seperti meracau entah bahasa apa karena saya tidak paham. Ini sebuah kemunduran. Sebuah kegagalan.. mungkin saya hanya tinggal menunggu semuanya hancur dan merasakan kerusakan yang lebih parah.


Padahal ini masih siang, masih cukup lama untuk jam kerja saya berakhir. Tapi siang ini terasa seperti hampa.. saya seperti mati rasa.. di siang ini.


sumber

Sabtu, 21 April 2012

Di waktu Ashar

Aku tidak menangis kan Tuhan.
Ketika mengadukan kekecewaanku tentangnya. 
Aku juga tidak menangis kanTuhan.
Ketika mengetahui kebenaran menyakitkan itu.
Aku tidak menangis.
Setidaknya tidak saat aku tengah bersujud di waktu asharMu.
...


Saya memang tidak menangis. Setidaknya saya berhasil mengatasi sifat cengeng saya akhir-akhir ini. Juga tidak menangis ketika membalasi pesan singkatnya di perangkat komunikasi modern itu. Saya berhasil menahannya. Berhasil membuat genangan di pelupuk mata itu tetap disana, dan menguap bersamaan dengan udara. Saya tidak mengaliri pipi saya dengan lelehan hangat air mata. Tidak saat itu. 

Aku mungkin pembohong besar. Juga mungkin pemilik mulut manis yang mampu menipumu dengan buaian kata indah dan memabukkan. Tapi setidaknya aku tidak pernah sembarangan berjanji, kemudian ingkar. Aku juga tidak serta merta dengan mudahnya memamerkan senyum manis dan melemparkan kalimat syurga namun dalam hati merasa sebaliknya. Aku juga merasa tidak memiliki kemudahan untuk membeberkan keburukan orang lain tanpa dasar yang jelas. Bahkan aku berusaha melindungi diriku sendiri, serta orang-orang yang telah begitu menyakitiku dalam diamku. Aku. Tidak sama. Sepertimu.

Saya begitu kesalnya. Tetapi berusaha tetap tenang. Saya pikir saya berhasil mengalihkan kacau balau saya terhadap hal menyebalkan itu. Dengan bersikap santai. Sungguh saya ingin mencaci, dan meninjunya. Namun ia tidak akan merasa apapun kecuali hanya efek digigit semut bila menerima tinju saya. Maka saya meladeni semua kalimatnya yang begitu ringan mengalir dengan nada santai.

Ia menyebut saya ketus. Saya lebih memilih untuk menyebut sikap saya sebagai sikap menyerah. Mungkin masa bodoh. Tapi saya sudah muak dan sudah merasa cukup banyak menelan semua tingkah lakunya.

Aku menyayangimu. Maka aku memilih untuk menerima resiko dibencinya. Aku mencintaimu. Maka aku memilih untuk mengubur rasa sakitku dan berdiri disampingmu. Dan aku tidak akan kembali pada mereka maupun siapapun dari masa laluku.
Tapi yang kau lakukan malah demikian kerap tidak mengerti diriku. Bahkan juga ikut menyerangku atas kenyataan yang ku beberkan.

Saya sungguh lelah. Maka saya akan mulai bersantai saja menghadapi semua ini. Sesungguhnya apapun yang saya lakukan akan tidak menghasilkan apapun juga. Akan tetap begitu. Dan semua, harus kutelan mentah-mentah kembali. Sungguh lelah. Dan bodoh.

Mungkin ini salah satu alasan aku memilih menulis dan percakapan non verbal. Karena mengetahui kebenaran secara langsung itu lebih menyakitkan. Dan saya terlalu pengecut untuk mengalaminya. Saya sudah muak dengan sakit.

Dan ia malah menerima ajakan untuk bermain bulutangkis. Betapa menyebalkan. Tapi sudahlah. Saya mungkin memang pantas diperlakukan seperti ini.


Pict


Suatu hari di waktu ashar

Rabu, 18 April 2012

My consequences

Bila saat itu kau bersamaku, tanpa ada tali takdir mengikat kita. Aku tak akan peduli. Sungguh terserah padamu mau bermain-main dengan siapapun di belakangku. Bahkan jika memang tabiatmu untuk selalu mampu bermanis dengan lain jenismu adalah yang mampu kulihat di depanku. Sungguh terserah padamu. Karena saat itu aku akan tahu bagaimana dirimu sebenarnya menghargaiku.

Tapi sayang, tentu kau harus mampu juga menjaga perasaanku. Manakala tali takdir telah mengikat kita. Menjadikan hidup kita saling menciptakan simbiosis mutualisme. Lalu saling mendukung dalam hubungan subtitusi tak tergantikan. Bukankah akan menjadi indah bila itu bisa sempurna. Kuharap itu juga ada dalam bayanganmu.

Dan aku akan menjadi seorang istri yang rewel dan memiliki rasa cemburu besar. Bukan tanpa alasan. Hanya saja, aku perlu menjaga perasaanku yang telah kau rantai dalam ikatan pernikahan bukan, suamiku? Maka ketika aku melihat lagi nama itu masih terkait denganmu. Bukankah wajar untukku merasa gelisah, juga kesal. Bahwa aku akan mengira kau mengharapkan keadaan tidak denganku. Bagaimana kau akan menghormati posisi dan menghargai keberadaanku bila aku  masih harus diingatkan oleh kenanganmu yang indah bersamanya?

Begitu banyakkah,
Kenangan indah itu?
Senyum dan tawa yang kau bagi dengannya yang tersimpan dalam memorimu?
Tukar kata kalimat penuh makna dan perasaan diantara kalian?

Baiklah aku mengalah saja. Ini hanya lima tahun. Tidak akan sebanding dengan usia kita yang hanya akan beranjang menempuh dua tahun. Mungkin memang terlalu singkat untukku menyingkirkannya. Maupun para pemanis masa lalumu sebelumku. Bagaimana mungkin aku bisa berharap terlalu banyak. Terserahmulah. Aku akan diam saja mulai sekarang. Mungkin tak akan lagi peduli kau akan menjalin kembali hubungan dengan siapapun dari masa lalumu yang indah itu. Bahkan bila namanya masih akan menempel di belakang namamu. Aku sudah lelah. Tenaga ini sebaiknya ku alihkan pada hal lain yang lebih menyenangkan hatiku.

Karena aku telah memilih konsekuensiku. Kau. Dan aku hanya harus menerimanya. Lagi. Seperti kisah-kisahku yang lain. Telan. Dan diam.

