Tampilkan postingan dengan label Wait and see. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wait and see. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

Plan: #Menulis dengan bahagia


Terkadang iri. Begitu iri sampai kemudian membuat otakku begini beku. Jadilah ketika menatap lembar putih di layar monitor notebook itu saya hanya menatap kosong. Kubiarkan saja kursor itu berkedap-kedip menunggu untuk bergeser ke kanan tanda ada deretan huruf yang muncul. Sungguh. Saya iri.
Bukan hanya jaringan internet dirumah yang begitu menguji kesabaran. Tetapi juga pekerjaan dikantor yang lebih sering membuat kepala saya migrain. Hasilnya, Sariawan saya sampai menghuni pipi kanan dan kiri saya. 

Saya sungguh ingin menulis hal yang membahagiakan. Apapun itu. Yang sederhana. Dan membahagiakan. Menceritakan betapa saya senang setiap kali bisa mencoba makanan baru. Menggambarkan acara outing kantor tempo hari. Atau bahkan hanya menceritakan suatu hari nanti saya akan dapat menikmati liburan yang benar-benar berlibur tanpa harus memikirkan budget yang harus saya tahan demi menikmati libur. Bener deh!

Dan segala hal yang kemudian beralih pada masa lalu dan kesedihan itu bukanlah disengaja. Aku telah mencoba berbagai cara membangun emosi bahagia itu. Menciptakan bayangan-bayangan penghibur. Tapi yang muncul malah kilasan kesedihan. Akhirnya yang terjadi adalah tulisan yang jauh dari cerita bahagia.
Tapi tenanglah aku.. Keyakinan bahwa bahagia itu akan kudapatkan masih ada disini. 5 cm didepanku. Aku hanya harus lebih yakin lagi. Dan lebih berusaha lagi. Nanti, disini yang ada hanya cerita bahagia. Aku yakin itu!

Nanti aku akan menulis dengan raut bahagia, dan tulisan yang bahagia. Pasti!
Source

Selasa, 20 Maret 2012

Confession of a (non) shopaholic

Hari ini update sebentar dan sekilas saja. Ditengah sibuknya berjibaku dengan dunia kerja dan bagaimana mempertahankan posisi saya, saya berencana membuat usaha sampingan untuk menambah penghasilan saya sebagai pekerja kantoran yang hanya dapat mengandalkan gaji di setiap akhir bulan. Selain itu, saya berencana untuk berhenti dari kantor ini jika usaha saya sudah sedikit berkembang. Kira-kira, apakah dalam setahun ini usaha sampingan saya akan berjalan lancar?

Rencana ini saya sedang garap dengan teman saya yang hobi belanja dan senang mengikuti perkembangan mode. Saya? Jangan tanya soal mode dan belanja jika itu tidak ada hubungannya dengan makanan. Saya paling payah dalam urusan mode dan belanja. Lebih baik saya diberikan makanan segunung dibanding disuruh memilah pakaian atau aksesoris mana yang bagus dimata saya. Selera mode saya sangat payah.

Kenapa saya berani memikirkan untuk memulai usaha sampingan? Karena saya tahu teman saya ini mampu membuat usaha kami nantinya menjadi besar. Saya sih memang tidak berbakat dalam hal jual menjual maupun pemasaran, tapi saya bisa mengurusi mengenai administrasi, pengelolaan toko online yang sedang digarap, juga monitoring perkembangan. Sementara teman saya akan berlaku sebagai pekerja yang turun dilapangan, termasuk diantaranya memilah produk apa yang kira-kira laris di pasaran, serta sebagai staff marketing. Mungkin saya akan belajar untuk sedikit ilmu berdagang yang ia miliki. Tapi bila dicampur dengan kesibukan kantor saya, mungkin akan membuat saya sedikit babak belur. Jangan-jangan migren saya akan sering kambuh, juga sariawan saya yang makin sering menghampiri saya.

Jadi.. kemungkinan saya akan lebih banyak konsentrasi untuk usaha sampingan saya untuk beberapa waktu kedepan. Yak! Semangat! Fighting!!!


Mungkin nanti saya bisa ketularan jadi shopaholic dari usaha ini? Hahaha..
Foto dari sini

Kamis, 15 Maret 2012

Dalam benakku [a metamorphism]

Saya tahu bahwa sulit untuk saya untuk melupakannya. Tapi saya tidak bilang bahwa saya tidak akan bisa melupakannya. Masih ada satu dua mimpi yang menghiasi tidur saya. Mimpi tentangnya. Tapi saya sudah memutuskan untuk tidak bersamanya. Saya akan memperbaiki apa yang telah saya rusak. Impian saya untuk bersamanya. Ia akan membenci saya, itu adalah kemungkinan terburuk yang akan menghantui kehidupan saya selanjutnya. Lingkaran pertemanan yang telah terjalin dimana ada ia didalamnya, juga mungkin akan terpaksa harus saya hilangkan. Saya akan memulai hidup baru.

