Tampilkan postingan dengan label Hei. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hei. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2012

Bebal

Bersabarlah aku
Maka hati ini akan tenang
Bersabarlah aku
Maka semua kesedihan akan berlalu
...


Tidak peduli apa yang akan kalian pamerkan. Seharusnya beberapa kali kusingkirkan kalian dari daftar kontak ku sudah membuat kalian mengerti bahwa aku tidak ingin berhubungan dengan kalian. Tapi dasar kalian bebal. Maka kalian akan terus tambahkan aku lagi dan lagi pada kontak kalian yang kosong.

Memangnya kita pernah ngobrol? Tidak pernah. Dulu iya. Tapi tidak lagi setelah aku terlalu risih dengan jari-jari kuku kalian yang tajam dan perih menggaruk punggung kehidupanku. Maka aku berkali-kali menyingkirkan kalian. Dasar bebal. Maka kalian tambahkan aku lagi dan lagi. Walau akhirnya hanya sebagai pajangan.

Ini menggelikan. Kalian bahkan masih terus mencicit dengan bibir kalian dan pikiran sempit kalian. Berlagak begitu bijaksana dan berlapang dada. Padahal aku tahu kalian tak bisa berubah. Watak itu sudah mendarah daging sepertinya. Maka kalian akan teruskan menjadi ababil ditengah umur yang merangkak naik.

Aku kasihan pada kalian.



Bersabarlah aku.. maka semua yang buruk akan berlalu
Foto dari sini


__________
Melihat banyak notifikasi tentang beberapa mereka yang mengaku 'teman' tapi hanya di mulut. Membuat kepala saya tambah sakit dan pusing!

Selasa, 15 November 2011

Balada si cupu dan kuper: Bagian 3

Perdebatan itu tidak nyata-nyata terjadi begitu saja. Kami tidak berhadapan wajah, juga tidak saling melemparkan tatapan sengit. Saya berusaha semampu saya untuk menjaga intonasi suara saya, juga nada bicara yang demikian saya jaga untuk tidak terlalu terlihat bahwa saya marah. Ya. Saya marah. Demikian marah sehingga kepala saya masih sakit sampai sekarang.

Kejadiannya cukup sederhan, tapi menyentil emosi saya sedemikian rupa sehingga terlontarlah kalimat-kalimat bantahan itu. Dan saya tetap mengerjakan permintaan tolongnya. Mengajari anak baru itu mengenai program baru bukanlah hal sulit, hanya memberikan sedikit demo pengenalan produk dimana seharusnya ia maupun anak buahnya itu dapat melakukannya.

Karena kebetulan sekali mereka yang menggunakan program itu, dan saya adalah pekerja yang memonitor hasil kerja yang mereka kerjakan dengan program baru itu. Sayangnya, program itu tidak pernah diketahui olehnya, kedudukannya yang lebih tinggi membuatnya mampu memberikan gambaran bahwa cukup anak buahnya saja yang menggunakan program tersebut dan ia akan cukup menjulurkan lidah dan memainkan nada suara dengan sedemikian manisnya jika ditanya mengenai pengetahuannya mengenai hal itu. Demikian mudahnya. Kemampuan menjulurkan lidah yang sempurna.

Saya terbiasa menyelesaikan pekerjaan saya dengan cepat sehingga saya memiliki waktu luang untuk sekedar melepas penat dari keruwetan pekerjaan saya. Manajemen waktu saya terbilang baik, dan saya tidak serta merta bangga dengan hal itu. Karena kemudian hal itu hanya dipandang sebelah mata oleh beberapa orang. Bahwa ketika mereka melihat saya tengah bersantai dan tidak mengerjakan apapun, maka yang terlintas dalam benak mereka adalah saya hanya makan gaji buta.

Lalu ketika pekerjaan itu menyita hampir seluruh waktu saya, bahkan sampai melebihi jam kerja kantor saya, mereka toh tetap menggerogoti waktu saya. Bahkan sempat-sempatnya berseloroh bahwa akhirnya saya terlihat bekerja oleh mereka. Jika saja ruangan itu tidak dibuat secara terpisah-pisah, saya ingin sekali melihat ekspresi mereka ketika saya mampu menyelesaikan pekerjaan saya dengan cepat, rapih, dan tidak melupakan satu detailpun.