Menyedihkan bukan aku sekarang? Sendiri, dilanda kecemasan dan ketakutan. Juga kemarahan. Kesalnya!


Pic

Selasa, 06 Maret 2012

Si cengeng dan penakut

Ternyata saya masih cengeng. Masih saja mudah menangis bahkan walaupun yang saya hadapi adalah handphone yang hanya berisi kata-kata maupun kalimat. Seperti hari ini dikantor, saya harus berusaha keras menyembunyikan air mata saya dari rekan kerja saya. Berbalas pesan melalui Blackberry Messenger dengannya membuat saya harus merasakan sesak itu lagi.

Permasalahan sederhana mungkin menurutnya, tapi tidak menurut saya. Perbedaan pemahaman ini membuat saya mudah merasa tersinggung dan merasa tidak dipercaya dengan benar. Salahkan jika semua prosedur dan protokoler yang biasa saya dapatkan di kantor selama lima hari seminggu tidak ingin saya temui ketika jam kantor telah selesai? Saya hanya ingin melupakan semua penat dalam begelut dengan semua pekerjaan kantor dan bersantai. Melupakan segala peraturan yang saya geluti selama jam kantor. Bukan malah melakukan kegiatan yang hampir sama dengan apa yang saya kerjakan juga di kantor. Apapun namanya, tapi tetap saja, menggunakan otak ala pekerja kantoran untuk kegiatan yang seharusnya bisa diisi dengan santai dan tanpa jadwal adalah kesia-siaan menurut saya.

Lagipula saya seperti tidak dipercaya mampu memegang kekuasaan besar. Terlanjur mengatakan bahwa saya tidak suka dengan nickname yang diberikan pada saya untuk memanggil saya juga percuma. Sepertinya ia tidak begitu memperhatikan keberatan saya, walau dalam beberapa percakapan ia meminta saya untuk terbuka mengatakan keberatan saya. Ia tidak begitu mencamkan dalam ingatannya. Begitu banyak yang terlupa. Mengenai ketidakpekaannya tentang bagaimana memperlakukan wanita.

Hal sederhana ini, saya harus mengulang lagi rencana perjalanan karena ia entah ucapan saya yang sebelumnya tidak pernah benar-benar didengarnya mungkin. Jika tidak, ia akan mengambil rute yang salah. Saya bahkan sudah berhenti berkonsentrasi dengan benda bernama blackberry ketika banyak bersamanya, tapi ia kini yang lebih berkonsentrasi dengan blackberry nya. Bahkan ia lebih banyak tidak mampu mendengarkan saya berbicara ketika tengah asyik mengecek smartphone nya itu. Saya, ketika mata sibuk dengan handphone saya, masih bisa menggunakan telinga saya untuk mendengarkan percakapan. Apakah memang setiap pria selalu tidak akan pernah bisa melakukan banyak pekerjaan secara bersamaan?

Saya tidak penah keberatan dengan kegiatannya dengan blackberry nya. Terserah saja. Hanya saja, ketika percakapan sedang berlangsung dan ia bahkan tidak mendengar ucapan saya karena mata tengah asyik berkonsentrasi dengan layar blackberry nya, tentu itu menyakitkan. Hal yang sekali lagi berbeda dengan saya yang masih bisa menyisakan perhatian telinga saya untuk mendengar ucapannya ketika mata saya tengah ber-blackberry ria.

Terkadang memang sulit menyembunyikan air mata. Saya lebih mudah menghindari konflik dalam bentuk apapun dibanding harus berhadapan langsung. Pada siapapun, bahkan mungkin bila berhadapan dengan anak kecilpun saya akan mudah meneteskan air mata. Cengengnya saya. Mungkin kantung mata saya terbuat dari bahan yang mudah retak sehingga ketika hati saya merasa tersakiti, kantung air mata itu mudah robek dan mengeluarkan air nya. Maka saya lebih baik menghindar. Memilih untuk menerima. Tidak pernah berusaha menjadi berani sekadar untuk menghadapi. Saya.. si cengeng.. dan penakut.

Lucu, karena baru beberapa hari yang lalu saya menulis tentang orang-orang yang menyedihkan, lalu kini saya juga menjadi sama menyedihkannya, walau dalam konteks yang berbeda..




Foto dapat dari sini

Kamis, 23 Februari 2012

Aku yang bahagia

Kangen.
Ya.
Kamu.
Juga kamu.
Semuanya.
Saya. Rindu. Kalian.
Sangat.

(sekitar kemarin)
 ...



Itu tulisan yang jadi draft saya sekitar kemarin. Disaat saya hampir menangis menahan rindu pada teman-teman saya yang sering menamai dirinya ijo semangka.

Itu sebelum akhirnya dinodai oleh komentar yang tidak menyenangkan darinya.

Ya. 
Kamu.

Saya seharusnya tahu saya belum cukup kuat untuk benar-benar menghilangkan bayangmu. Maka ketika itu adalah saat kita 'bicara' untuk pertama kalinya sejak terakhir 'percakapan' kita, seharusnya saya bisa menentukan kapan saya harus menarik diri lagi dan menghilang.

Setidaknya saya kemudian bisa memutuskan untuk menarik diri. Menghilang. Menghiraukan saja entah kalimat apa yang ia katakan selanjutnya. Saya memang belum bisa mengatakan bahwa saya bahagia. Tapi saya akan bahagia. Bila perlu, saya akan buat sendiri kebahagiaan dengan cara saya. Mengenai ia yang kini bersama saya. Biar saja jika ia memang tidak punya niat baik itu untuk saya. Setidaknya bukan saya yang berdosa dengan menyakiti saya.

Saya sudah menyerah. Memilih untuk bertahan. Mencoba menikmati kebaikannya sambil berharap semua itu tulus. Ini sulit. Tapi saya akan beusaha. Menciptakan kebahagiaan saya dengan cara saya. Karena saya tahu tidak ada yang bisa membuat saya bahagia selain saya sendiri.

Tidak juga kamu.




Bila perlu, saya akan pegang dengan erat kebahagiaan itu hingga ia meronta.
Ya. Saya sedang egois. Kenapa memangnya?

Foto dari sini

Senin, 30 Januari 2012

Bukan marah, tapi sakit

Perasaanku pada waktu itu
Foto dari sini


Bagaimanapun aku mencoba mengerti, tetap saja kata itu terasa menggelayut begitu saja di kepalaku. Mencoba mengerti bahwa kau begitu saja tiba-tiba ingin kembali menjalin hubungan dengannya, yang nyata-nyata waktu dulu itu kau tunjukan bahwa diputuskan hubungan pertemanan dengannya setelah hubungan asmara kalian selesai adalah bukan masalah bagimu, ternyata sulit kuterima. Masalahnya adalah kenapa dengan alasan bahwa ia adalah teman adikmu, maka kau yang harus memulai hubungan pertemanan itu?

