Tampilkan postingan dengan label Time machine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Time machine. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 April 2012

For one day

"One day.. you'll forget me."
"Kenapa?"
"It's just a feeling. One day.. I just feel i'll lose you."

...




Kau tahu bahwa hal itu perlahan menjadi kenyataan bukan, mister? Nyata-nyatanya aku memang membuatmu kehilanganku. Bahkan sebelum tali itu kau ikat erat pada takdirku. Aku pernah membayangkannya, dulu. Ketika impian memenuhi pikiran remajaku. Saat itu aku harus terbata menimpali gaya bicaramu yang bercampur baur dengan bahasa para wisatawan asing dari luar negeri. Tapi kau selalu menampilkan wajah teduh dan tatapan pengertian itu setiap kali aku merengut saat gemas mencerna kalimat amburadulmu.

"You don't get it, do you?"

Saat itu aku akan mengangguk saja, lalu berlalu. Memilih untuk melipir dari gebukan jantungku yang semakin menderu. Takut kalau-kalau kau mendengarnya. Aku tahu kau tidak mendengarnya, tapi kau merasakannya. Tapi aku dapat merasakan kau tersenyum dengan senyummu yang khas di belakangku. Mata biru dan bibir tipis itu menatapi langkahku perlahan, sebelum kemudian menghembuskan napas karena gemas. Lalu kau menyusulku. Berjalan menjejeriku.


...

"So.. will you wait for me, then?"
"Buat apa?"
"For one day you'll show that you love me."





Kaget karena kemiripannya, tetapi saya mengagumi Chuck Bass di serial ini :)
Pic from here



_____________
Saya masih tidak juga berani mencintainya karena ia terlalu sempurna di mata saya. Masih saja merasa ia terlalu jauh untuk saya. Masih juga merasa wanita itu adalah yang terbaik untuknya. Lagipula, ia seharusnya juga tahu bahwa saya tak mungkin bersamanya. Ah.. kenangan itu memang kemudian hanyalah kenangan. Entah kenapa tiba-tiba teringat dengannya. Tapi sejujurnya, saya mungkin memang tidak pernah mencintainya. :)

Jumat, 02 Desember 2011

Kolam kenangan: Ingatan

I'll keep searching.. I will
Foto dapat dari sini



Muncul dalam percikan kolam kenangan saya adalah suasana sederhana didalam sebuah rumah kayu yang besar, dimana banyak terdapat kamar. Lantai rumah itu, antara tanah dan ubin berwarna keabuan yang dingin. Simbah buyut sering menyimpan uang di bawah bantal di salah satu kamar di dalam rumah itu. 

Kolam kenangan saya menunjukkan bagaimana simbah buyut seringkali mengijinkan saya mengambil sendiri simpanan uang yang disimpannya itu. Sebuah langgar kecil disamping rumah yang selalu digunakan oleh simbah buyut kakung untuk beribadah. 

Rabu, 16 November 2011

Percakapan yang terlintas

Source
 
“Maksud lo apa mo nikah?”

“Gue udah mutusin, gue aja yang berkorban.”
“Kemana ini arah pembicaraannya?”
“Gue mau nikah sama dia, dan dia ga mau ngalah. Artinya gue yang harus pindah.”
Saya diam mematung. Mencari pembenaran dibalik kalimatnya barusan.
.............



“Kenapa baru kepikiran sekarang?”
“Apanya?”
“Itu, rencana lo. Lo bilang waktu itu nggak akan mungkin tergoda, bahkan sampe kepikiran. Sekarang kenyataannya apa?”
“Cinta mengalahkan segalanya sayang.”
“Termasuk cinta lo sama Tuhan?”
Saya terpekur menatap lantai marmer itu. Pikiran saya kosong.
..................



“Gue udah bilang sama ortunya kalo gue rencana mau nikahin dia itu serius, tapi untuk ikut dia.. Gue masih berat.”
“Terus?”
“Gue harus cari solusi, kan?”
“Ehemmm...?”
“Gue mungkin bisa nyoba bilang sama ortunya untuk ikut dia sementara sampe gue bisa nikahin dia.”
Saya melongo.
..................