Tetap berjalan ditengah onak duri yang menghiasi kehidupan saya, segala yang membuat saya harus terpaksa menelan semuanya bulat-bulat. Saya bukannya hanya akan tinggal diam begitu saja jika diinjak. Tentu saya akan melawan. Apapun yang membuat saya merasa tidak merasakan perasaan yang seharusnya saya rasakan, akan saya lawan dan perjuangkan. Sedikit egois jika saya mengatakan bahwa saya akan menggunakan cara saya. Tapi itu adalah satu-satunya pertahanan saya melewati semua intimidasi dan konfrontasi yang membuat saya merasa tersudutkan dan ditempatkan di posisi yang tidak seharusnya. Saya harus mempunyai pertahanan diri sendiri bukan?

Jadi, mengenai suami ibu saya (yang saya sadari ternyata saya tidak pernah bisa menerimanya sebagai pengganti bapak saya sampai sekarang).. saya biarkan saja mengalir. Bila ibu memilih untuk tetap bersamanya, saya hanya bisa diam menerima. Tapi untuk memberikan tempat di antara telapak tangan dan bibir saya untuk mencium tangannya, untuk sekarang tidak akan. Itu adalah salah satu pertahanan diri dan cara saya mempertahankan harga diri saya dihadapan semua orang. Bahkan jika sekalipun simbah saya memaksa saya. Kami sama kerasnya, biarkan saja. Memaksakan dua batu saling beradu bukankah malah akan menghancurkan keduanya? Jadi biarkan saja kami berada ditempat kami masing-masing. Saling menghormati posisi masing-masing, saling mengamati, dan saling introspeksi.

Mengenai ia.. saya tidak tahu lagi kabarnya sejak akhir melihatnya bersama merah muda. Kami bercakap-cakap. Hanya sekadarnya, tidak pernah terlibat percakapan panjang. Seringkali saya merasa harus memutus percakapan karena merasa ketidakmampuan saya menahan perasaan bersalah ini padanya. Saya menyakitinya. Memilih untuk tidak mempertahankannya. Dan bahkan masih menerima kebaikannya. Sungguh saya ini tidak tahu diri. Benar-benar menyedihkan. Saya sudah tidak pernah menemuinya. Ini karena saya juga merasa saya harus melindungi diri saya dari rasa sakit saat melihatnya. Ia sungguh akan membenci saya. Kadang saya juga merasa membencinya, membenci kalimat-kalimatnya yang ia lontarkan pada saya. Pada keadaan saya yang ia tidak ketahui kebenarannya. Ya, kadang saya ingin membuatnya membenci saya saja, agar kita sama-sama akan hanya diam di tempat masing-masing. Saling diam, tidak melemparkan kalimat pedas dan menyakitkan lagi. Karena saya tahu, sia-sia semua keinginan dan harapan saya untuk menjadikan semuanya baik. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hanya dalam angan saya saja. Biarlah ia membenci saya. Mungkin akan lebih baik untuknya. Agar sakit itu tidak ia rasakan lebih lama.

Lalu ada pria yang saat ini di samping saya. Yang masih harus saya raba semua perasaannya terhadap saya. Yang saya harapkan mampu saya percayai sepenuhnya untuk menopang semua kelimbungan saya. Yang saya harapkan mampu menerima semua kelalaian, kekurangan, dan apapun keburukan saya. Semoga saja semua yang ia ucapkan, akui, dan lakukan terhadap saya adalah apa yang memang berasal dari hatinya. Tidak ada penyesalan, tidak ada makian maupun keluhan yang ia tujukan untuk saya, maupun perlakuan dan sifat saya. Karena saya ingin dapat mempercayainya. Karena saya ingin dapat menyerahkan seluruh hidup saya kepadanya. Karena saya telah memutuskan untuk memilihnya. Ia harus tahu bahwa saya begitu lemah, tetapi bukan berarti saya tidak bisa menjadi begitu kuat. Wanita bukankah makhluk lemah yang kuat? Maka, ketika saya memutuskan untuk menjadikan diri saya sendiri sebagai tameng untuk dibenci olehnya, ia harus menyadari bahwa saya bukan hanya membelanya, tetapi juga membela dirinya dan membela diri saya sendiri. Hanya saja, sangat sedikit orang yang mampu menilai apa yang dilihat dan mempercayai perasaannya. Sesungguhnya saya hanya akan diam saja sampai saya merasa saya terinjak-injak dengan tragisnya. Berharap ia dapat rukun akrab dengannya, juga akan kubiarkan dalam angan saya saja. Biarlah mereka menjadi seperti batu pada masing-masing pribadi. Saya akan diam saja. Asal tidak saling menghancurkan. Saya mencintainya. Meski saya harus berusaha lebih baik lagi untuk membuat perasaan saya lebih besar padanya dari perasaan saya sebelumnya.

