Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hujan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

She doesn't care!

Seperti hanya kau saja yang takut ditinggal orang tua. Ia bahkan tidak memiliki banyak ingatan terhadap ayahnya selama hampir sepanjang umurnya. Bahkan mungkin tidak memiliki ingatan itu. Karena terlalu muda bagi umurnya ketika orang tuanya memutuskan untuk mengambil langkah ‘berpisah demi kebaikan’. Dan bahkan kemudian ingatan tentang sosok ayah itu makin kabur dan hilang dengan pernikahan kedua ibunya. Ia terima saja. Mencoba mencerna dan hidup dengan pahit itu.

Jangan bilang hanya kau yang takut jika nanti ayahmu meninggal. Kau masih akan punya ibu yang berjarak kurang dari satu jam perjalanan dengan kendaraan umum. Sedang ia hanya memiliki ibu seorang. Jarak dengan ayah biologisnya berpuluh bahkan ratusan kilometer jauhnya. Ia mungkin bahkan tidak tahu lagi kabar ayah kandungnya. Kau bisa bilang, ia bahkan sudah tidak memiliki ayah. Karena kalaupun akhirnya ada dan bertemu, ya seperti itu saja. Tidak ada yang akan dapat dilakukan ayah itu terhadapnya. Karena ayah itu telah kalah banyak dengan ibunya.

Maka bicaralah tentang keadilan. Keadilan yang kau selalu titik beratkan pada ayahmu. Sedang dalam benakmu , ingatan yang ada hanyalah ayahmu yang sakit, ayahmu yang sudah tidak memiliki pekerjaan lagi, ayahmu yang kemudian tidak lagi bisa memberikan penghidupan untuk ibumu. Karena mereka tidak memiliki tabungan apapun selain tabungan haji yang kemudian entah sudah sampai mana perkembangannya. Karena kemudian kau hanya menjadikan titik pikiran utamamu pada ayahmu. Ayahmu. Dan ayahmu.
Sementara ia hanya akan bisa menahan diri untuk tidak lepas kendali ketika kemudian untuk kesekian kalinya yang kau ingat hanyalah ayahmu. Apapun yang kau dapat lakukan, hanya kepada ayahmulah tujuanmu. Maka ia hanya bisa diam. Menahan geram kesalnya. Karena kemudian yang kau lakukan hanya menitik beratkan semua pada ayahmu yang memberikan seluruh jasanya demi kau yang sekarang. Itulah menurutmu, bukan?
Pikirkanlah mengenai keadilan itu. Karena kemudian jika kau benar-benar ingin berusaha adil. Bagilah porsinya tanpa melihat apakah ayahmu yang sedang sakit, sudah tidak memiliki penghasilan bulanan, dan ibumu yang hanya berjualan baju, tapi masih bisa dibantu pemasukan oleh adikmu yang bekerja walau lebih sering mengeluh karena akhirnya tidak memiliki kesenangan sendiri atas penghasilannya. 

Atau apakah karena ibunya mampu bekerja dan mendapatkan penghasilan ratusan ribu dalam sebulan, yang digunakan untuk menutupi kebutuhan dari penghasilan suaminya yang tidak seberapa itu lalu ia berhak mendapatkan diskriminasi dari keadilan itu? Lalu jika kau juga mengetahui bahwa ibunya harus bekerja karena dibutuhkan untuk menyokong penghasilan suaminya yang kurang, juga untuk menutupi kebutuhan hutang yang melimpah, lalu juga digunakan untuk membantu menutupi kebutuhan pendidikan anaknya yang paling kecil yang masih membutuhkan biaya banyak, apakah itu juga tidak termasuk dalam pertimbanganmu? 

Akhirnya kebutuhan itu mendadak membengkak karena kemudian ibunya diagnosis penyakit yang memang mematikan dan membutuhkan perawatan lanjutan untuk diketahui lebih lanjut seberapa perlu tindakan medis yang harus dilakukan. Kemudian adiknya menyusul diagnosis kista yang menurut ukuran seharusnya hanya bisa diatasi dengan operasi yang biayanya tidak hanya satu atau dua juta. Apalagi kemudian adiknya yang paling kecil kemungkinan juga akan terkena penyakit yang hampir sama dengan yang diderita ibunya. Apakah sedikitpun kau tidak memiliki pikiran untuk kesana?