Saya bukannya tidak tahu bahwa anak buahnya itu sedang dibebani banyak pekerjaan, tetapi bukan berarti ia juga harus menutup mata terhadap pekerjaan saya. Jadi, seandainyapun ia tidak mampu memberi sedikit penggambaran mengenai pekerjaan yang akan dilimpahkan kepada anak baru itu, bukan berarti juga saya yang harus meninggalkan pekerjaan yang tengah saya kerjakan meskipun hanya sebentar.

Silahkan saja berdalih bahwa itu adalah bagian dari tugas saya karena saya yang lebih banyak menggunakan program tersebut. Tapi cobalah berhenti berpura-pura seolah-olah anda tahu betul mengenai program tersebut, karena jika anda benar-benar tahu mengenai program itu, anda akan menggunakannya dan tidak akan ikut memperhatikan demo yang saya lakukan ketika saya tengah menjelaskan mengenai program tersebut kepada anak baru itu.

Dan hentikan berbicara kepada saya dengan senyum menjijikan itu, karena saya cukup paham maksud anda. Tenang saja, saya bukanlah sang manajer yang mampu tunduk hanya karena terkena liur maupun kerlingan mata anda yang mampu meninggalkan garis melengkung tipis saat anda tertawa maupun tersenyum itu. Saya mungkin cupu dan kuper, tapi saya mampu lebih melihat ke dalam hati dibanding anda yang berpendidikan tinggi dan terpelajar.

Sekali lagi jika hanya menilai sesuatu berdasarkan gaya pakaian dan penampilan luar saja, tentulah bisa terlihat sebagaimana berhasilnya pendidikan tinggi yang anda enyam bahkan sampai keluar negeri itu. Percuma Pak!

Kepala saya sakit sejak perdebatan itu. Menjadi emosi seperti ini benar-benar memberi efek buruk untuk saya. Suatu kemunduran, sama sekali tidak menguntungkan.


Kesalnya
Source

___________

Menyebalkan *Jambak rambut*

Kamis, 10 November 2011

Si cupu dan kuper



Pada suatu rapat pertemuan seseorang dengan tiba-tiba berseloroh, menjuluki saya jenius karena salah satu celetukan yang saya lemparkan dapat mendatangkan ide bagus untuk mengatasi salah satu masalah yang tengah jadi topik pembahasan. Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi ramai oleh tawa dan pujian yang bersifat sindiran. Bahwa saya yang selama ini terlihat tidak begitu pintar mampu mengutarakan sebuah solusi.

Saya tersenyum, berpura-pura tidak mendengar salah seorang junior manajer yang kebetulah duduk berhadapan dengan saya. Memamerkan deretan gigi saya yang berbalut bracket pada salah satu rekan kerja saya yang cukup akrab pada saya, saya mengendikkan bahu. Rekan kerja saya tersenyum mahfum, seperti menyadari bahwa adegan barusan itu terlalu berlebihan. Saya meninju ringan pundaknya, dan kami tertawa.

Pada beberapa waktu sebelumnya, ketika dalam kesempatan ngobrol melepas rutinitas pekerjaan, dan saya melontarkan beberapa referensi tempat makan yang saya tahu. Seseorang, sang juniot manajer itu kembali menyelidik saya. Mengutarakan bahwa dibalik penampilan saya yang seperti orang aneh atau kuper ini ternyata menyimpan banyak kejutan. Disebutkannya mengenai koleksi lagu saya yang ia tahu dan seringkali membuatnya tercengang, lalu pilihan buku bacaan saya, juga tulisan-tulisan saya yang sempat tidak sengaja dia baca. Pun demikian tetap saja dia menitikberatkan pada cara berpakaian saya yang dinilainya tidak memenuhi standar wanita pekerja kantoran pada umumnya.



Saat itu saya hanya berseloroh sambil lalu, bahwa dibalik tingkat pendidikannya yang tinggi itu, dia rupanya belum mempelajari filosofi "Jangan menilai buku hanya dari sampul luarnya saja". Kembali seisi ruangan tertawa, seolah-olah saya telah melakukan sebuah manuver yang cukup telak untuk junior manajer itu. Tapi saya lebih melihatnya sebagai bahan ejekan baru, atau paling tidak saat mata mereka saya tatap, saya masih melihat sikap meremehkan itu. Saat itu saya masih tertawa, namun terasa hambar. Rasanya kerongkongan ini kering.