Untuk ibu, entah sudah berapa kali ibu meyakinkan saya bahwa ia tidak mempercayai hal-hal diluar akal selain Tuhannya yang menciptakannya. Diantara sholat dan puasa serta segala kebaikan agama yang ia lakukan, saya hanya berharap ibu berhenti melakukan tindakan diluar akal yang mengatasnamakan Tuhan atau apapun. Bayangan itu masih saya ingat, ketika ibu membawa saya ke seorang dukun yang dipercaya sebagai 'orang pintar' untuk mengobati demam saya yang tidak kunjung turun. Ternyata saya tidak sembuh, bahkan merasa sesak dengan bau dupa yang memenuhi ruangan, serta ocehan sang 'orang pintar' yang mengatakan saya kemasukkan jin bali. Saya ingin tertawa waktu itu, bahkan saya yang hanya seorang anak SD mampu membedakan mana bualan dan kenyataan. Karena vonis dokterlah yang menyembuhkan saya waktu itu, thypus. Entah sudah berapa banyak 'orang pintar' yang ibu datangi atas nama melindungi keluarga atau apapunlah. Saya hanya bisa diam dan berdoa, bahwa ibu akan kapok. Karena saya tahu saya sudah tidak bisa begitu sering mengawasi dan menjaga ibu. Saya akan berpegang pada keyakinan saya: lawan, semua kemunkaran yang tidak sesuai dengan agama, atau lakukan walau hanya dalam hati jika tidak mampu memerangi secara langsung. Maka saya hanya akan berdoa.

Untuk kedua orang tuanya yang tengah bermasalah, saya tak akan ikut campur karena saya merasa belum sepenuhnya menjadi anggota keluarga. Tapi saya tegas mengecam tindakannya yang ikut melibatkan 'orang pintar' dalam hal ini meskipun atas permintaan ibunya sekalipun. Bukankah tindakan kita seharusnya menghalangi atau lebih baik tidak ikut campur dalam urusan diluar akal yang melawan ketentuan Tuhan? Saya akan tetap diam. Apapun saja, jika memang ia memilih untuk menuruti permintaan ibunya, terserah saja. Saya akan tetap diam dan doa. Semoga akal ini yang diberikan Tuhan dan iman yang dimiliki menjadikan sebuah jalan untuk meyakinkan diri bahwa apapun yang berasal dari Tuhan adalah baik.

Kami, makhluk keras kepala, ciptaan Tuhan yang diberi akal dan penuh dosa. Hanya mampu memohon ampun dan berdoa. Saya tak akan muluk mengharap surga sementara neraka pasti akan penuh sesak dengan para pendosa seperti saya. Maka saya hanya mampu memohon ampun dan berdoa. Bagaimanapun, menyadari bahwa kita tak akan mampu memiliki apapun di dunia ini adalah benar, karena apapun dapat kita miliki di surga nanti, bila tabungan dunia kita cukup. Saya tidak sedang bersikap menjadi bu Haji ataupun si jenius dan sok bijak dalam tulisan ini. Saya hanya menuliskan apa yang saya rasakan. Dalam kecewa, dalam amarah, dan dalam setiap kesakitan yang saya rasakan. Semua demi untuk menjadi bahagia. Bukankah selalu ada terang setelah gelap?



Living is to let your footsteps leave marks everywhere, to erase the bad steps one by one will take your whole life to do it. So.. try and pray that God will erase them for you -Mevi
Foto pinjam dari sini

Rabu, 29 Februari 2012

Biarlah dalam benakku saja

Aku pernah menceritakan bayanganku untuk kehidupanku kelak bersamamu. Ketika itu aku baru beberapa hari menceritakan tentangnya padamu. Sejujurnya, ketika aku memutuskan untuk menceritakan tentangnya padamu, adalah karena aku merasa akan mampu memiliki kalian di dalam kehidupanku. Kelak.

Saat itu, yang terbayang dalam benakku adalah, kamu, aku dan dia bisa bisa bersama. Setidaknya kamu menempati tempat paling berarti dihatiku jikapun itu bukanlah tempat di dalam kehidupan pribadiku. Tapi kamu adalah sahabat terbaikku. Saat itu.