Bukan hanya karena merelakan emas yang akan digadai. Bukan itu masalahnya. Karena seberapa banyakpun yang akan digadai emas itu, tetap akan ditebus, tetap tidak mengurangi biaya hidup, malah menambahi biaya karena pengeluaran akan semakin membengkak. Karena gadai itu bukan mengganti barang dengan uang. Kau sendiri tahu itu.

Maka berpikirlah.

Ia tidak pernah meminta dibelikan macam-macam selain kebutuhan rumah tangganya. Ia bahkan lebih sering memilih untuk melewatkan makan dirumah karena tahu bahwa ia harus mengirit kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan makanmu yang seperti tidak pernah cukup jika makan tidak tiga kali sehari. Ia memilih untuk makan menggunakan fasilitas kantornya, meski rasanya tidak karuan. Meski yang ia inginkan adalah makanan yang bukan hanya makanan kantin yang rasanya itu-itu saja. Memangnya pernah kau rasakan ia makan sendirian sementara kau tidak mendapatkan makananmu jika ia tengah ingin menikmati makan diluar sesekali waktu? Ia berusaha agar semua rata. Ketika ia makan, ia akan memastikan kau juga ikut makan. Ketika kau ingin makan dan yang ia lihat adalah akan berkurangnya jatah untuk makan dikemudian hari demi mengatasi kemungkinan kekurangan dana untuk membeli bahan makanan, ia akan berdalih masih kenyang.

Dan ia akan membiarkanmu melahap semua makanan itu.

Karena ia memikirkan semuanya. 

Karena ia memikirkan apa yang kau pikirkan. Bahwa di kepalamu itu kebutuhan hanyalah untuk ayahmu. Karena kemudian ia harus mencari cara untuk melakukan penghematan dari berbagai sisi. Karena ia hanya ingin kau memikirkan keadilan itu bukan hanya dari sisi keluargamu, tetapi juga dari keluarganya. Karena orang tuamu masih memiliki harta tetap berupa rumah yang entah sampai kapan akan bisa dimiliki oleh keluarganya, karena selama ini mereka masih juga menumpang di rumah kakak dari suami ibunya itu. Mungkin tidak bisa dibilang menumpang, karena ibunya juga masih harus membayar iuran bulanan sekian ratus juta yang entah maksudnya untuk apa. Mungkin dianggap menyewa, mengontrak, atau apalah.

Maka lihatlah keadilan mana yang ingin kau coba perlihatkan padanya? Ia yang menahan lapar tiap malam karena ingin melakukan penghematan jatah makanan untuk di konsumsi dirumah. Ia yang dalam setiap pikirannya juga mengetahui bahwa uang yang kemudian ia dapatkan tentu akan kau bayangkan untuk kau berikan keada ayahmu, meski kau telah memberikan pada ayahmu sebelumnya. Namun tak pernah cukup menurutmu. 

Ia yang akan terlihat kejam karena tidak memperbolehkanmu menjadi tidak adil dengan hanya memenuhi kebutuhan ayahmu seorang, dan bukan dengan memberikan kebutuhan yang sama kepada ibunya. Ia yang tidak memiliki pakaian bagus selain yang ia miliki sebelumnya. Ia yang memilih untuk memiliki hanya satu sepatu untuk segala macam acara karena membeli baru sama saja menambah pengeluaran. Sementara sepatumu terus bertambah. Sepatu futsal, sepatu main, sepatu basket, dan mungkin sebentar lagi kau ingin menambah deretan sepatu yang sudah berjejer itu dengan sepatu badminton karena kau telah mengangkat topik mengenai keinginanmu membeli raket badminton untuk memenuhi kesenanganmu akan hobi barumu.

Lalu seperti apa kemudian hari? Ketika raket, atau sepatu, atau pakaian baru yang kau miliki itu dilirik oleh ayahmu? Akan kau berikan bukan? Secara Cuma – Cuma karena alasanmu, ayahmu itu tidak memiliki barang lain. Lalu pakaian yang menjulur tidak karuan dari lemari jatinya itu apa namanya? Lusuh? Kusam? Memangnya untuk kebutuhan apa pakaian baru untuk ayahmu itu? Sudah ia jelaskan pula bahwa ia memilih mengenakan sandal jepitnya ke kantor karena ia memang lebih memilih melakukan penghematan itu karena kebutuhan membeli sepatu baru bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya. Bukan karena ia memang menyukai memakai sandal jepit ke kantor! Meski sesungguhnya ia memang menyukai suasana kasual itu, tapi kau sendiri tahu betapa sandal jepit tak mungkin akan ia gunakan terus menerus.