Waktu itu dengan datangnya beberapa rekan kerja baru, saya merasa senang karena mungkin ruangan tidak akan lagi sehampa saat ditinggal beberapa rekan kerja saya yang memilih untuk mengundurkan diri karena ketidakjelasan ruang lingkup pekerjaan, juga karena dari rumor yang saya dengar, junior manajer terlalu berambisi untuk menaikkan posisi dengan memborong beberapa project pekerjaan secara membabi buta. Selentingan yang saya tangkap dari pembicaraan antara beberapa orang yang masih dalam tim saya sepertinya menyalahkan kinerja junior manajer dalam mengorganisir anak buahnya. Sehingga ketika tekanan itu semakin tidak menentu, maka pilihan satu-satunya adalah mencari lahan usaha lain.

Bahkan Ricky, rekan kerja saya yang dulu sering beradu argumen dalam hal candaan dengan saya malah mendapatkan posisi yang lebih baik dari junior manajer, tentu saja dengan jenjang upah yang lebih menjanjikan dibanding disini. Sedang laki-laki yang saya beri panggilan khusus yang cukup baik dengan saya itu kabarnya tengah memulai usaha sendiri. Sedang satu pria yang disini dijuluki mirip dengan Ariel Peterpan itu juga mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih menjanjikan disini. Terakhir, saat Mas Ega, satu orang yang paling sering memanjakan saya dikantor akhirnya pergi (Saya cukup sedih dan kehilangan saat itu), malah akan terbang ke Dubai untuk meneruskan karir bersama sang istri yang juga telah lebih dulu meniti karir disana.

Saat itu, terpaksa semua project terhenti, karena pengunduran diri mereka yang mendadak dan secara berurutan dinilai sebagai salah satu bencana bagi departemen. Dan saya sempat kebagian beberapa back up pekerjaan yang benar-benar tidak pernah saya kenal sebelumnya. Apa daya, lingkungan kantor saya bukanlah lingkungan yang dapat menghargai dan menghormati bahwa setiap orang telah melakukan perjanjian kerja dimana ada kesepakatan terhadap satu ruang lingkup kerja tertentu, dimana tentu saja saya dapat menolaj pekerjaan yang bukan pekerjaan saya. Tapi pada kenyataannya, dunia kerja tidak seperti dunia sekolah, dan perintah atasan langsung menjadi sebuah mantra yang bila ditolak, tentu akan mengakibatkan posisi pekerjaanmu semakin mendapatkan tekanan. Jadi, saya berusaha menerima dan mengerjakan beberapa limpahan pekerjaan itu.

Singkatnya, Manajer saya juga sepertinya melihat bahwa kebutuhan departemen semakin mendesak, belum lagi kebutuhan pribadi untuk mendapatkan posisi yang lebih baik dari posisi yang dimilikinya saat ini, akhirnya dua orang baru datang sebagai pengganti empat rekan kerja saya yang telah mengundurkan diri. Saya pikir, dengan hadirnya dua orang baru ini, setidaknya akan ada perubahan berarti, paling tidak, kita semua bisa belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa menitikberatkan sebuah beban lebih dari kesanggupan adalah sebuah cara yang akan mendatangkan kerugian pada diri kita sendiri.

Awal mula masuk, seperti kebanyakkan karyawan lainnya, sikap masih malu-malu, yang kemudian berubah menjadi memalukan. Ini adalah arti dalam kamus pergaulan saya, dan bukan seperti yang sering dijadikan lelucon di kalangan bebas. Kebiasaan junior manajer mencela dan merendahkan saya malah dijadikan acuan untuk mereka ikut jejak junior manajer. Saya punya hak untuk marah, tapi sepertinya terlalu kekanak-kanakkan untuk meladeni setiap kalimat yang mereka lemparkan pada saya. Bahwasanya saya adalah bukan orang yang dapat seenaknya mengutarakan kekesalahan bahkan amarah, bila saya merasa tidak nyaman dengan orang itu. Paling mudah, saya anggap angin lalu, atau lebih mudahnya, saya anggap mereka tidak pernah hidup di dunia yang sebenarnya.

Itu anggapan saya dulu. Tidak saat kemudian ditengah gempuran berbagai project yang harus segera diselesaikan ini saya kembali menjadi satu-satunya yang terlihat paling lemah dan dapat dimanfaatkan sedemikian rupa. Ditengah rapat, saya biasa dapat muntahan pekerjaan yang seringkali ditolak oleh mereka yang merasa lebih kompeten untuk mengerjakan pekerjaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi, bahkan jika itu adalah termasuk dalam ruang lingkup kesepakatan perjanjian kerja mereka sendiri. Tapi ketika muntahan itu saya terima diluar dari berita yang seharusnya saya ketahui, saya merasa terhina dan tidak senang. Ini seperti seolah-olah saya hanyalah pelengkap penderita mereka saja yang dapat langsung digunakan apabila mereka kehilangan sebuah wadah untuk memuntahkan hal yang mereka anggap tidak begitu akan terlihat hasil kerjanya.