Lalu keadaan mulai berubah. Aku tidak pernah tahu bahwa akan seperti ini kejadiannya. Aku memilih menghindarimu. Berkali pernah kulakukan. Dan kamu selalu dapat menemukanku. Serta membawaku kembali. Tapi kali ini beda. Kamu. Mungkin lebih memilih untuk membiarkanku menghilang. Melepasku begitu saja.

Ya. Bahkan jika pilihanku adalah menetap bersamanya. Kalian selamanya mungkin tak akan pernah bisa seakrab seperti dalam bayangan kebahagiaanku. Dan aku, yang terlanjur menempatkanmu dalam hatiku sejak pertama bertemu itu, memilih untuk mencampakkanmu dan melenggang bersamanya.

Sakit untukmu. Mungkin juga menjadi tanda tanya untuknya. Apakah aku benar-benar telah menghilangkanmu dalam hatiku. Sungguhpun aku ingin, aku masih belum bisa. Bahkan saat aku menetapkan hatiku untuk menempatkan posisimu sebagai sahabat terbaik yang pernah singgah dalam hatiku dulu. Saat aku mengira perasaanku hanya berasal dariku saja.

Maka aku memilih untuk menjauh darimu. Mungkin sesekali akan berbincang denganmu. Tapi tak akan lama. Karena aku harus melindungi hatiku dari kisah yang tak akan pernah menjadi sebuah cerita indah. Aku, seperti yang pernah kunyatakan padamu pada ceritaku pertama kali tentangnya, secara tidak langsung sebenarnya telah mungkin lebih memilihnya daripadamu.

Kamu datang di kehidupanku lebih awal. Tapi ia menyatakkannya padaku lebih dulu. Maka aku harus adil. Aku telah memilih untuk melepaskan perasaanku terhadapmu dan memaksakan diri menganggapmu sebagai sahabat terbaikku. Dan kemudian memulai kisah baru dengannya. Ia yang kuharapkan akan mampu mengangkatku tinggi dalam kebahagiaan dan tidak akan pernah membiarkanku terjatuh. Bahkan mungkin jika aku terjatuh, ia akan sedia menopangku dengan segala yang ada pada dirinya.

Kalian tidak akan mungkin bisa seakrab dalam benakku, aku harus mengakuinya. Dan aku mencoba mengerti. Menempatkanmu pada hatiku, bahkan sekedar sebagai sahabat. Lalu ia yang harus kujunjung tinggi tanpa cela. Aku tahu. Dunia tak akan seadil itu. Kita tak akan mungkin dapat memiliki semua yang kita inginkan. Selalu ada rencana Tuhan bukan?

Aku memang bukan Bella yang mampu membuat Jacob dan Edward menurunkan egonya selain demi kebahagiaan Bella. Itu hanya ada dalam cerita. Sebuah kenyataan tidak mungkin bisa berjalan seharmonis itu. Bahkan jika Jacob harus merelakan cintanya demi membuat Bella bahagia bersama Edward. Ini adalah cerita dalam khayalan seorang penulis. Yang mampu membuai wanita manapun, termasuk aku. Tapi kehidupanku tentu berbeda. Entah siapa yang kehidupan nyatanya seberuntung Bella.

Maka mungkin akan kubiarkan cerita tentang kamu yang akan begitu akrab dan ringannya bercengkerama dan bercanda dengannya, dalam pikiranku saja. Dalam tulisanku yang lain. Dalam setiap anganku. Bagaimanapun, jika aku tak berhak mengatur kehidupan setiap orang, tak akan ada yang berhak mengatur apa yang ada di dalam pikiranku.

Mungkin aku bisa bahagia dengan cara itu.

Kamu, dalam benakku sebagai sahabat terbaikku.
Ia, dalam benakku sebagai orang yang begitu sempurna. 
Aku, dalam benakku menjadi orang paling beruntung memiliki kalian.


To be continued..?




Gambaran keakraban seperti ini, mungkin selamanya hanya akan kumiliki dalam benakku saja
Foto dari sini




________
Kisah ini terlalu panjang untuk dapat ditulis dalam satu babak. Mungkin nanti akan ada lanjutannya.. atau dalam benakku saja?

Jumat, 11 November 2011

Balada Si cupu dan kuper: Bagian 2

*Fiuh
Source

Pada kemudian saya memutuskan untuk bersabar menghadapinya. Saya ingin melihat, kala suatu saat saya dapat menyelesaikan apa yang mereka limpahkan pada saya, yang mana semua itu seharusnya dapat saya perjuangkan untuk saya tolak mentah-mentah. Beberapa kali sang manajer mengatakan bahwa pekerjaan itu mudah, segitu mudahnya sampai-sampai mereka tidak punya waktu untuk mengerjakannya. Saya hanya tersenyum. Sambil lalu, saya meremas gemas lengan rekan satu tim saya. Mereka hanya tertawa, menikmati saya yang akan terlihat sibuk dan berkonsentrasi mencerna 'makanan baru' saya.