Maka akhirnya ia memilih untuk menyerahkan semuanya padamu. Kau saja yang atur semuanya. Kau saja yang atur bagaimana menurut baikmu. Jika memang menurutmu kebutuhan ayahmu lebih besar dibanding kebutuhan ibunya. Maka aturlah. Ia tidak akan menaruh protes lagi. Ia tidak ingin melanjutkan kekesalannya karena hal ini. Kau akan lihat nanti bagaimana pertimbangannya berdampak di kemudian hari. Kau yang atur. Ia sudah lelah. Lelah untuk mengantisipasi apa-apa saja yang akan datang dikemudian hari. Kebutuhan apa saja yang diperlukan. Bukan sekadar apakah kau malas, tidak bersih, tidak pernah meletakkan barang pada tempat yang pernah disepakati sebelumnya, tidak teratur, dan sebagainya. Bukan itu.

Ia sudah terlanjur lelah untuk memikirkan semuanya. Jadi terserahmu saja. Ia menyerah. Ia mungkin sudah terlalu lelah untuk peduli terhadap semua. Memikirkan semua yang akan membuatkan menjadi semakin gila. Seperti sariawan yang tidak pernah sembuh sejak puasa lalu.

Ia memilih untuk tidak peduli saat ini. Mungkin ia memang hanya bisa marah-marah. Seperti katamu.


.. AND SHE REALLY IS!
Source

Senin, 19 Desember 2011

Tuhanku

Tuhanku Yang Maha baik,
Ampunilah hambamu ini
Kuatkanlah hamba, berikanlah hamba kesabaran tiada berbatas
Berikanlah ketenangan dalam hidup hamba
Tuhanku
...


Diantara banyak kata yang tak mampu saya ungkapkan, bahkan lewat tulisan sekalipun. Saya hanya mampu berdoa. Menenggelamkan wajah dalam tengadah tangisan kepadaNya yang senantiasa dapat saya temukan dimanapun.

Saya hanya mohon diampuni dosa, walaupun mungkin tidak semuanya. Saya ingin dikuatkan dalam menjalani sisa hidup ini agar lebih ringan terasa langkah saya. Saya ingin memiliki kesabaran layaknya Nabi Muhammad SAW dalam menjalani lika-liku hidup beliau.

Saya.. ingin tenang.

Foto dari sini

Rabu, 12 Oktober 2011

Kunjungan air mata

Source
 
Dan saat air mata itu kembali jatuh. Yang tersisa hanya perih. Air mata yang mengalir membentuk anakan sungai pada kedua pipi itu seperti hili air yang mencari hulu nya. Sungguh panas dan menyesakkan. Menahannya sekian waktu hanya untuk menunggu kemampuan untuk dapat memeluk diri sendiri.

Siang itu panas. Sepanas mata ini yang tak henti mengaliri kedua pipi dalam urai air mata. Tangis itu pecah tak tertahankan. Ruangan sempit itu hanya satu-satunya saksi. Ditemani tembok yang diam membisu, menemani dalam simpati tak kasat mata. Memberikan sandaran saat kepala ini tak mampu lagi menahan sakit yang ikut menyiksa.


Menangis itu membutuhkan waktu dan tenaga. Terlebih disaat sang waktu memaksa untuk terus bergerak, tak ada waktu untuk berhenti. Walau sejenak. Dan seperti kepayahan akhirnya aku berhasil mengelabui waktu. Menyisakan sedikit tenaga untuk terisak. Sendiri. Dalam ruang sempit di sudut itu. Waktuku tak banyak. Tangis itu harus segera kuselesaikan. Mungkin 60 menit cukup untukku mengelabui waktu yang terus mengejar, mengintip di tiap sudut untuk menemukanku. Dan kembali akan memaksaku bergerak, bahkan berlari.


Efek sehabis menangis itu menyebalkan. Dapat membuyarkan segala aktifitas yang harusnya dapat kulakukan jika saja aku tidak membiarkan diriku diperbudak air mata. Jangan kira aku dengan mudahnya menyerah pada air mata. Aku telah mengalah demikian banyaknya pada waktu dan menyimpat erat-erat dorongan air mata ini. Tapi toh tanggul yang ku bangun tidak sekuat perkiraanku. Aku roboh juga diterpa air mata yang bak air bah ini. Seperti kesudahannya mataku yang perih, lalu membengkak, dan perih ini membuatku mengantuk. Sungguh menyebalkan. Menyisakan guratan tanya pada siapapun yang menatapku keluar dari ruang sempit itu. 