“Lo belom pernah jatuh cinta makanya lo ga bisa mikir kayak gue!”
“Lo emosional.”
“Keputusan gue udah mantap kok. Toh Tuhan juga dasarnya kan satu.”
“Terus kenapa lo nangis?”
“Gue kangen keluarga gue.”
“Bukankah lo harusnya udah pikirkan konsekuensinya?”
“Gue cinta dia.”
“Tetep ga bisa ngalahin cinta lo sama keluarga, apalagi Tuhan lo kan?”
“Lo ga tau apa-apa soal cinta, makanya bisa komentar gitu.”
“Mungkin, toh pada dasarnya cinta juga akhirnya cuma satu kan?”
“Maksudnya?”
“Yah, balik lagi ke Tuhan.”
Saya menghela nafas, menatapnya yang kini terpaku.
.................



"Gue kayaknya mau balik lagi kayak dulu."
"Maksudnya?"
"Gue ga begitu ngebayangin bakal seribet ini. Aturannya terlalu ketat, berat. Belom lagi kalo suruh puasa sama sholat. Capek gue harus bangun tiap jam 5."
"Bukannya sebelum lo mutusin, lo udah tau kejadiannya akan gimana?"
"Gue kurang research kali."
"Suami lo gimana?"
"Kalo dia ga terima, ya gue pisah aja. Dulu juga gue pindah kan karena gue mau nikah sama dia. Seharusnya sekarang pas gue udah ikut dia, dia bisa terima apa adanya kalo gue berubah."
Saya mengernyitkan kening. Menatapnya yang tengah mengaduk minumannya dengan santai.



________

Percakapan diatas tidak berjalan demikian seperti yang tertulis, ada beberapa yang saya perbaiki tatanan katanya tanpa mengurangi arti sebenarnya. Maklum, otak saya sedang tidak dapat mengingat dengan baik. Orang-orang di tulisan itu ada yang masih kontak dengan saya sampai sekarang, ada yang entah sudah hilang kemana tak berkabar. Saya hanya berharap mereka bahagia dengan pilihannya. 

Entah kenapa tulisan yang seharusnya saya posting malah jadi tulisan yang ini. Saya hilang mood sejak beberapa waktu lalu. Semua pikiran jadi jungkir balik nggak karuan melintas di kepala. Hadeeehhhh

Jumat, 21 Oktober 2011

Oktober

Source

Dulu, ketika masa depan belum terlihat, sepasang remaja mungkin tidak akan pernah terfikirkan untuk menjalani masa seperti sekarang. Perasaan itu mengalir indah menelusur setiap serat nadi dalam darah. Menghadirkan aroma wangi yang khas. Rona wajah berseri. Tawa canda menghias setiap jengkal sudut raut wajah. Dan binar mata itu masih begitu indahnya bersinar. Namanya cinta. 


Gadis itu begitu mempesona. Senyumnya merekah hadir setiap saat. Tatapan matanya melembut menghanyutkan siapapun yang menatap. Pembawaannya mampu membuat dunia ikut tertawa. Sosoknya yang menjulang semampai membuat siapapun tak akan melewatkan figurnya. Kesukaannya mungkin biasa, tertawa dan menghadirkan empati. Dan merah mungkin warna yang tepat untuknya. Warna yang khas menandakan semangat meletup tak pernah karam. Merah. Mungkin memang nama yang tepat untuknya.

Dan tak heran ada seorang laki-laki yang berjiwa ksatria yang kemudian tertarik padanya. Pesona ksatria ini memang sulit di pandang hanya dengan sebelah mata. Terlihat jelas kemurnian jiwanya dalam sosoknya yang sederhana. Terhampar jelas kelapangan dadanya dalam pembawaannya yang kharismatik. Ksatria ini. Dan cinta si merah.

Singkat cerita, pertemanan itu akhirnya memunculkan perasaan tersendiri. Dan mudah ditebak, ksatria itu yang akhirnya mampu meluluhkan hati si gadis berbaju merah. Indah mengecap naungan bahagia panah cupid selama bertahun-tahun, rupanya belum mampu mengibaratkan kuatnya ikatan yang ada pada mereka. Gadis merah mengecewakan ksatria yang tengah berusaha mewujudkan mimpi masa depan bersama. Gadis merah merayap meninggalkan ksatria melalui lubang pada sudut hatinya. Menghambur ke dalam pelukan pemuda dengan kuda putihnya dalam istana megah.

Ksatria merah terpana, mendapati gadis merahnya pergi. Meninggalkan sobekan besar dalam rajutan benang yang tengah disulam bersama, dalam janji masa depan. Perlahan dalam terseok, ksatria itu menerima kepergian gadis merah. Menyimpan segala luka yang menganga begitu lebarnya rapat-rapat. Sendiri. Meninggalkan semua. Mencari tempat baru dengan harapan baru. Namun ternyata cupid tidak begitu saja mencabut panah yang pernah ditancapkan di hatinya. Sisa panah itu masih menancap tajam membekas di hati ksatria untuk gadis merah itu. Lama dan tak tentu, gadis merah tetap muncul dalam setiap pejam mata. Tak mudah melupakan pesona yang telah menancap bersamaan dengan panah cupid.