Pekerjaan mudah dan ringan, menurut mereka. Yang hanya akan dapat mereka selesaikan dengan kedipan mata. Lalu mengapa mereka tidak kerjakan jika untuk menyelesaikannya saja bahkan lebih mudah daripada bernafas? Saya hanya ingin meneriakkan kalimat itu di telinga mereka, bahkan kepada karyawan baru yang langsung menjadi kesayangan junior manajer hanya karena ia bersikeras mengetahui segala hal dan menguasai segalanya. Dan saya tetap menjadi si cupu dan kuper yang dapat diberikan limpahan pekerjaan yang kemudian jika saya berhasil mengerjakannya akan membuat mereka terkagum-kagum kaget.

Saya mungkin berpakaian alakadarnya, dan apa adanya. Saya tidak sepintar mereka yang berkutat pada bidang yang mereka sudah tekuni sejak lama, bahkan jenjang pendidikan saya sangat amat jauh berbeda dengan tempat dimana saya duduki saat ini. Kemampuan saya meningkat karena saya belajar, bahkan dari hal yang hanya pernah saya dengar namanya ditelinga saya, atau bahkan untuk hal yang saya belum pernah mengetahui sebelumnya.

Saya, si lulusan manajemen ini akhirnya berani menerima pekerjaan di bidang IT berdasarkan belajar dan keingintahuan. Dan saya mau belajar! Jikapun saat itu saya tidak terjebak dengan kebutuhan pemenuhan kehidupan yang tidak mendesak, mungkin saya sudah menekuni bidang yang sesuai dengan pendidikan saya saja. Itu bahkan kalian tidak dapat melihat. Sama seperti kalian yang akan menatap jijik pada deretan data yang telah saya kumpulkan pada excel saya, karena kalian tidak mengerti excel, bahkan menolak mempelajarinya.

Lalu kalian akan memicingkan mata dan menyunggingkan garis bibir kalian membentuk kiasan kurva melengkung sebagai icon senyum dan meminta saya untuk mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan microsoft office yang membuat kalian jijik itu. Dan saya juga harus mengerjakan pekerjaan yang menguras keringat dan kerut saya karena bahkan bahasanya baru saja saya dengar saat itu. Tapi saya belajar, saya kerjakan, karena saya tidak selihai kalian yang dengan leluasa dapat main ping-pong dengan lisan kalian yang licin itu. Saya, yang kalian juluki cupu dan kuper inilah yang akhirnya menyelesaikan pekerjaan kalian. Dan bahkan kalian tidak dapat melihatnya sebagai sebuah usaha yang utuh. Bahwa itu bukan bidang yang saya tekuni sejak lama, bukan passion saya, dan bukan dunia dimana saya tertarik untuk terlibat.

Saya banyak belajar, karena saya butuh. Setidaknya saya sanggup menopang tubuh saya sendiri, bila saya masih susah menghidupi keluarga saya. Tapi jika kalian lihat dengan hati kalian, saya ini juga manusia, dan bukan robot. Seringkali bila kalian terlalu tenggelam dalam tawa setelah mengejek saya yang cupu dan kuper ini, kalian lupa bahwa saya juga manusia seperti kalian. Bahwa dibalik pakaian lusuh dan sendal jepit ini adalah orang yang senantiasa bersedia membantu kalian tanpa perlu disebutkan satu-persatu jasanya. Saya tidak butuh itu, tak butuh medali atau penghargaan, hanya butuh tatapan yang sama seperti saat kalian menatap sesama kalian.





___________
Sepertinya ceracauan ini akan berlangsung sampai minggu depan. *Fiuhhhh*

Minggu, 25 September 2011

Jadi...

Enough
Source


Jadi, kau sudah menikah sekarang? Bagaimana perasaanmu? Bahagiakah? Kuharap demikian. Bukankah itu yang selama ini kau impikan? Menikah. Dengan siapapun yang mau melamarmu. Mengapa aku seperti sedang menyindirmu ya? Ah, biarlah. Memang itu pengakuanmu padaku.