Aku lelah, tapi tak boleh ku berhenti walau sejenak. Kejamnya sang waktu, bahkan tak membiarkanku sebentar saja tersadar bahwa batas usia itu sudah demikian trepampangnya dengan jelas. 



***
“Nggak apa dek sesekali nangis, lumayan kan ngebersihin mata dari belek.”
“Gitu ya kak?”
“Asal jangan keseringan. Ntar buta!”
“Masa?”
“Dibilangin nggak percaya, tuh liat mata lo dah makin kecil aja kan!”
“Kayak liat aja!”
“Kakak gue bisa liat lo kali walau dari jauh!”
“…”
“Jangan nyengir, pura-pura lo keliatan jelas walau cuma dari suara napas lo!”
“Mau jadi cenayang?”
“Nggak perlu jadi cenayang tuk bisa baca lo doang.”
“…”
“Nggak usah nyangkal, lo sedih lagi?”
“Nangis kenapa dek?”
“Nggak apa. “
“… iya. Lo selalu nggak apa..”
"Hush!"

Kamis, 25 Agustus 2011

Another Scratch

Masihkah akan kamu menoleh?
Source



 
I can’t concentrate today.
These all really knock me down.
I don’t know how to handle all this mess alone.
Even when you said you’ll never gonna leave.
The truth is, I made you left.
Something that I would regret one day.

*******


Hi dewa!
 
Apa kabar kamu? Pasti sibuk ya, bukan sibuk mikirin aku kan? Hehehe.. Maaf, candaku bukan pada tempatnya kali ini.
Aku tadi sengaja melewati kantormu saat pulang, berharap bisa melihatmu walau sekilas, tapi kayaknya kamu udah pulang duluan karena aku kemaleman pulang kantornya. Atau mungkin kamu ndak mampir dulu ke kantor, tapi langsung pulang dari tempatmu ditugaskan. 

Gimana pekerjaan hari ini? Tes nya berjalan lancar kan? Maaf aku ndak sempet tanya sama temenku apa itu UAT. Aku abis sakit kemarin, terakhir kita ngobrol di telpon tempo hari dan berakhir dengan saling menyakiti lewat sms itu..kau berhasil memporak-porandakan semuanya. Aku udah bukan cross-twisted lagi, tapi pikiranku malah luluh lantah. Aku nangis lho semalaman sampai mataku bengkak segede bola pingpong. Belum pernah aku nangis seperti malam itu, sampai akhirya aku muntah karena ndak bisa menghentikan aliran kristal bening dari kedua manik mataku. Itu semua salahmu! Hasilnya, aku bolos kerja karena ndak mungkin ke kantor dengan tampang kusut dan mata bengkak seperti kodok. Apalagi kepalaku pusing sekali akibat ndak tidur karena ndak bisa berhenti nangis. Lagi-lagi aku akan menyalahkanmu karena telah membuatku seperti itu. Ya! Semua salahmu!

Kenapa sih kau jahat sekali hari itu? Seharusnya predikat itu kan melekat padaku yang telah meninggalkan bekas tak termaafkan dihatimu, tapi rupanya aku salah kira. Kau bisa lebih membuatku merasakan perih tak tertahankan. 

Aku kalah… 

Untuk itu aku memutuskan untuk menghindarimu. karena rupanya aku terlalu sayang tuk melihatmu menyakiti dirimu sendiri, yang pada akhirnya aku malah menuduhmu melakukan itu untuk memberikan efek lebih menyedihkan untukku. Untuk menyalahkanku karena telah membuatmu melontarkan lelucon yang dengan argumenmu katanya hanya bermaksud untuk kau terima sendiri. Tapi maaf dewa, alasanmu sama sekali ndak bisa kuterima. Sebut aku terlalu sensitif atau bodoh, tapi aku merasakan sakit yang lebih sakit dari yang kau rasa dengan semua kebaikanmu selama ini. Walau terlalu sering kau bilang bahwa kau tak apa, kau baik-baik saja, kau melakukannya dengan ikhlas tanpa tujuan apapun. Sama saja, aku yang paling tau hatimu terbuat dari apa. Karena bahan dasar hatikupun dibuat oleh Tuhan yang sama seperti yang kau sembah selama ini.
Jangan khawatir dewa, aku ndak membencimu kok. Aku bahkan terlalu menyayangimu sehingga aku merasa ndak akan pernah sanggup melihatmu memikul bebanku seperti yang selama ini kau lakukan untukku. Aku ndak tau sampai kapan aku akan seperti ini, tapi kau sudah terlalu banyak menjadi bentengku, menjadi matrasku, menjadi payungku, dan semua yang kubutuhkan saat aku melemah, tersesat, terseok, terpuruk, bahkan terjatuh. Aku sudah terlalu banyak merepotkan dewa, sahabat terbaikku, sahabat tersayangku, sosok yang menempati tempat tersendiri dihatiku melebihi dari dewa-dewa lainnya. Posisimu mungkin sedikit dibawah pemimpin yang nanti akan dikirimkan Tuhan untukku, yang sering terlontar dari mulutmu untuk meledekku. Tapi itu bukan berarti kau tidak seistimewa itu, kau pasti tau mengapa, ya, karena posisi pemimpinku itu memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk lebih berkilau dimataku dibandingkanmu, siapa yang berani menyangkalNya? Toh nanti saat kau memimpinpun kau akan menempati posisi itu.