Kenangan itu bukan lagi hanya dalam ingatan karena telah menyatu dalam setiap nadi darahnya. Kebersamaan itu bukan lagi hanya menjadi bayangan karena begitu lekat menempel pada setiap sel ingatan. Bulan ini, oktober. Bulan dimana ksatria akan harus berusaha sekuat tenaga untuk menghapus setiap inci bayangan gadis merah yang entah bagaimana akan menatapnya kembali. Atau bahkan bulan untuk kembali menguatkan ingatan akan masa-masa indah, sebelum masa depan itu terbentang nyata dalam semesta pandang.

Oktober tahun ini. Akankah dengan mudah dilewati ksatria, atau bahkan akan menjadi bulan yang selamanya tak akan pernah menjadi buram dalam ingatannya? Bahkan tak kuasa tak menahan ucapan saat tahun lalu dilanda ingatan. Hari besar, hari istimewa. Beruntungnya gadis merah itu. Ksatrianya terlalu setia. Entah bagaimana memberitahunya bahwa ksatrianya senantiasa menanti. Bahkan dalam setiap luka yang sempat ditorehkan olehnya, sang merah. Bulan ini.. Oktober.



***
Bagaimanapun, "Selamat ulang tahun.."

Kamis, 25 Agustus 2011

Another Scratch

Masihkah akan kamu menoleh?
Source



 
I can’t concentrate today.
These all really knock me down.
I don’t know how to handle all this mess alone.
Even when you said you’ll never gonna leave.
The truth is, I made you left.
Something that I would regret one day.

*******


Hi dewa!
 
Apa kabar kamu? Pasti sibuk ya, bukan sibuk mikirin aku kan? Hehehe.. Maaf, candaku bukan pada tempatnya kali ini.
Aku tadi sengaja melewati kantormu saat pulang, berharap bisa melihatmu walau sekilas, tapi kayaknya kamu udah pulang duluan karena aku kemaleman pulang kantornya. Atau mungkin kamu ndak mampir dulu ke kantor, tapi langsung pulang dari tempatmu ditugaskan. 

Gimana pekerjaan hari ini? Tes nya berjalan lancar kan? Maaf aku ndak sempet tanya sama temenku apa itu UAT. Aku abis sakit kemarin, terakhir kita ngobrol di telpon tempo hari dan berakhir dengan saling menyakiti lewat sms itu..kau berhasil memporak-porandakan semuanya. Aku udah bukan cross-twisted lagi, tapi pikiranku malah luluh lantah. Aku nangis lho semalaman sampai mataku bengkak segede bola pingpong. Belum pernah aku nangis seperti malam itu, sampai akhirya aku muntah karena ndak bisa menghentikan aliran kristal bening dari kedua manik mataku. Itu semua salahmu! Hasilnya, aku bolos kerja karena ndak mungkin ke kantor dengan tampang kusut dan mata bengkak seperti kodok. Apalagi kepalaku pusing sekali akibat ndak tidur karena ndak bisa berhenti nangis. Lagi-lagi aku akan menyalahkanmu karena telah membuatku seperti itu. Ya! Semua salahmu!

Kenapa sih kau jahat sekali hari itu? Seharusnya predikat itu kan melekat padaku yang telah meninggalkan bekas tak termaafkan dihatimu, tapi rupanya aku salah kira. Kau bisa lebih membuatku merasakan perih tak tertahankan. 