Saat itu, seringkali, pekerjaan rutin yang menjadi kewajiban saya berhasil saya kerjakan dengan cepat sehingga sesuai dengan perhitungan saya. Saya pun bisa menggunakan jam kerja sore saya dengan sedikit santai. Lalu wanita ini masuk dan dengan logat sundanya yang masih menyisakan sedikit gaya yang khas mulai berseloroh mengenai saya yang tidak punya pekerjaan. Membuat celotehan yang memperesentasikan bahwa saya di kantor ini hanya memanfaatkan gaji yang saya terima setiap bulan tanpa melakukan pekerjaan yang berarti.

Lalu mereka tidak melihat bahwa setiap kali artikel yang saya buat rutin dua mingguan tidak pernah absen mengisi majalah kantor tiap terbitnya. Dan setiap kali pujian yang disampaikan mengenai kinerja departemen tempat saya bernaung yang semakin baik sejak kedatangan saya. Begitu juga ketika artikel yang saya buat mendapatkan acungan jempol karena manfaatnya. Saya juga melakukan pekerjaan yang seringkali dilupakan oleh team saya, semampu saya. Dan itu bukan berarti hal tersebut menjadi suatu keharusan atas pekerjaan rutin saya. 

Saya memiliki ruang lingkup pekerjaan saya sendiri, begitupun mereka. Dan saya beruntung memiliki beban terhadap diri saya sendiri bahwa saya memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan saya, berikut tidak lupa menyelesaikan pekerjaan yang dilemparkan pada saya. Bagusnya, saya tidak pernah melupakan bahkan untuk pekerjaan yang seharusnya dapat saya abaikan.

Tapi saya tidak bisa begitu saja membiarkan team menjadi begitu berantakkan karena beberapa pekerjaan terbengkalai hanya karena seseorang yang seharusnya mengerjakan pekerjaan itu menjadi lalai karena sedang dilimpahi tugas yang lebih besar dan lebih penting. Jadi saya kerjakan pekerjaannya, sampai kemudian manajer mengatakan sebaiknya mungkin saya yang harus mengerjakan pekerjaan itu karena saya tidak pernah lupa.

Saya akan mendapatkan pengetahuan lebih karena mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, karena kemampuan multi-tasking dan pembagian konsentrasi saya yang baik. Sehingga setiap pulang kantor saya harus merasakan migrain yang tiada henti. Kadangkala saya mesti menahannya agar tidak begitu terlihat dari raut wajah saya. Yah, setidaknya pengetahuan saya bertambah.

Saya mungkin tidak sepintar kalian yang berjenjang pendidikan strata 1, tetapi saya lebih memiliki tanggungjawab dan pengertian jauh diatas jenjang pendidikan kalian. Setidaknya, saya tidak sepintar kalian dalam mendelegasikan pekerjaan yang seharusnya kalian kerjakan, bahkan dengan bodohnya saya tetap mengerjakan pekerjaan itu walaupun dapat saya tolak dengan berbagai alasan. Mungkin suatu saat saya harus belajar olahraga lidah, juga belajar menyunggingkan senyum diplomasi agar setiap orang tidak merasakan lidah saya yang tengah terjulur untuk mencoba menjilat. 

Selasa, 08 November 2011

Jangan paksa aku!

Ketahuilah bahwa, aku datang, bukan berarti aku telah melupakan semua hal yang menyakitkan itu. Ketahuilah pula, aku pun tengah berusaha melupakan. Jangan khawatir mengenai maaf itu, kalian tak usah merepotkan pikiran kalian, karena aku pun tidak mau merepotkan diri sendiri dengan menyimpan dendam. Tapi untuk lupa, tolong ajari aku. Karena cara lama yang kugunakan untuk tidak mengingatnya, malah semakin membuatku semakin erat pada ingatan itu.

Bila mungkin, apa sebaiknya aku membuat diriku agar hilang ingatan? Melupakan semua yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukannya? Sepertinya itu dapat membuat kalian semua senang. Agar aku bisa menjadi aku yang kalian harapkan. Ibu akan senang karena merasa anaknya telah kembali seperti yang beliau kenal, kau akan senang karena telah mendapatkan aku sesuai maumu, bahkan simbah tak perlu repot meyakinkanku bahwa beliau sudah begitu cocok dengan karaktermu, juga adik-adikku yang akan tersenyum girang dan leluasa bergaul denganmu. Tapi maaf, aku belum seberuntung itu untuk mendapatkan anugerah itu. Aku. Belum bisa. Lupa


Ah, sepertinya aku kembali menyeracau. Topik pada tulisan kali ini seharusnya bukan tentangmu, tapi selalu kau yang terlibat. Entah kapan, tapi ketika kau suatu saat membaca tulisan ini mungkin akan timbul kesal lagi padaku. Atau mungkin kau akan mengirimkan mentah-mentah tulisan ini pada orang yang kau kehendaki. Oops, maaf aku menceracau lagi.