Aku pergi ya..dan entah sampai kapan aku akan berani menampakkan wajahku kembali dihadapanmu, memperdengarkan suaraku kembali di telingamu, atau mungkin meninggalkan sedikit rasa perih pada lengan atau punggungmu yang sering kupukul dan kucubiti. Mungkin aku akan pergi selama-lamanya dari hidupku kalau kulihat atau kurasa kau memang sudah tidak membutuhkanku lagi. Mungkin..dengan aku pergi kau akan menemukan kembali kekuatanmu, menemukan kembali dirimu yang sebenar-benarnya, menemukan kembali apa yang selama ini kau cari. Dan bahkan bila diperlukan untukku menghilang selamanya dari hidupmu tuk menebus semua itu, aku mungkin akan berusaha menelannya bulat-bulat, agar pait itu tak perlu begitu terasa. Jangan khawatir dewa, aku akan baik-baik saja tanpamu, setidaknya dengan begitu aku akan belajar untuk lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung padamu, seperti yang selama ini kulakukan. Kalau memang suatu saat nanti kau telah menemukan seseorang yang akan kau pimpin, dan saat itu kau merasa sudah tidak perlu lagi kehadiranku karena sudah merasa terbiasa dengan kehadiranku, aku akan terima. Mungkin memang sudah sepantasnya aku benar-benar menghilang dari hidupmu setelah apa yang kulakukan selama ini terhadapmu.

Hhh, aku pasti akan dibenci temen-temenmu yang kenal aku. Maaf ya dewa, aku benar-benar menyakitimu ya? Kau kenal aku kan? Kau juga pasti tau aku akan mengalami masa-masa sulit saat nanti benar-benar lepas darimu. Sekarang aja aku ndak bisa menahan tanganku yang tak henti gemetar saat menulis kalimat-kalimat menyakitkan ini. Kau tau pasti aku emang lebih payah dan lebih lemah daripadamu kan..terima kasih karena menempatkan posisiku begitu istimewa dihatimu, sangat tersanjung sekaligus sakit mendengar kau sampai harus berubah jadi androgyny di hadapan ibumu hanya karena aku. Mungkin itu termasuk salah satu alasan aku memilih untuk mengambil keputusan ini, juga merupakan alasanku mengirimimu sms yang kau akui ndak bisa kau artikan.

Emosional? Mungkin, tapi aku ndak melihat cara lain untuk membuatmu terbebas dari beban yang membuatmu menyalahkan dirimu sendiri, untuk alasan apapun terhadap apa yang terjadi padaku.
Baik-baik disana ya dewa, jaga kesehatanmu, jangan keseringan tidur larut, nanti susah kalau mau absen, ingat tuk membiasakan diri absen tanpa harus di kirimi alarm, lalu kumohon dengan sangat untuk berusaha bagaimanapun caranya menghindari yang shubhat itu saat kacau melandamu ya..untuk makan, kau kan punya maag, kumohon..perhatikan juga yang satu itu, minumnya juga yang bener ya, jangan kebanyakkan minuman bernatrium benzoat atau apalah itu yang banyak ada di dalam minuman kemasan yang berwarna. Janji ya dewa, seenggaknya suatu saat nanti, saat kau benar-benar membenciku atas perlakuanku, kau tidak melewatkan sedikitpun apa yang kuingin kau tuk baik-baik disana, saat aku benar-benar tak ada, saat kau benar-benar tak mau menemuiku. Atau saat masing-masing mulai merasa nyaman dan tidak memerlukan satu dan yang lainnya. Bukannya aku menyombong, tapi kau yg paling tau diriku, aku bisa pastikan aku hanya akan bisa tersenyum atau bahkan tertawa tuk menutupi kelemahanku atas kehilangan keterbiasaan denganmu. Sungguh aneh, tapi aku ndak pernah merasa sebergantung ini pada seseorang yang kukenal hanya dalam waktu kurang dari setahun, hal yang berbeda dengan voldemort. Tapi aku akan belajar, kau tau kan aku cum laude?