Aku bukannya tidak mengerti bagaimana mulianya menjalin silaturahmi itu, yang aku tidak mengerti adalah ketidak konsistensi alasan yang kau gunakan. Dan juga, bagaimana mungkin kau begitu saja menggunakan alasan yang begitu tidak mampu kuterima? Juga mengapa kau yang harus mulai menghubunginya? Apa mungkin, begitu kalian telah berteman, lalu kau juga yang akan memulai percakapan itu? Entah mengiriminya pesan lebih dulu atau bahkan memberitahu hal yang tidak masuk akal lainnya yang sengaja kau buat untuk memperpanjang percakapan.

Kuberitahu saja argumenku, temanmu itu tak akan begitu saja melemparkan lelucon seperti itu jika sebelumnya tidak pernah ada lelucon 'pancingan' darimu mengenai masa lalumu itu, juga mengenai hubunganmu denganku. Jika ingin merajut kisahmu yang tidak bisa dilanjutkan pada masa lalu, benar selesaikan dulu denganku. Tapi kan kau bilang bahwa kau mau menyambung yang memang telah tersambung denganku. Lalu kenapa tiba-tiba beralasan demikian rendah?

Kuberitahu juga bagaimana membuat berita yang tidak akan menyakitiku, asalkan bukan kau yang memulai. Itu saja. Aku akan biasa saja mendengar semua ceritamu tentangnya dengan alasan semurah apapun, asalkan bukan kau yang lebih dulu menghubunginya. Tapi kenyataan yang kudapat bukan seperti itu, kan? Kau yang lebih dulu menghubunginya, lalu mungkin kau juga membaikinya agar ia mau menerima hubungan yang ingin kau jalin lagi.

Aku berpikir lama, dan tetap tidak mengerti maksudmu. Maka kau akan melihat emosiku yang tiba-tiba akan naik turun. Tidak akan seperti penderita bipolar, tapi lebih seperti merapi yang perlahan memuntahkan laharnya. Karena aku tetap saja sulit mengerti alasanmu harus memulai semuanya lebih dulu dengannya. Kalau memang ia adikmu, lalu kenapa? Toh saat itu kau tidak merasa perlu menjaga hubungan dibalik asmara yang putus, saat ia menghapus namamu dari daftar pertemanannya. Ia teman adikmu, ya biarkanlah.

Aku memang tidak marah padamu, tapi aku marah karena aku merasakan sakit itu lagi setelah mencoba kembali mempercayai kata-katamu. Nyatanya aku malah menemukan tidak adanya sinkronisasi dari kalimat yang kau berikan padaku dan yang kutemukan tempo hari itu. Aku kan bingung kata mana yang harus kujadikan pegangan untuk kusandarkan hidupku dalam kepercayaan padamu?

Rasanya jika kau tidak mampu memahamiku mengenai keberatanku atas tingkahmu, itu kuanggap mengada-ada saja. Bagaimanapun, kau yang memulai duluan komunikasi itu dengannya. Itu yang kutahu. Dan itu yang membuatku sakit.

Kamis, 26 Januari 2012

Ibu dan hutang

Foto dari sini


Jadi ibu bilang mau jadi TKW. Iya, TKW yang itu, yang kerjanya di luar negeri dan kebanyakkan jadi pembantu. Adik saya yang paling kecil langsung bereaksi. Ia tegas-tegas mengatakan tidak dengan suara cukup kencang. Saya hanya diam saja. Dalam hati bertanya-tanya: ada apa lagi ini?

Lalu ibu mulai beberapa kali dengan wajah dibuat biasa saja mengatakan bahwa ibu banyak hutang. Saya masih diam sementara adik saya yang paling kecil masih terus melancarkan protesnya.

Ibu memang tidak bekerja. Tapi sudah cukup lama ibu membantu mengurusi koperasi sebagai bendahara. Dan uang koperasi itu beberapa kali diputar ibu dengan dipinjamkan kepada yang membutuhkan. Namun beberapa kali ibu sempat tertipu karena peminjam yang nakal tak jarang tidak dapat mengembalikan uang pinjaman dan kabur entah kemana. Sehingga yang terjadi adalah ibu yang harus menanggung biaya si peminjam.

Beberapa kali ibu bilang mau berhenti jadi bendahara koperasi karena resiko posisinya itu memang bukan sembarangan. Saya sendiri sudah pernah mengingatkan ibu mengenai hal ini. Tapi rupanya sampai sekarang masih juga bertahan.

Tempo hari ibu sampai panik karena hampir kehilangan uang puluhan juta karena peminjam tidak jelas keberadaannya dimana. Saya cuma bisa diam karena bicara pun percuma. Saya tahu ibu pasti tidak akan mendengarkan saya.

Saya tahu maksud ibu bertahan di posisinya. Pekerjaan suaminya yang hanya memiliki bengkel kecil-kecilan mungkin kurang untuk biaya sehari-hari. Tapi saya rasa, jika saja saudara-saudara suaminya itu cukup tahu diri dan bisa berhenti merepotkan ibu dengan meminjam uang dan berbagai keperluan lainnya, ibu tidak perlu bekerja sampai seperti itu.

Bagaimanapun, menolong memang baik. Tapi banyak saudara suaminya ibu yang tidak tahu diri dengan terus merongrong ibu yang kadangkala tidak bisa begitu saja tutup mata terhadap raungan saudara suaminya. Jadilah ibu yang kesusahan. Dan saudara suaminya itu banyak yang tidak tahu kesusahan ibu. Padahal suadara suaminya itu ada yang hidupnya melimpah kekayaan, tapi saya belum pernah mendengar bila mereka kesusahan tidak lari pada ibu.

Kadang gemas sendiri melihat ibu yang jadi kerepotan karena harus memikirkan hidup orang lain meski itu saudara sendiri. Saya juga tidak mengerti pola pikir saudara suaminya itu. Bagaimana mungkin terus lari kepada ibu setiap kali ada masalah tanpa pernah sekalipun merasa bersalah telah menerima bantuan terus-menerus? Padahal mereka sudah berkeluarga, sudah juga memiliki anak dan cucu.