Tulisan ini mungkin biasa, seperti keluhan biasa, atau gerutuan. Tapi untukku, ini adalah bagian dari diriku yang tak mampu kujelaskan dalam bentuk kalimat dalam nada suaraku sendiri. Aku akan menangis sebelum sampai pada apa yang ingin kusampaikan, bila kalian memaksaku mengutarakan alasanku mencoba menghindarinya sebisa mungkin. Jadi.. Jangan paksa aku untuk melupakan! Karena aku tidak sehebat itu untuk memiliki hati seluas yang kalian harapkan. Kalian bukan aku, jadi kalian tidak bisa menempatkan diri di posisiku dan menjadi sok tau. Tidak akan mungkin semudah itu aku melupakan perilakunya terhadapku. Tidak untuk saat ini, atau entah sampai kapan.

Source

Kamis, 03 November 2011

Educating me


Saya ingin sekolah lagi. Melanjutnya jenjang pendidikan saya yang hanya alakadarnya. Beberapa hari belakangan ditengah kesibukan kerja, saya sesekali mengintip ke halaman web yang berisi tentang informasi kuliah sabtu/ minggu atau kuliah karyawan. Rasanya, ingin melanjutkan jenjang pendidikan strata saya. Entah kenapa, hasrat itu kembali muncul. 

Saya pernah punya harapan dapat memperoleh pendidikan paling tidak sampai S2, dimana saya dapat menjadi contoh yang baik untuk anak saya kelak. Selain tentunya untuk menaikkan kelas saya di dunia kerja, juga saya tidak ingin membiarkan otak saya tumpul terlalu lama karena tidak di asah dengan pendidikan.


Semasa dulu saya mengambil pendidikan diploma, saya hanya berfikir bagaimana caranya agar sekolah cepat dan dapat segera mencari pekerjaan, setidaknya jika tidak bisa membantu meringankan beban keluarga, saya dapat sekedar memberi penghidupan untuk saya sendiri sehingga ibu bisa sedikit santai dalam memikirkan biaya untuk saya dan adik-adik saya. Setelah mendapat kerja, kelak saat itu saya berharap dapat meneruskan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi, dengan maksimasi strata 2. Tidak perlu terlalu tinggi sampai meraih gelar Doktor atau Profesor, karena saya sadar perhatian saya kelak akan lebih melulu banyak untuk mengurus keluarga, terlebih anak saya kelak. 

Saya tidak ingin membiarkan otak saya berdiam diri menghadapi rutinitas dunia kantor yang menjemukan, maka saya perlu mencari hal baru untuk terus melatih otak saya. Opsi lainnya selain melanjutkan sekolah adalah mengikuti kursus. Tahun lalu saya memiliki beberapa rencana terkait dengan dunia pendidikan yang ingin saya tekuni. Mengejar impian untuk menguasai berbagai bahasa, juga melanjutkan pendidikan. Namun semua sepertinya harus tertunda, atau mungkin tidak akan mungkin bisa saya lakukan, mengingat begitu banyak hal menyita perhatian dan pikiran saya. Otak saya mungkin bisa menjadi tumpul dengan terbaginya perhatian kepada beberapa hal yang malah menguras emosi jiwa saya. Maka, saya punya harapan (Tuhan, berbaik hatilah pada hambaMu kali ini, AMIN) untuk tahun depan saya bisa melanjutkan jenjang pendidikan saya, atau setidaknya telah mendaftar di salah satu kursus yang saya minati.

Saya harus tetap bertahan hidup di tengah kondisi saya saat ini. Paling tidak, jika saya impian saya terhadap kehidupan pribadi saya tidak dapat terwujud seperti kemauan saya, saya akan tetap dapat bertahan hidup dengan ilmu yang saya telah enyam. 

Saya bukannya pesimis, tapi hidup itu harus terus memiliki rencana, apapun kondisinya. Saya tidak ingin suatu saat terjebak dalam kondisi dimana saya tidak memiliki apapun untuk sekedar melangkah maju, atau bahkan sekedar bernafas. Saya ingin mempunya beberapa langkah cadangan sekedar untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Saya perlu sekolah, melanjutkan jenjang pendidikan saya. Agar otak saya tidak tumpul, agar saya dapat bertahan hidup dengan layak.