Kamu yang bahagia ya disana..kalo boleh aku minta sedikiiiit aja, ingat aku ya..walau cuma sebentar, walau cuma sebagai 'bekas sahabat'..

Akan ada yang ku 'ceritakan' padamu suatu saat nanti, cerita ndak begitu penting mungkin, tapi cukup memberikan pengaruh atas terbentuknya diriku yang sekarang. Sayang sang waktu ndak mau sedikit berbagi tempatnya untukku menumpahkan semua, atau mungkin karena keberanianku yang mulai surut di rebut kenaifan dan kebodohanku. Kau tunggulah, aku hanya butuh waktu untuk merangkai sedikit setiap alphabet itu menjadi rangkaian kata dalam beberapa kalimat panjang lainnya yang bermakna, yang mungkin kau ndak akan bisa artikan, sama seperti tulisan ini mungkin..

Terakhir, maaf ya untuk semua yang selama ini ndak sempat terpenuhi, semua janji yang sempat terlontar yang mungkin harus aku ingkari atau ndak mampu terlaksana karena keputusan bodohku. Nanti, suatu saat..saat kau menemukan kebahagiaanmu, kalau kau masih membutuhkanku, kau tau kemana menemuiku..i tupun jika kau mau.. dan mungkin saat itu kita bisa menertawakan kebodohan masing-masing..

always at your service your highness, whibsib
 Baik-baik ya dewa…

Without wax, always
..fnt

*******

Tulisan itu pernah aku publish di blog ku yang lain. Tempat dimana aku biasa menorehkan coretan-coretan manja ku. Kali ini terpaksa aku letakkan disini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengutarakan maksudku. Terlalu buntu otak ku. Maafkan..


And you say I only hear what I want to
I don't listen hard
Don't pay attention to the distance that you're running
To anyone, anywhere,
I don't understand if you really care
I'm only hearing negative
(Stay, Lisa Loeb)


>>

I remember,
When i first post this writing, you came to look after me
Now i think i just can dream about you.. to look after me

Minggu, 21 Agustus 2011

Afternoon blues

It's because the weather i'm crying
Source



Aku sendiri disini. Ingin menulis. Tapi tak tahu apa yang ingin ku tulis. Pikiranku bercabang kemana-mana. Ada banyak sekali yang berkelebat di kepalaku. Terlalu banyak.

*******


Sesaat tadi, saat aku tengah menyetrika, aku memikirkan beberapa hal. Terutama saat kita sedang bercakap-cakap melalui media elektronik itu. Aku mendengarkan laguku, lagu yang beberapa waktu belakangan ini sering mengisi kedua gendang telingaku saat aku tengah sendiri. Alunan ayat-ayat suci yang dilantunkan oleh Al-Ghamdi. Menenangkan, sekaligus mengiris pinggir hatiku. Perlahan irisan itu mendalam, dan semakin dalam.
Aku teringat ibu. Membayangkan apa yang tengah dilakukannya saat itu. Berkumpul bersama Dhiva dan Yaya kah? Atau asyik duduk berpelukan di atas tempat tidurnya sambil menikmati tontonan Televisi. Atau malah mungkin mereka semua tengah berkumpul di dalam kamar itu bersama-sama. Bercengkerama, tertawa, membahas apapun kecuali aku. Kecuali aku. Dan aku menangis. Ya, melakukan kegiatan merapihkan pakaian-pakaian yang telah dicuci olehnya itu sambil sibuk menghapus linangan air mata yang tak mampu kutahan.

Aku rindu.

Teramat rindu.

Dan membayangkan bahwa percakapan itu tidak melibatkan pembicaraan mengenai ku sama sekali membuat air mataku semakin deras mengalir. Aku ingin ada disana, ditengah-tengah kalian.