Aku kalah… 

Untuk itu aku memutuskan untuk menghindarimu. karena rupanya aku terlalu sayang tuk melihatmu menyakiti dirimu sendiri, yang pada akhirnya aku malah menuduhmu melakukan itu untuk memberikan efek lebih menyedihkan untukku. Untuk menyalahkanku karena telah membuatmu melontarkan lelucon yang dengan argumenmu katanya hanya bermaksud untuk kau terima sendiri. Tapi maaf dewa, alasanmu sama sekali ndak bisa kuterima. Sebut aku terlalu sensitif atau bodoh, tapi aku merasakan sakit yang lebih sakit dari yang kau rasa dengan semua kebaikanmu selama ini. Walau terlalu sering kau bilang bahwa kau tak apa, kau baik-baik saja, kau melakukannya dengan ikhlas tanpa tujuan apapun. Sama saja, aku yang paling tau hatimu terbuat dari apa. Karena bahan dasar hatikupun dibuat oleh Tuhan yang sama seperti yang kau sembah selama ini.
Jangan khawatir dewa, aku ndak membencimu kok. Aku bahkan terlalu menyayangimu sehingga aku merasa ndak akan pernah sanggup melihatmu memikul bebanku seperti yang selama ini kau lakukan untukku. Aku ndak tau sampai kapan aku akan seperti ini, tapi kau sudah terlalu banyak menjadi bentengku, menjadi matrasku, menjadi payungku, dan semua yang kubutuhkan saat aku melemah, tersesat, terseok, terpuruk, bahkan terjatuh. Aku sudah terlalu banyak merepotkan dewa, sahabat terbaikku, sahabat tersayangku, sosok yang menempati tempat tersendiri dihatiku melebihi dari dewa-dewa lainnya. Posisimu mungkin sedikit dibawah pemimpin yang nanti akan dikirimkan Tuhan untukku, yang sering terlontar dari mulutmu untuk meledekku. Tapi itu bukan berarti kau tidak seistimewa itu, kau pasti tau mengapa, ya, karena posisi pemimpinku itu memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk lebih berkilau dimataku dibandingkanmu, siapa yang berani menyangkalNya? Toh nanti saat kau memimpinpun kau akan menempati posisi itu.

Aku pergi ya..dan entah sampai kapan aku akan berani menampakkan wajahku kembali dihadapanmu, memperdengarkan suaraku kembali di telingamu, atau mungkin meninggalkan sedikit rasa perih pada lengan atau punggungmu yang sering kupukul dan kucubiti. Mungkin aku akan pergi selama-lamanya dari hidupku kalau kulihat atau kurasa kau memang sudah tidak membutuhkanku lagi. Mungkin..dengan aku pergi kau akan menemukan kembali kekuatanmu, menemukan kembali dirimu yang sebenar-benarnya, menemukan kembali apa yang selama ini kau cari. Dan bahkan bila diperlukan untukku menghilang selamanya dari hidupmu tuk menebus semua itu, aku mungkin akan berusaha menelannya bulat-bulat, agar pait itu tak perlu begitu terasa. Jangan khawatir dewa, aku akan baik-baik saja tanpamu, setidaknya dengan begitu aku akan belajar untuk lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung padamu, seperti yang selama ini kulakukan. Kalau memang suatu saat nanti kau telah menemukan seseorang yang akan kau pimpin, dan saat itu kau merasa sudah tidak perlu lagi kehadiranku karena sudah merasa terbiasa dengan kehadiranku, aku akan terima. Mungkin memang sudah sepantasnya aku benar-benar menghilang dari hidupmu setelah apa yang kulakukan selama ini terhadapmu.

Hhh, aku pasti akan dibenci temen-temenmu yang kenal aku. Maaf ya dewa, aku benar-benar menyakitimu ya? Kau kenal aku kan? Kau juga pasti tau aku akan mengalami masa-masa sulit saat nanti benar-benar lepas darimu. Sekarang aja aku ndak bisa menahan tanganku yang tak henti gemetar saat menulis kalimat-kalimat menyakitkan ini. Kau tau pasti aku emang lebih payah dan lebih lemah daripadamu kan..terima kasih karena menempatkan posisiku begitu istimewa dihatimu, sangat tersanjung sekaligus sakit mendengar kau sampai harus berubah jadi androgyny di hadapan ibumu hanya karena aku. Mungkin itu termasuk salah satu alasan aku memilih untuk mengambil keputusan ini, juga merupakan alasanku mengirimimu sms yang kau akui ndak bisa kau artikan.