Kapan ya bisa sekolah lagi?
Source


Kamis, 29 September 2011

He-ning

Source

Hening.

Bahkan saat waktu tengah memelukku hangat pun aku tak sanggup meraih diriku sendiri. Ada banyak peristiwa yang terlintas dalam rona wajah itu. Yang kepadanya aku membagi kisah. Berserabut terbayang. Perlahan terbang menepi, membingkai kerapuhan dengan kejujuran. Menyulami satu-persatu bagian yang bolong dengan benang kasih sayang.

Dalam diam, kesabaran itu seperti memohonkan ampun pada nestapa. Sepertinya hendak menyerah. Telah tercecer jauh tinta yang tertoreh pada lembaran kertas kehidupan. Tak akan mungkin terhapus, akan tersimpan. Mungkin suatu saat akan terbaca. Dan tak akan kubiarkan siapapun menemukan kuncinya. Karena akan ku tanam dalam-dalam, lengkap dengan jejak yang akan terhapus oleh hujan. Mungkin akan kujagai sang malam untuk meyakinkanku tak akan ada yang menguntit.

Hening.
Memeluk itu membutuhkan kedua tangan yang terbuka dengan rela. Juga sebuah tempat yang tersedia di hati. Entah dimana nanti harus kutemukan tempatnya. Dan bagaimanapun, kedua tangan ini harus terbuka dengan rela.

Hening.
Ah.. ceracau ku siang ini. Membingungkan ya.

he-ning.

Selasa, 27 September 2011

Mimpi-mimpi


Source


Saya jengah. Mungkin saya kesal. Atau apapunlah. Yang pasti, saya merasa janggal. Ada yang aneh. Dan saya masih tidak tahu apa itu. Saya hanya merasakan. Beberapa orang bilang intuisi saya sering benar, dan saya sering (entah kebenaran atau memang demikian seharusnya yang terjadi) mendapatkan gambaran mengenai kejadian yang akan terjadi di kemudian hari, dan itu terjadi. 

Saya jarang bermimpi ketika tidur. Mungkin karena saya lupa tentang mimpi saya saat saya sudah terbangun dari tidur. Tapi saya ingat, sewaktu kecil saya seringkali mendapati mimpi saya yang menjadi kenyataan. Beranjak dewasa, ada beberapa mimpi saya yang berubah menjadi kenyataan jika saya tidak menceritakan mimpi saya itu. Entah kebetulan atau memang kejadiannya seperti itu, tapi hal itu selalu kejadian. Kadangkala, saya sering sengaja menceritakan mimpi  yang saya alami dengan harapan mimpi saya itu tidak akan menjadi kenyataan, paling sering jika saya mengalami mimpi buruk ataupun mimpi yang tidak saya sukai. Dan beberapa mimpi menyenangkan akan saya simpan untuk diri saya sendiri. Seperti kebetulan, mimpi yang saya ceritakan tidak akan kejadian, sementara mimpi yang saya simpan sendiri tak berapa lama akan menjadi kenyataan. Seperti de javu.


Kenyataannya, mimpi yang saya bangun saat saya dalam keadaan terjaga malah tidak ada yang terwujud.
 
Teman-teman saya terkadang memandang saya dengan tatapan ngeri atau aneh. Saya hanya tertawa. Terkadang muncul sesekali celetukan mereka yang mengaku takut bila berhadapan dengan saya. Memangnya saya ini apa? Saya kan sama manusia juga, makan nasi (bahkan lebih banyak daripada mereka), dan bernafas dengan paru-paru lewat hidung juga sama seperti mereka. Kengerian itu bertambah saat saya sempat menambahkan bahwa saya sering mendapati bermimpi tentang kematian seseorang dan tak lama akan menjadi kenyataan. Raut wajah mereka yang saya ceritakan serta merta akan berubah ngeri. 

“Kalo lo mimpiin gue mati, jangan ceritain sama gue ya!”

Saya hanya meringis, terkadang menambahkan sedikit tawa dan mengatakan bahwa mungkin saja semua itu hanya kebetulan. Beberapa ada yang alasan yang saya kemukakan, beberapa masih menatap saya aneh dan heran. Saya biarkan. Mereka bebas berpandangan apapun tentang saya, asalkan tidak mengganggu saya.