Biasanya aku akan merangsek ke sisi ketiak ibu, menenggelamkan kepalaku dibawah lengannya, dan menciumi aroma ketiak ibu yang sama sekali tidak berbau. Mungkin tidak akan banyak yang akan dibahas pada kamar itu, biasanya aku akan lebih banyak diam. Menikmati waktu bersama ibu. Ibu pun akan diam. Sepertinya kita akan sama-sama tahu bahwa waktu itu terlalu berharga untuk sekedar dihabiskan dengan bercakap-cakap yang tidak perlu. Kita akan diam bu, diatas tempat tidur di dalam kamar itu. Diam dan menatap layar Televisi. Sesekali mengomentari acara Televisi yang tengah di putar pada layar cembung berukuran 29 inch itu. Sesekali menertawai adegan lucu yang terpampang pada layar Televisi itu.

Lalu Dhiva atau Yaya akan muncul dengan cengiran khas nya. Menelusup ditengah-tengah aku dan ibu. Aku pun akan langsung mempertahankan posisiku untuk tetap ada disamping ibu sambil berpura-pura mengusir Dhiva atau Yaya yang berusaha untuk berada ditengah-tengah aku dan ibu. Lalu kamar itu akan dipenuhi oleh tawa yang membahana. Tawa Dhiva atau Yaya yang menggelegar, dicampur dengan tawa ibu. Sedang aku hanya akan tertawa kecil sambil memperhatikan mereka satu-persatu. Lalu merebahkan kepala kembali diatas bantal dan melanjutkan menatap layar Televisi.

Menjelang sore, pasti semuanya tengah meributkan menu berbuka puasa. Ibu akan sibuk menanyai menu apa yang kami inginkan untuk berbuka. Lalu ibu dan Yaya mungkin akan pergi ke komplek depan rumah untuk membeli lauk, biasanya hari-hari terakhir puasa seperti ini ibu sudah malas untuk memasak dan memilih untuk membeli menu berbuka puasa. Sedang sahur, kebanyakkan akan diisi oleh menu makanan instant yang sudah dibeli lebih dulu jauh-jauh hari. Es timun suri atau es kelapa bercampur sirup pasti akan terhidang sebagai menu pembuka untuk berbuka. Menu kali ini apa bu? Ada es timun suri atau es kelapa campur sirup itu? Lalu gorengan itu, apakah masih tersaji?

Semua orang sepertinya berbuka puasa bersama-sama hari ini. Nana mungkin berbuka puasa bersama keluarganya atau Anggi. Dia pergi sejak siang kerumah keluarganya, dan akhirnya member kabar akan berbuka puasa bersama keluarganya. Dan kamu, pergi berbuka puasa bersama teman-teman lamamu. Teman-teman yang menurutmu mengerti dirimu. Sedang aku, menyelesaikan tumpukan pakaian untuk disetrika. Ditemani sepi dan air mata, juga tumpukan pakaian kusut menunggu untuk kubuat halus dan wangi.
Aku serius waktu menuliskan akan membajak dirimu saat kamu tengah berada ditengah-tengah mereka. Tapi jawabanmu yang sepertinya tidak mau meluluskan permintaanku itu membuatku memilih untuk mengalihkan kalimatku. Aku bilang bercanda dan tidak serius. Ironis, aku menangisi keputusanku. Entah kenapa, tapi sepertinya aku menyesali caraku mengalihkan perhatian atas sepi yang memelukku hari ini. Tawaran untuk buka puasa yang sebelumnya kamu utarakan sepertinya juga tidak serius. Karena kamu cepat sekali menarik kesimpulan aku tidak mau. Padahal aku tengah berpikir bagaimana mengiyakan tawaranmu. Kamu itu, benar-benar tidak mengenalku lagi ya. Padahal akhirnya aku katakan bahwa aku akhirnya sendirian.

Sudahlah.

Aku akhirnya benar-benar sendiri. Tidak kemanapun atau dengan siapapun yang kulontarkan dalam bahasa teks itu. Sendiri di tempat ini. Hanya ditemani suara ketikan keyboard notebook ku, juga acara Televisi.

Aku rindu.

Adik-adikku. Kamu. Dan ibu.
*******



Selamat berbuka puasa 

Jumat, 19 Agustus 2011

Bosan dan sepi

Source

“Bosan, sepi, tak ada hiburan”


*******



Aku tenggelam dalam tangis. Semalam. Membaca semua pengakuanmu. Pengakuan yang harus kupaksakan untuk kamu keluarkan. Tak sangka butuh satu hari untuk memaksamu berkata yang sebenarnya. Segitu beratnya untukmu mengakui apa yang kau perbuat dibelakangku. Jadi kapan saat kalian merencanakan semua perjanjian dan melakukan pembicaraan itu? Saat kamu sedang bermasalah denganku? Saat kita tengah bertengkar kah? Mungkin ini jawaban yang lebih masuk akal: Saat aku meninggalkanmu merasakan sepi, sendiri? 