Emosional? Mungkin, tapi aku ndak melihat cara lain untuk membuatmu terbebas dari beban yang membuatmu menyalahkan dirimu sendiri, untuk alasan apapun terhadap apa yang terjadi padaku.
Baik-baik disana ya dewa, jaga kesehatanmu, jangan keseringan tidur larut, nanti susah kalau mau absen, ingat tuk membiasakan diri absen tanpa harus di kirimi alarm, lalu kumohon dengan sangat untuk berusaha bagaimanapun caranya menghindari yang shubhat itu saat kacau melandamu ya..untuk makan, kau kan punya maag, kumohon..perhatikan juga yang satu itu, minumnya juga yang bener ya, jangan kebanyakkan minuman bernatrium benzoat atau apalah itu yang banyak ada di dalam minuman kemasan yang berwarna. Janji ya dewa, seenggaknya suatu saat nanti, saat kau benar-benar membenciku atas perlakuanku, kau tidak melewatkan sedikitpun apa yang kuingin kau tuk baik-baik disana, saat aku benar-benar tak ada, saat kau benar-benar tak mau menemuiku. Atau saat masing-masing mulai merasa nyaman dan tidak memerlukan satu dan yang lainnya. Bukannya aku menyombong, tapi kau yg paling tau diriku, aku bisa pastikan aku hanya akan bisa tersenyum atau bahkan tertawa tuk menutupi kelemahanku atas kehilangan keterbiasaan denganmu. Sungguh aneh, tapi aku ndak pernah merasa sebergantung ini pada seseorang yang kukenal hanya dalam waktu kurang dari setahun, hal yang berbeda dengan voldemort. Tapi aku akan belajar, kau tau kan aku cum laude?

Kamu yang bahagia ya disana..kalo boleh aku minta sedikiiiit aja, ingat aku ya..walau cuma sebentar, walau cuma sebagai 'bekas sahabat'..

Akan ada yang ku 'ceritakan' padamu suatu saat nanti, cerita ndak begitu penting mungkin, tapi cukup memberikan pengaruh atas terbentuknya diriku yang sekarang. Sayang sang waktu ndak mau sedikit berbagi tempatnya untukku menumpahkan semua, atau mungkin karena keberanianku yang mulai surut di rebut kenaifan dan kebodohanku. Kau tunggulah, aku hanya butuh waktu untuk merangkai sedikit setiap alphabet itu menjadi rangkaian kata dalam beberapa kalimat panjang lainnya yang bermakna, yang mungkin kau ndak akan bisa artikan, sama seperti tulisan ini mungkin..

Terakhir, maaf ya untuk semua yang selama ini ndak sempat terpenuhi, semua janji yang sempat terlontar yang mungkin harus aku ingkari atau ndak mampu terlaksana karena keputusan bodohku. Nanti, suatu saat..saat kau menemukan kebahagiaanmu, kalau kau masih membutuhkanku, kau tau kemana menemuiku..i tupun jika kau mau.. dan mungkin saat itu kita bisa menertawakan kebodohan masing-masing..

always at your service your highness, whibsib
 Baik-baik ya dewa…

Without wax, always
..fnt

*******

Tulisan itu pernah aku publish di blog ku yang lain. Tempat dimana aku biasa menorehkan coretan-coretan manja ku. Kali ini terpaksa aku letakkan disini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengutarakan maksudku. Terlalu buntu otak ku. Maafkan..


And you say I only hear what I want to
I don't listen hard
Don't pay attention to the distance that you're running
To anyone, anywhere,
I don't understand if you really care
I'm only hearing negative
(Stay, Lisa Loeb)


>>

I remember,
When i first post this writing, you came to look after me
Now i think i just can dream about you.. to look after me

Minggu, 21 Agustus 2011

Afternoon blues

It's because the weather i'm crying
Source



Aku sendiri disini. Ingin menulis. Tapi tak tahu apa yang ingin ku tulis. Pikiranku bercabang kemana-mana. Ada banyak sekali yang berkelebat di kepalaku. Terlalu banyak.

*******


Sesaat tadi, saat aku tengah menyetrika, aku memikirkan beberapa hal. Terutama saat kita sedang bercakap-cakap melalui media elektronik itu. Aku mendengarkan laguku, lagu yang beberapa waktu belakangan ini sering mengisi kedua gendang telingaku saat aku tengah sendiri. Alunan ayat-ayat suci yang dilantunkan oleh Al-Ghamdi. Menenangkan, sekaligus mengiris pinggir hatiku. Perlahan irisan itu mendalam, dan semakin dalam.
Aku teringat ibu. Membayangkan apa yang tengah dilakukannya saat itu. Berkumpul bersama Dhiva dan Yaya kah? Atau asyik duduk berpelukan di atas tempat tidurnya sambil menikmati tontonan Televisi. Atau malah mungkin mereka semua tengah berkumpul di dalam kamar itu bersama-sama. Bercengkerama, tertawa, membahas apapun kecuali aku. Kecuali aku. Dan aku menangis. Ya, melakukan kegiatan merapihkan pakaian-pakaian yang telah dicuci olehnya itu sambil sibuk menghapus linangan air mata yang tak mampu kutahan.