Jadi, ketika tadi ibu bilang lagi bahwa ia punya banyak hutang. Saya hanya bisa diam. Karena pendapat apapun yang saya keluarkan menjadi percuma saja. Lagipula saya juga masih berusaha melunasi hutang ibu yang lain sambil berusaha menata hidup saya yang entah akan jadi apa nantinya.

Jumat, 02 Desember 2011

Kolam kenangan: Ingatan

I'll keep searching.. I will
Foto dapat dari sini



Muncul dalam percikan kolam kenangan saya adalah suasana sederhana didalam sebuah rumah kayu yang besar, dimana banyak terdapat kamar. Lantai rumah itu, antara tanah dan ubin berwarna keabuan yang dingin. Simbah buyut sering menyimpan uang di bawah bantal di salah satu kamar di dalam rumah itu. 

Kolam kenangan saya menunjukkan bagaimana simbah buyut seringkali mengijinkan saya mengambil sendiri simpanan uang yang disimpannya itu. Sebuah langgar kecil disamping rumah yang selalu digunakan oleh simbah buyut kakung untuk beribadah. 

Senin, 14 November 2011

Merindu

Saya merindu. Mungkin akan ada banyak tulisan mengenai rindu yang saya rasakan nanti. Perasaan ini, seperti menyelam kembali ke dalam kolam kenangan saya yang lama. 

Mengenai seseorang, ataupun orang-orang yang saya  rindukan. Mereka yang sempat sekilas hadir dalam kehidupan saya, yang masih hadir walau hanya sekelebat bayangan dalam angan, yang meninggalkan titik pada ingatan saya yang tak mampu saya hapus.
 
Mereka, seseorang, maupun orang-orang yang mampu membuat hari-hari saya terasa begitu menyedihkan ketika merindu.

Akan ada banyak objek yang tersebut. Mungkin juga sekedar sosok, bahkan nama. Saya perlu mendalami satu-persatu kolam kenangan saya. Menyelami perlahan mereka-mereka yang berputar-putar dalam ingatan saya beberapa hari ini.

Tentang merindu ini, saya mungkin termasuk yang paling tidak beruntung dalam menggapainya. Bahkan ketika saya paksakan untuk menjemput rindu pun, seperti habis batas waktu yang tersedia. Seringkali saya masih merasa haus. Masih terus merindu.

Rasanya dahaga terus saja menggelayut manja di tenggorokkan. Menyisakan perih saat menelan.  Merindu kali ini, rasanya terlalu sakit.

Source

Selasa, 08 November 2011

Jangan paksa aku!

Ketahuilah bahwa, aku datang, bukan berarti aku telah melupakan semua hal yang menyakitkan itu. Ketahuilah pula, aku pun tengah berusaha melupakan. Jangan khawatir mengenai maaf itu, kalian tak usah merepotkan pikiran kalian, karena aku pun tidak mau merepotkan diri sendiri dengan menyimpan dendam. Tapi untuk lupa, tolong ajari aku. Karena cara lama yang kugunakan untuk tidak mengingatnya, malah semakin membuatku semakin erat pada ingatan itu.

Bila mungkin, apa sebaiknya aku membuat diriku agar hilang ingatan? Melupakan semua yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukannya? Sepertinya itu dapat membuat kalian semua senang. Agar aku bisa menjadi aku yang kalian harapkan. Ibu akan senang karena merasa anaknya telah kembali seperti yang beliau kenal, kau akan senang karena telah mendapatkan aku sesuai maumu, bahkan simbah tak perlu repot meyakinkanku bahwa beliau sudah begitu cocok dengan karaktermu, juga adik-adikku yang akan tersenyum girang dan leluasa bergaul denganmu. Tapi maaf, aku belum seberuntung itu untuk mendapatkan anugerah itu. Aku. Belum bisa. Lupa


Ah, sepertinya aku kembali menyeracau. Topik pada tulisan kali ini seharusnya bukan tentangmu, tapi selalu kau yang terlibat. Entah kapan, tapi ketika kau suatu saat membaca tulisan ini mungkin akan timbul kesal lagi padaku. Atau mungkin kau akan mengirimkan mentah-mentah tulisan ini pada orang yang kau kehendaki. Oops, maaf aku menceracau lagi.

Tulisan ini mungkin biasa, seperti keluhan biasa, atau gerutuan. Tapi untukku, ini adalah bagian dari diriku yang tak mampu kujelaskan dalam bentuk kalimat dalam nada suaraku sendiri. Aku akan menangis sebelum sampai pada apa yang ingin kusampaikan, bila kalian memaksaku mengutarakan alasanku mencoba menghindarinya sebisa mungkin. Jadi.. Jangan paksa aku untuk melupakan! Karena aku tidak sehebat itu untuk memiliki hati seluas yang kalian harapkan. Kalian bukan aku, jadi kalian tidak bisa menempatkan diri di posisiku dan menjadi sok tau. Tidak akan mungkin semudah itu aku melupakan perilakunya terhadapku. Tidak untuk saat ini, atau entah sampai kapan.

Source

Senin, 31 Oktober 2011

Mengenai itu..

Mengenai hatiku
Source

 
Dan bahwasanya membuat orang lain percaya itu tidak mudah, benar adanya. Pernah kukatakan padamu, dalam ruang bernama ‘berbagi’, bahwa untuk membuatku percaya, kau harus lakukan itu lebih dulu padaku. Sedang setiap kalimat manis yang kau ucap kemudian kutemukan jejak yang berakhir pada ketidakmampuanmu menjaga mulutmu agar sesuai dengan langkahmu. 

Kau. Kemudian belum lagi aku sempat membuat kokoh bangunan yang hendak kupaksakan untuk berdiri, kembali meluruh. Ruang itu kembali lembab, sembab oleh kekecewaan. Kau. Yang untuk kesekian kalinya membuatku takut. Bahkan untuk sekedar mengamankan pikiranku dari segala macam tanya yang tak mampu kau tahan untuk dapat muncul dalam kepalamu.


Pernah kau tebarkan dengan manis dan penuh janjia mengenai pribadiku yang akan kau jaga, utuh. Namun kutemukan berserakan bekas dari pribadiku yang kau jaga itu, pada orang lain. Bukan satu. Bukan dua. Bukan juga tiga. Kau. Meninggalkan berbagai jejak mengenai pribadiku yang seharusnya kau jaga rapat dalam ruang pikiranmu dan keteguhan hatimu sebagai pria dalam kehidupanku, begitu mudahnya. Kau. Lagi-lagi hanya meninggalkan ruang gelap dalam sudut hatiku. Ketakutanku.