Saya banyak bermimpi buruk akhir-akhir ini. Dan karena saya tidak ada yang dapat saya ceritakan tentang mimpi-mimpi buruk saya itu, saya menuliskannya pada catatan pribadi saya. Sebenarnya saya sendiri tidak begitu mempercayai kebetulan yang terjadi sehubungan dengan mimpi yang saya alami, tapi saya merasa sedikit tenang dengan mencatat mimpi-mimpi buruk yang saya alami untuk sekedar pengingat. Sejauh ini, belum ada satupun mimpi buruk yang saya catat yang jadi kenyataan. Entahlah.. kita lihat nanti. Terkadang saya pun sedikit ngeri dengan diri saya sendiri, tapi saya tidak mungkin merasa takut terhadap diri saya sendiri, kan? 


 
*******
Dan saya tidak berminat untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan saya. Biar saja, harus saya akui, kadang mimpi saya membantu saya. hehehe...
 
Apa saya memang aneh?

Senin, 22 Agustus 2011

Trust

Ingat lambang ini?
Source


Kamu tahu dengan pasti bagaimana perasaanku padamu

Promises made and broken
Hopes raised and then dashed
Sweet words have been spoken
But My Darling, is this the time promises last?
(P.M Montgomery)

Aku sengaja mencari tulisan itu untuk postingan kali ini. Karena otakku terlalu tumpul untuk merangkai kata-kata ku sendiri. Maaf, tapi aku terlalu kalut untuk mencari tahu dimana letak salah dalam perlakuanku padamu.

Up and down, round and round,
Our lives have been wild,
Oft times it's been like a carnival ride.
But through it all, there has been one constant thing,
Without you, my world is not worth living.
(P.M Montgomery)

Jo, ku..
Jo, ku yang dulu. Aku yang terlalu tenggelam dalam kharisma yang tanpa sengaja menerangi perjalanan hidupku. Aku yang terpesona oleh begitu banyak peluh yang terjatuh untukku. Aku yang terlanjur mencandu mu. Kamu yang dulu.
Jo, ku..

Now, I choose to believe once again.
I place my heart in your hands.
Don't break it. It's fragile;
Held together by hope and a dream.
(P.M Montgomery)

Haruskah kutanam lagi kepercayaan itu padamu? Bagaimana bila kembali rusak? Darimana harus aku mengulang? Aku bahkan tidak tahu bagian mana yang rusak atau rapuh. Ini adalah kepercayaan yang aku bahas, kepercayaan yang pernah tertuang dalam tulisanmu yang lalu. Kepercayaan yang kamu tawarkan untuk aku sampirkan di punggungmu, yang menjadi pegangan kesukaanku.

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
(Robert Frost)

Aku..  entah harus menyebut apalagi untuk ungkapkan yang kurasa. Memaafkan, dan melupakan. Tolong ajari aku caranya. Karena sepertinya aku kesulitan melakukan keduanya. Perjuangkan perasaan itu.. apakah harus dengan melalui jalan seperti ini?


Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I-
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference
(Robert Frost)

Kamis, 18 Agustus 2011

Permohonan

Source




Aku mau tanya, kemana kalimat berselubung keangkuhan yang pernah kau sampaikan padaku dengan balutan nada lembut nan bijak itu? Kau kemanakan semuanya? Karena kalaupun kau sembunyikan sekalipun, aroma keangkuhan itu masih dapat kucium dengan samar, bahkan dalam permohonanmu.

Lalu apa yang mau kau tunjukan dengan permohonan itu? Sebuah sandiwara lain dihadapan wanita dan pria renta yang melahirkan ayah tersayangmu ke dunia kah? Apa yang kau harap aku akan lakukan saat mengucapkan permintaan itu? Aku yang berusaha untuk terlihat bahagia bersanding disampingmu dihadapan mereka merayakan hari raya umat muslim sedunia? Ikut denganmu membodohi seluruh keluarga besarmu?

Kau itu sebenarnya sudah tahu bahwa apapun yang kau harap aku lakukan tuk bermanis - manis didepan mereka itu percuma. Mereka tidak sebodoh yang kau pikir. Mereka sudah tahu ada yang tidak beres dengan kita, denganku terutama. Tapi entah apa yang ada di benakmu dengan melakukan permohonan itu. Berharap suatu saat aku dapat mengembalikan perasaan yang dulu pernah ada untukmu? Tanyakan itu pada dirimu sendiri bagaimana kau memperlakukanku bila memang ada harapan itu sempat terbersit di benakmu.

Berhentilah bicara seolah - olah kau yang paling benar tentang hal yang menyangkut hubunganku dengan Tuhan jika kau memang hanya ingin sekedar berbagi pemikiran. Aku hargai usahamu, tapi tak dapa kuterima caramu menyampaikannya padaku. Salah. Dan tidak dapat kumengerti.

Kita lihat, apa aku akan berubah pikiran dengan permohonanmu. Walau kau ucap bahwa kau mohonkan dengan sangat permintaanmu itu.

*******
Jangan coba menguji kebaikanku

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...