Mudah ya ternyata untukmu mencari teman pengusir sepi dan bosanmu. Aku ingin tahu, apa sempat terbersit sedikit saja kamu pikirkan aku sedang apa saat kamu merasa sepi dan bosan sendiri? Saat kamu dan wanita berbaju merahmu itu tengah melakukan pembicaraan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan apa yang selama ini kita perjuangkan? Pernah sedikit saja kamu berfikir apa yang akan bercokol di benakku saat kamu dan wanita berbaju merahmu itu merencakanan janji untuk mengusir sepi dan bosanmu? Pernahkah?

Lalu aku menuliskan dalam rangkaian kalimat mengenai mimpi buruk yang kualami malam setelah membaca semua isi pesan yang kamu dan wanita berbaju merahmu lakukan, dan kamu mengatakan bahwa aku tengah menyebar fitnah. Aku menulis. Apa yang kurasakan. Menceritakan mengenai mimpi buruk yang menghampiri tidurku malam itu. Mimpi mengenaimu yang akhirnya memutuskan meninggalkanku. Mematahkan setiap kalimat pembelaan yang sempat kujadikan tameng untuk memjaga nama baikmu di depan wanita paling berarti dalam hidupku. Dinding penjagaanku runtuh. Malam tadi. Aku tenggelam dalam tangis. Terisak seorang diri didalam dingin kamar segi empat tempatku bertahan hidup. Sendiri. Mencoba menghapus setiap kalimat yang terbaca pada media elektronik itu. Kalimat pengakuan yang akhirnya terlontar.

Aku mencoba mengerti setiap barisan kalimat yang kamu kirimkan melalui teks itu. Sempat terfikir untuk menjalin kembali pertemuan, bertukar cerita, membunuh sepi dan bosanmu. Paling tidak aku paham satu hal: kamu sempat memikirkan untuk menjalin itu dengannya, berniat untuk melakukan kegiatan membunuh bosan dan sepi itu dengannya, dan mengesampingkan aku yang berada entah dimana. Kamu tidak memikirkan perasaanku. Kita bertengkar, kamu kesepian, dan itu menjadi alas an untukmu menjalin kembali komunikasi itu. Wanita berbaju merah yang kamu katakana hanya sekedar ingin bermain – main denganmu. Lalu apa kamu juga hanya sekedar bermain – main dengannya? Apa kamu hendak mengatakan bahwa kamu pun hanya butuh teman untuk mengusir sepi dan bosan? Dan hanya ada dia yang kami ijinkan untuk melakukan kegiatan bunuh bosan dan sepimu itu? Maaf, aku masih tidak mengerti mengapa sampai terlintas dalam kepalamu bahwa hanya wanita berbaju merahmu itu yang mampu menutupi bosan dan sepimu, yang mampu memberimu penghiburan atas derita bosan dan sepi mu.

Kalian tidak bertemu sungguhan, itu pengakuanmu. Dan aku percaya. Entah bagaimana aku percaya. Aku selalu percaya padamu. Pada setiap ucapanmu, pada setiap kalimatmu, pada setiap apapun yang kamu kemukakan untuk meyakinkanku. Tidak ada yang perlu aku cemburui dari wanita berbaju merahmu itu, katamu. Kamu itu juga menempatkan perasaan yang sama seperti yang kamu rasakan terhadapku untuknya, aku bagaimana mungkin tidak boleh menempatkan cemburuku padanya? Katakan bagaimana aku harus menanggapi semua kalimatmu mengenai wanita lain yang menempati tempat yang sama dihatimu seperti aku menempati hatimu itu? Bagaiama? Ajari aku bagaimana harus bersikap pada wanita lain yang kamu jadikan teman untuk membunuh sepi dan bosanmu saat aku tak dapat berikan untukmu? Karena aku sama sekali tidak dapat mengerti bagaimana meredam panas yang membakar dadaku ini.





*******

“Kalian mirip.”
“Mirip gimana?”
“Nggak tau, tapi entah gimana, kalian mirip”
Aku ingat kalimat yang sempat aku lontakan saat aku pertama kali akhirnya bertemu dengan wanita berbaju merah itu.




_________
Tulisan ini seharusnya ku posting satu hari setelah pengakuanmu itu. Tapi aku terlalu larut dalam kesedihan. Maaf, aku hanya utarakan, tidak perlu menganggap aku tengah melemparkan fitnah padamu.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...