Aku menghargaimu, sebagai sosok yang kini ada dalam kehidupanku. Berusaha berlaku semampuku menerima reruntuhan puing yang telah kau dan orang-orang yang menyayangimu telah perlahan bobol. Tembok keangkuhan yang kau bilang itu, tembokku, yang telah perlahan-lahan kau paksa untuk kau lubangi hanya untuk menciptakan sebuah pintu untukmu masuk. Atas nama kepercayaan. Aku yang tak pernah hirau akan hiruk pikuk yang kau ributkan dibelakangku, harus begitu membelalakkan mata akan apa yang akhirnya terbentang di depanku. Bahwa lidah selamanya akan menjadi senjata paling mematikan bagi manusia. 

Begitu akhirnya serta merta garam yang telah kau tebarkan itu, bersama dengan wanita tersayangku, atas nama sayang, coba untuk kau lupakan? Lalu  bagaimana dengan taburan garam yang terlanjur menyatu dengan air laut itu? Siapa yang dapat memisahkan butiran garam yang telah melarut menjadi satu dengan cairan asin maha luas itu? Tuhan? Aku tidak membela siapapun, tidak pun diriku sendiri. 

Aku salah. Dan kuakui Mengakui. Namun untuk garam yang sudah terlanjur tertabur, untuk pribadiku yang sudah terlanjur kau sebar begitu mudahnya, siapa yang akan bertanggung jawab untuk derita yang terasa? Untuk hati yang terlanjur terluka? Jika memang itu yang kau butuhkan untuk menyetarakan sakit yang kuakibatkan untukmu, maaf, rasanya terlalu jauh untuk disetarakan. Aku bersalah. Namun bukan garam yang ku tebar, aku hanya menancapkan sebilah pisau tepat dihatimu, dan tidak menarik deretan pisau itu menjadi sebuah luka yang menganga dimana setiap orang dapat menaburkan perasan lemon untuk menambahkan sakitnya. Aku cukup tahu diri. Dan menutup mulutku untuk tidak menyebarkan garam kemanapun, bahkan kepangkuan kaki yang mampu membukakan pintu surge untukku. Ibuku.

Kini, kau tahu semua. Kau tahu apa yang kubuat kepadanya dalam bias makna bahwa aku memutuskan mengalihkan padangan hanya padamu. Membiarkannya menelan luka yang sempat menguak karenaku. Membuatnya menahan kembali sakit yang entah kapan akan mendapat penawarnya. Membiarkannya melebur dalam berbagai macam pikiran, bahwa aku memperlakukanmu lebih baik darinya yang remuk redam dalam gelapnya.
Kini, kau, yang kau sebut penoreh luka itu telah kuusir jauh. Kubiarkan larut dalam pikirannya membenciku. Kubiarkan siksa itu ikut meleburku, dalam keterseokannya menatapi satu persatu jejakku yang perlahan mengabur, lalu menghilang. Membiarkannya membangkitkan dirinya sendiri kembali, menariki setiap kenangan yang telah terlampui menyita seluruh benaknya. Tentangku, dan kau.

Kubiarkan pikirannya melayang membayangkan betapa aku memilihmu, senantiasa menebarkan senyum kepada siapapun, memamerkan tembok luka yang dengan paksa kutambal senyum. Senyum yang akan terlihat begitu berbeda. Yang mampu kau baca bahkan dengan mata telanjangmu.
Aku  bersamamu. Berada disampingmu. Bahkan mencoba membangun kembali tembok kepercayaan yang perlahan kau bolongi. Mencoba membuat sendiri tambalan untuk mengisi tiap kosong itu. Mencoba. Hal yang bahkan akan kau perlakukan luar biasa seolah aku adalah seorang murtad yang yang kemudian insyaf. Yang harusnya menangis meraung menciumi kaki bumi, bahkan demi mendapatkan surga. Aku. Yang kau sebut ego itu, yang semestinya mampu kau jaga dalam nama kasih yang serta merta kau bisikkan di telingaku tiap saat itu, begitu ketakutan. 

Aku meringkih. Bergetar karena sakit yang ku coba tahan. Berusaha membersihkan perih dalam balutan air mata. Bahkan untuk setiap tangis yang tak mampu meluruh melalui manik mataku. Bukan saatnya menangis. Aku tak punya waktu untuk menangis. Bahkan untuk perasaanku yang kau tahu tak sepenuhnya untukmu. 

Hati ini. Mungkin untukmu. Juga untuknya. Sedang sisanya telah kubagi untuk sepasang kaki yang mampu membukakan pintu surga untukku. Sepasang kaki yang entah kapan akan mengerti, bahwa yang kubutuhkan hanyalah berdiri disampingku, bukan untuk menunjukkan jalan padaku, bukan untuk menuntunku menemukan jalanku, bukan juga untuk memberitahuku apa yang harus kulakukan. Tapi sepasang kaki yang mampu ada tuk senantiasa terus mendampingi dalam setiap keterpurukan dan kekalutanku. Sepasang kaki yang mampu membantuku berdiri dalam setiap kali terperosok, dan tersenyum. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja, lalu tersenyum. Itu saja. Tidak lebih.
Lalu bila aku telah membiarkan diriku menghapus separuh hati yang kau tahu taka da dirimu disana, akan mulai kau menunjukkan sebuah alat tulis untukku menuliskan namamu di dalam ruang hatiku yang separuh itu. Akan mulai kau mendengungkan perlahan-lahan setiap rencanamu, keinginanmu, kebutuhanmu, dan apapun yang mampu kau buat untukku agar seperti pandanganmu akan seorang wanita yang mampu mengisi kehidupanmu.

Lalu jika kau masih dapat membiarkan hati dari masa lalumu untuk terus mengintip kehidupanmu, beberapa saat bertegur sapa, berbagi berbagai cerita, mengapa aku harus membuang separuh hati yang tak ada kau didalamnya? Karena ia adalah kesalahan yang kuseret untuk ikut hadir dalam hidupmu, yang membuatmu tak mampu memiliki hatiku seutuhnya? Cobalah sedikit, sejenak, kau intip bayanganmu, perlahan meratapi setiap detail bayangan pada cermin itu. Yang sosoknya sangat amat mirip denganmu, adakah gurat kesalahan disana? Ataukah wajah itu begitu mulusnya tanpa cela? 