Aku rindu.

Teramat rindu.

Dan membayangkan bahwa percakapan itu tidak melibatkan pembicaraan mengenai ku sama sekali membuat air mataku semakin deras mengalir. Aku ingin ada disana, ditengah-tengah kalian.

Biasanya aku akan merangsek ke sisi ketiak ibu, menenggelamkan kepalaku dibawah lengannya, dan menciumi aroma ketiak ibu yang sama sekali tidak berbau. Mungkin tidak akan banyak yang akan dibahas pada kamar itu, biasanya aku akan lebih banyak diam. Menikmati waktu bersama ibu. Ibu pun akan diam. Sepertinya kita akan sama-sama tahu bahwa waktu itu terlalu berharga untuk sekedar dihabiskan dengan bercakap-cakap yang tidak perlu. Kita akan diam bu, diatas tempat tidur di dalam kamar itu. Diam dan menatap layar Televisi. Sesekali mengomentari acara Televisi yang tengah di putar pada layar cembung berukuran 29 inch itu. Sesekali menertawai adegan lucu yang terpampang pada layar Televisi itu.

Lalu Dhiva atau Yaya akan muncul dengan cengiran khas nya. Menelusup ditengah-tengah aku dan ibu. Aku pun akan langsung mempertahankan posisiku untuk tetap ada disamping ibu sambil berpura-pura mengusir Dhiva atau Yaya yang berusaha untuk berada ditengah-tengah aku dan ibu. Lalu kamar itu akan dipenuhi oleh tawa yang membahana. Tawa Dhiva atau Yaya yang menggelegar, dicampur dengan tawa ibu. Sedang aku hanya akan tertawa kecil sambil memperhatikan mereka satu-persatu. Lalu merebahkan kepala kembali diatas bantal dan melanjutkan menatap layar Televisi.

Menjelang sore, pasti semuanya tengah meributkan menu berbuka puasa. Ibu akan sibuk menanyai menu apa yang kami inginkan untuk berbuka. Lalu ibu dan Yaya mungkin akan pergi ke komplek depan rumah untuk membeli lauk, biasanya hari-hari terakhir puasa seperti ini ibu sudah malas untuk memasak dan memilih untuk membeli menu berbuka puasa. Sedang sahur, kebanyakkan akan diisi oleh menu makanan instant yang sudah dibeli lebih dulu jauh-jauh hari. Es timun suri atau es kelapa bercampur sirup pasti akan terhidang sebagai menu pembuka untuk berbuka. Menu kali ini apa bu? Ada es timun suri atau es kelapa campur sirup itu? Lalu gorengan itu, apakah masih tersaji?

Semua orang sepertinya berbuka puasa bersama-sama hari ini. Nana mungkin berbuka puasa bersama keluarganya atau Anggi. Dia pergi sejak siang kerumah keluarganya, dan akhirnya member kabar akan berbuka puasa bersama keluarganya. Dan kamu, pergi berbuka puasa bersama teman-teman lamamu. Teman-teman yang menurutmu mengerti dirimu. Sedang aku, menyelesaikan tumpukan pakaian untuk disetrika. Ditemani sepi dan air mata, juga tumpukan pakaian kusut menunggu untuk kubuat halus dan wangi.
Aku serius waktu menuliskan akan membajak dirimu saat kamu tengah berada ditengah-tengah mereka. Tapi jawabanmu yang sepertinya tidak mau meluluskan permintaanku itu membuatku memilih untuk mengalihkan kalimatku. Aku bilang bercanda dan tidak serius. Ironis, aku menangisi keputusanku. Entah kenapa, tapi sepertinya aku menyesali caraku mengalihkan perhatian atas sepi yang memelukku hari ini. Tawaran untuk buka puasa yang sebelumnya kamu utarakan sepertinya juga tidak serius. Karena kamu cepat sekali menarik kesimpulan aku tidak mau. Padahal aku tengah berpikir bagaimana mengiyakan tawaranmu. Kamu itu, benar-benar tidak mengenalku lagi ya. Padahal akhirnya aku katakan bahwa aku akhirnya sendirian.

Sudahlah.

Aku akhirnya benar-benar sendiri. Tidak kemanapun atau dengan siapapun yang kulontarkan dalam bahasa teks itu. Sendiri di tempat ini. Hanya ditemani suara ketikan keyboard notebook ku, juga acara Televisi.

Aku rindu.

Adik-adikku. Kamu. Dan ibu.
*******



Selamat berbuka puasa 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...