Aku. Membiarkannya menelan semua amarahku terhadapmu. Begitu sama halnya aku membuatmu menelan semua amarahku terhadapnya. Lalu kalian akan melampiaskan kesal satu sama lain padaku. Membiarkanku menerima semua hantaman kesal tanpa dapat kupantulkan kembali. Karena aku salah. Aku yang memulai. Aku yang dengan sengaja menempatkan hatiku dalam lumpur salah. Hatiku, tak pernah salah. Akulah, yang kebetulan memilikinya untuk sementara, yang salah. Aku tak terkontrol. Kau. Dan juga kamu. Terseret oleh ego yang kubangun. Kubiarkan terluka oleh ketidakmampuanku mengontrol hatiku.

Saat ku biarkan diriku dibenci olehmu, membuatmu kembali terluka, terjerambab dalam lubang yang sama. Kehilangan arah. Masa depan yang menggelap. Aku. Tersuruk dalam sudut dimana tak mampu bangkit membela diri. Terlalu banyak yang kubiarkan terluka. Terlalu banyak yang kubiarkan menggelepar dalam benak penuh tanda tanya. Aku. Yang bersalah.
Maka, jika akhirnya kau menuntutku untuk menjadi maumu, memaksaku melupakan separuh hati yang tak mampu kau miliki, aku minta maaf. Bahkan untuk rentang waktu yang tak mampu ku perkirakan, separuh hati ini mungkin akan selalu miliknya. 

Dan bila kau memang benar memiliki hati itu sepenuhnya untukku, aku tak akan meminta apapun. Aku berterima kasih. Kau yang selalu menempatkan diriku teristimewa lewat kalimat yang kau ucap. Kau yang telah berusaha maksimal demi menciptakan masa depan bahagia. Kau yang telah menerjang berbagai anggapan mengenai pribadiku, dengan begitu tegarnya. Saat nanti kau tak mampu lagi melihatku dengan separuh hati ini, dimana masa depan yang kau impikan itu tidak dapat berjalan sebagaimana kau harapkan, aku mungkin hanya bisa menahan tangis. Mungkin suatu saat, meskipun aku hanya menyediakan separuh hatiku padamu, saat kau akhirnya tak ada, aku akan merindukanmu. Pun, bila saat ini aku memutuskan untuk mencoba bersamamu, kau pun akan kehilangan sabar itu untuk menghadapiku. Demikian seperti contoh yang kau ingin berikan padaku, saat kalimatmu tak mampu kau bawa bersamaan dengan langkahmu. Kau kembali akan kehilangan kepercayaanku. Dan aku hanya akan terperosok dalam lubang yang sama, dalam tangis tertahan. Tanpa mampu menyesali.

Dan bila kamu, yang kubiarkan terluka sendirian disana akhirnya membenciku. Aku terima. Aku minta maaf telah membiarkanmu terbuang, terluka, tanpa sempat mendengar sedikitpun gema dari suaraku. Aku. Yang bersalah telah menjadikanmu demikian rela berjuang demi kebahagiaan. Impianmu. Impianku. Bagaimana kamu, yang telah demikian berjuang demi aku. Bagaimana kamu, yang demikian menetapkan hati, untukku. Kamu. Yang pada akhirnya hanya dapat menelan perih melalui hatimu yang telah kucabik. Kusakiti. Bahkan untuk sekedar tegur sapa selayak kita pertama bertemu. Persahabatan.
Aku. Kau. Kamu. Bahkan tak akan dapat menemukan satu nama untuk menggambarkan lingkaran yang mengikat kita. Tak ada persahabatan. Tak ada hati. Kau yang tak mungkin mampu mengubur benci. Kamu yang tak mungkin mengubur benci. Dan aku, yang terjebak didalam permainan hati. Aku yang bersalah. Menyakiti, lalu lari tak bertanggung jawab. Bahkan untuk sekedar menjaga hubungan persahabatan yang mengawali kesadaran akan perasaan. Aku. Yang begitu jahat. Yang tak mampu menggambarkan sebuah garis batas bahkan untuk sekedar memberi pengertian bahwa aku mungkin akan melepasmu, dan menelan diri dalam dilemma, keluargamu, keluargaku, lingkunganmu, lingkunganku. Aku. Dan kau. Bukan aku. Dan kamu. Pernah bila aku melihat kalimat indahmu, bahwasanya karena kau mencintaiku, maka kau akan mencontohkan yang baik untukku, agar kelak kau mampu menjadikanku lebih baik menurut agama, bukan menurut pikiranmu. Aku ingin lihat. Bahkan bila kau tetap bersikeras menolak kehadirannya yang kupaksakan untuk bernaung dibawah sebutan sahabat, dalam kehidupanmu yang didalamnya termasuk kehidupanku. 

Jadi begitulah ratapan yang ingin kusampaikan. Terlepas apakah kau, atau kamu, akan mungkin membaca. Mengetahui bahwa aku membagi hatiku, bahkan tanpa sadar tidak memiliki ruang untuk diriku sendiri. Aku. Yang tertelan dilemma. Dalam ketakutan yang kau perlahan patri. Dalam sayang yang terbentuk dari separuh hatiku. Aku. Yang tersekat kata. Dalam ketakutan akan kehilangan. Bahkan untuk menyebutmu sahabat. Bahkan untuk sekedar bersapa, dalam balut basa-basi belaka. Dalam kepedulian atas nama sahabat. Yang tak akan pernah dapat kau terima. Aku. Kamu. Akan selamanya terjebak dalam pikiran yang kau buat sendiri. Dan tak mampu kubantah. Tak mampu. Karena ketidakmampuanku. Yang membuatmu terlalu banyak berkorban untukku. Aku pantas jika akhirnya kamu membenciku. Jikapun akhirnya awal yang baik itu berakhir dengan buruk, semua salahku. Bencilah aku, tak akan ku sanggah. Aku yang bersalah. 

Aku yang melemah, merapuh, dan meringkih dalam gempuran mereka yang menyayangiku. Dalam naungan kalimat manis dan sikap yang masih kucoba cerna. Aku yang bingung dan kehilangan sorot lampu itu. Tak mampu melihat, sulit mendengar, bahkan setiap kata yang kini tercekat dalam tenggorokkan dan tak mampu kusampaikan. Aku. Yang kini meminta belas kasihan kalian yang menyayangiku. Tunjukkanlah padaku, kalimat yang sejalan dengan langkah. Bayangan yang serupa dengan siluet. Bahkan tapak yang simetris dengan kaki. Aku. Yang menunggu. Dalam sudut diam nan buram. Meraba. Masa depan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Saat simbah sakit

Cepat sembuh ya mbah! :*
Source

Simbah saya sakit. Minggu pagi saya dikejutkan dengan rentetan missed call dan sms pada telepon genggam saya yang berisi tentang kondisi mbah yang kurang baik. Saya, yang saat itu masih setengah sadar langsung terlonjak kaget dan berangkat menemui simbah. 


Kondisinya memang tidak baik. Saya harus berusaha keras menyembunyikan tangis saya. Beberapa kali saya harus menghindari tatapan mata saya dan simbah. Entah, saya merasa akan begitu cengeng bila terus menatap simbah. Saya begitu menyayanginya. Melihatnya dalam keadaan seperti itu rasanya membuat saya takut dan sedih. Rasanya tidak ingin melihatnya harus menahan sakit.

Saya sempat limbung, tapi tidak boleh menunjukkan kondisi saya yang juga melemah. Melihatnya seperti itu membuat saya ikut sakit dan lemas. Saat itu saya hanya dapat menahan air mata saya agar tidak jatuh. Bukan waktunya untuk menangis. Jadi saya hanya dapat menghibur simbah. Mengoleskan krim pereda nyeri pada kakinya. Simbah saya, terlihat begitu lemah saat itu.
___________

Kemarin saya menghubungi simbah dan menanyakkan kabarnya. Walau adik saya sudah memberikan informasi mengenai kesehatan simbah, saya juga ingin mendengar suara beliau. Gula darah beliau melonjak begitu tinggi sehingga mempengaruhi kondisi nya. Sepertinya simbah memang harus kembali ke rumah agar lebih bisa terkontrol kondisi kesehatannya.

Senin, 22 Agustus 2011

Trust

Ingat lambang ini?
Source


Kamu tahu dengan pasti bagaimana perasaanku padamu

Promises made and broken
Hopes raised and then dashed
Sweet words have been spoken
But My Darling, is this the time promises last?
(P.M Montgomery)

Aku sengaja mencari tulisan itu untuk postingan kali ini. Karena otakku terlalu tumpul untuk merangkai kata-kata ku sendiri. Maaf, tapi aku terlalu kalut untuk mencari tahu dimana letak salah dalam perlakuanku padamu.

Up and down, round and round,
Our lives have been wild,
Oft times it's been like a carnival ride.
But through it all, there has been one constant thing,
Without you, my world is not worth living.
(P.M Montgomery)

Jo, ku..
Jo, ku yang dulu. Aku yang terlalu tenggelam dalam kharisma yang tanpa sengaja menerangi perjalanan hidupku. Aku yang terpesona oleh begitu banyak peluh yang terjatuh untukku. Aku yang terlanjur mencandu mu. Kamu yang dulu.
Jo, ku..

Now, I choose to believe once again.
I place my heart in your hands.
Don't break it. It's fragile;
Held together by hope and a dream.
(P.M Montgomery)

Haruskah kutanam lagi kepercayaan itu padamu? Bagaimana bila kembali rusak? Darimana harus aku mengulang? Aku bahkan tidak tahu bagian mana yang rusak atau rapuh. Ini adalah kepercayaan yang aku bahas, kepercayaan yang pernah tertuang dalam tulisanmu yang lalu. Kepercayaan yang kamu tawarkan untuk aku sampirkan di punggungmu, yang menjadi pegangan kesukaanku.

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
(Robert Frost)

Aku..  entah harus menyebut apalagi untuk ungkapkan yang kurasa. Memaafkan, dan melupakan. Tolong ajari aku caranya. Karena sepertinya aku kesulitan melakukan keduanya. Perjuangkan perasaan itu.. apakah harus dengan melalui jalan seperti ini?


Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I-
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference
(Robert Frost)

Jumat, 19 Agustus 2011

Bosan dan sepi

Source

“Bosan, sepi, tak ada hiburan”


*******



Aku tenggelam dalam tangis. Semalam. Membaca semua pengakuanmu. Pengakuan yang harus kupaksakan untuk kamu keluarkan. Tak sangka butuh satu hari untuk memaksamu berkata yang sebenarnya. Segitu beratnya untukmu mengakui apa yang kau perbuat dibelakangku. Jadi kapan saat kalian merencanakan semua perjanjian dan melakukan pembicaraan itu? Saat kamu sedang bermasalah denganku? Saat kita tengah bertengkar kah? Mungkin ini jawaban yang lebih masuk akal: Saat aku meninggalkanmu merasakan sepi, sendiri? 


Mudah ya ternyata untukmu mencari teman pengusir sepi dan bosanmu. Aku ingin tahu, apa sempat terbersit sedikit saja kamu pikirkan aku sedang apa saat kamu merasa sepi dan bosan sendiri? Saat kamu dan wanita berbaju merahmu itu tengah melakukan pembicaraan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang selama ini kita perjuangkan? Pernah sedikit saja kamu berfikir apa yang akan bercokol di benakku saat kamu dan wanita berbaju merahmu itu merencakanan janji untuk mengusir sepi dan bosanmu? Pernahkah?

Lalu aku menuliskan dalam rangkaian kalimat mengenai mimpi buruk yang kualami malam setelah membaca semua isi pesan yang kamu dan wanita berbaju merahmu lakukan, dan kamu mengatakan bahwa aku tengah menyebar fitnah. Aku menulis. Apa yang kurasakan. Menceritakan mengenai mimpi buruk yang menghampiri tidurku malam itu. Mimpi mengenaimu yang akhirnya memutuskan meninggalkanku. Mematahkan setiap kalimat pembelaan yang sempat kujadikan tameng untuk memjaga nama baikmu di depan wanita paling berarti dalam hidupku. Dinding penjagaanku runtuh. Malam tadi. Aku tenggelam dalam tangis. Terisak seorang diri didalam dingin kamar segi empat tempatku bertahan hidup. Sendiri. Mencoba menghapus setiap kalimat yang terbaca pada media elektronik itu. Kalimat pengakuan yang akhirnya terlontar.

Aku mencoba mengerti setiap barisan kalimat yang kamu kirimkan melalui teks itu. Sempat terfikir untuk menjalin kembali pertemuan, bertukar cerita, membunuh sepi dan bosanmu. Paling tidak aku paham satu hal: kamu sempat memikirkan untuk menjalin itu dengannya, berniat untuk melakukan kegiatan membunuh bosan dan sepi itu dengannya, dan mengesampingkan aku yang berada entah dimana. Kamu tidak memikirkan perasaanku. Kita bertengkar, kamu kesepian, dan itu menjadi alas an untukmu menjalin kembali komunikasi itu. Wanita berbaju merah yang kamu katakana hanya sekedar ingin bermain – main denganmu. Lalu apa kamu juga hanya sekedar bermain – main dengannya? Apa kamu hendak mengatakan bahwa kamu pun hanya butuh teman untuk mengusir sepi dan bosan? Dan hanya ada dia yang kami ijinkan untuk melakukan kegiatan bunuh bosan dan sepimu itu? Maaf, aku masih tidak mengerti mengapa sampai terlintas dalam kepalamu bahwa hanya wanita berbaju merahmu itu yang mampu menutupi bosan dan sepimu, yang mampu memberimu penghiburan atas derita bosan dan sepi mu.

Kalian tidak bertemu sungguhan, itu pengakuanmu. Dan aku percaya. Entah bagaimana aku percaya. Aku selalu percaya padamu. Pada setiap ucapanmu, pada setiap kalimatmu, pada setiap apapun yang kamu kemukakan untuk meyakinkanku. Tidak ada yang perlu aku cemburui dari wanita berbaju merahmu itu, katamu. Kamu itu juga menempatkan perasaan yang sama seperti yang kamu rasakan terhadapku untuknya, aku bagaimana mungkin tidak boleh menempatkan cemburuku padanya? Katakan bagaimana aku harus menanggapi semua kalimatmu mengenai wanita lain yang menempati tempat yang sama dihatimu seperti aku menempati hatimu itu? Bagaiama? Ajari aku bagaimana harus bersikap pada wanita lain yang kamu jadikan teman untuk membunuh sepi dan bosanmu saat aku tak dapat berikan untukmu? Karena aku sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana meredam panas yang membakar dadaku ini.





*******

“Kalian mirip.”
“Mirip gimana?”
“Nggak tau, tapi entah gimana, kalian mirip”
Aku ingat kalimat yang sempat aku lontakan saat aku pertama kali akhirnya bertemu dengan wanita berbaju merah itu.




_________
Tulisan ini seharusnya ku posting satu hari setelah pengakuanmu itu. Tapi aku terlalu larut dalam kesedihan. Maaf, aku hanya utarakan, tidak perlu menganggap aku tengah melemparkan fitnah padamu.

Selasa, 16 Agustus 2011

Bad dream

Source

 Teks itu begitu nyata terbaca. Seakan – akan aku tidak perlu membedakan mana nyata mana fana. Alam bawah sadarku mungkin sudah begitu kuatnya menarik diriku kedalam mimpi buruk itu. Saat kamu kirimkan rangkaian kalimat keputusan untuk meninggalkanku. Hanya sebatas teks, disampaikan oleh alat komunikasi canggih yang marak dimana – mana. Rentetan kalimat yang mencabik sampai ke rongga hati, menghempaskan semua harapan yang sempat susah payah kubangun dan perjuangkan.
Ya.
Didalam barisan tulisan itu kamu nyatakan keberatanmu. Semua yang kamu simpan selama ini saat mulutmu merangkai kata mengangkatku tinggi ke awang – awang. Aku hanya sebatas gadis naïf, lugu dan paling mudah termanipulasi. Yang selanjutnya berubah menjadi seseorang yang terlalu banyak mengganggu keseharianmu. Menyita begitu banyak pikiranmu. Dan melelahkanmu. Membuatmu muak. 
Kamu meninggalkanku.
Bahkan saat mataku akhirnya terbuka pun, masih sulit rasanya membayangkan bahwa itu mimpi. Terlalu nyata. Dan menyakitkan.

*******

Mungkin inilah akhir dari yang kuperjuangkan, bisikku lirih.
Aku memeluk diriku sendiri. Mencoba menenangkan dinding hatiku  yang meruntuh.

Senin, 15 Agustus 2011

How it feels to keep a heart.. alone?

You may not know
Source

Seharian ini tak ada kamu.
Sepi..
Bahkan ceracau pertengkaran pun tak ada.
Kamu itu, kenapa begitu menyebalkannya sampai tidak mau menerima handphone mu sendiri. Itu bukan barang milikku yang ku beli, itu barang milikmu yang kamu beli dengan uang hasil kerjamu. Seenaknya saja kamu lempar ke jalan dan berikan padaku.
Kamu pun akhirnya mengakui satu – satunya alat yang dapat menghubungkan kita hanya benda itu. Sulitnya membuatmu mengerti.
Tidak. Aku bukan rindu padamu.
Entah apa namanya. Tapi memang sepi. Karena satu – satunya orang yang kuajak bertukar cerita untuk menemani rutinitas kerja yang membosankan ini hanya kamu. Beda mungkin denganmu yang setiap saat selalu dibutuhkan oleh banyak orang. Akan ada siapa saja yang menghubungimu dengan bermacam topik menarik, urusan kantor, ajakan berkumpul, sebatas broadcast message nggak penting, atau sekedar bbm berisi sedikit rayuan dari para pengagummu di luar sana. Atau mungkin dia, your lady in red. Dia mungkin sedang bertanya – tanya di ujung sana kenapa kamu tidak membalas sms nya sejak jumat malam itu, atau sabtu pagi. Ah, perkiraan waktuku sepertinya sudah mulai melemah sejak pertengkaran hebat lalu. Nantilah kamu sendiri yang baca, kamu pasti bisa mengira – ngira kapan lady in red mu itu mengirimimu kabar yang membuatku makin menumpuk kekesalan padamu.
Maaf, aku bukan cemburu. Mungkin sedikit. Tapi lebih kepada rasa terdustai. Sudah kukatakan sebelumnya betapa kamu adalah makhluk bebas yang tidak terikat pada apapun sehingga mempunyai hak istimewa untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Tapi kamu sendiri yang janji padaku untuk menjaga perasaanmu. Atau janji itu sedemikian semakin tersingkir hanya karena sepi. Kalau memang demikian alasanmu, maaf.. tidak berlaku untukku. Karena aku masih menjaga perasaan itu walau luluh lantak hatiku dengan kondisi saat ini.
Aku terluka.
Bukan fisik. Bukan tangan yang kamu tarik – tarik di depan umum itu. Bukan pula lengan yang ngilu karena tergesek bahan jaket yang kamu tarik – tarik demi menahan langkah kakiku.
Ini hatiku.
Yang luka.
Dan kamu melakukannya dengan mudahnya. Beralaskan sepi.
Akupun butuh teman. Tapi dapat kuredam sepi itu saat kamu tak ada. Atau hanya aku yang selama ini selalu menjadi penjaga hati itu?
Entah. Kamu tahu jawabannya?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...