Jadi, katakan padaku. Apa yang ada dipikiranmu saat aku menyapamu hari itu? Menanyakkan kelanjutan kehidupan yang sempat kau keluhkan padaku. Sebuah percakapan lewat dunia elektronik antara aku, kau, dan teman kita yang satu lagi. Rentetan kalimat yang kulontarkan karena statusmu itu hanya kau baca, tanpa sekalipun kau pernah coba untuk balas. Saat itu, kau yang tengah limbung dan bingung karena patah arang dengan seseorang dari masa lalu yang mengecewakanmu, dan cerita tentang orang yang kau hindari karena niat baiknya membina rumah tangga denganmu. Kau yang mengejar perhatianku untuk mendengarkan keluh kesah dan meminta saranku. Aku berikan seadanya, semampuku, karena pun hidupku tidak sesempurna itu. Hanya mencoba memberikan saran dari sudut pandangku. Dan kau mengiyakan. 

Jadi, nyatanya adalah statusmu sekarang tengah berbahagia. Menikah. Dengan pria yang kau ragukan keseriusannya dan yang telah kau tampik dari saranku. Kau ini kenapa? Membuatku jengkel saja. Aku yang telah kau seret untuk peduli dan kehabisan asa untuk menampik semua rongronganmu berakhir dengan tanpa sedikitpun kau pandang?

"Jadi dia nikahnya kapan?"

"Hari ini akadnya"

"Kok gue ga tau ya?"

"Masa sih?"

"Bbm gue dibaca doang"

"Hmm.. sibuk mungkin persiapan"

"Oh ya? Terakhir sempet kontak gue, ngeluh ngurus pernikahan itu ternyata ribet. Gue kaget tau-tau ngomong gitu. Gue tanya nggak dibales, dibaca doang bbm nya"

"Nggak gitu kok dia"

"Oh"

Jadi, ini sudah hampir seminggu sejak kulihat statusmu yang terakhir. Dan kabar dari temanmu itu. Apa yang ada dibenakmu? Menikah, lalu lupakan orang  yang kau sebut sahabat terbaikmu?

"Cukup tau aja deh"

Aku ini.. sepertinya memang selalu kesulitan bersahabat sesama wanita. Satu hal, mungkin aku tidak benar-benar menganggapmu sahabatku, mengingat, selama ini aku memang tidak pernah memikirkan untuk menempatkanmu pada posisi itu. Hanya saja, aku tidak suka dengan caramu memperlakukanku. Kau itu.. ah, sudahlah. Masa bodoh. Cukup saja kecewaku. Tenang saja, kau tidak seberharga itu, kok. Aku mengirimimu pesan hanya sekedar ingin tahu, apa kau masih mengenaliku. Itu saja. Tidak perlu merasa penting untukku. Kau itu sama saja dengan orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan pertemenanku.




*******

Jadi.. mungkin sebaiknya kuhapus saja semua kontak yang berhubungan denganmu. Karena jika karena alasanmu adalah sibuk sehingga tidak membalas pesan-pesank.. kau tidak akan sesering itu menyempatkan untuk berfoto, memajang fotomu dengan pasanganmu, berganti-ganti status, dan membaca semua pesan-pesanku!

Jumat, 23 September 2011

And here i am talking to you


To you there..
Source


Anda. 

Kita memang tidak saling mengenal dekat. Cukup saling tahu siapa saya dan siapa anda. Tapi sama sekali tidak berhak anda berurusan dengan urusan dalam kehidupan saya, sekalipun dalam nama persahabatan. Itu adalah urusan anda dengan dia, bukan dengan saya. Cukup anda urusi urusannya, jangan sekalipun menyentuh area pribadi saya.
 
Bahkan untuk apapun yang saya lakukan. Sama sekali bukan urusan anda. Tolong pahami, anda pun wanita seperti saya, dan bahkan tengah mendamba seperti yang saya juga tengah panjatkan doa. Tolong jaga tindakan dan langkah anda. Saya rasa saya sudah cukup menjaga diri saya sendiri dalam batasan perkenalan kita, walau tidak pernah terwujud dalam jabatan tangan. Entah kenapa perasaan saya selalu benar dalam menilai seseorang, dan anda bukanlah seseorang yang saya akan tempatkan dalam lingkaran saya. Sangat tidak penting.

Maaf, ini terdengar keras dan agak kasar. Saya hanya tidak tahan dengan sikap anda. Silahkan peduli dengannya, saya tak akan menghalangi. Silahkan membantunya, saya akan diam saja. Tapi tolong jaga pikiran dan ucapan anda. Jangan fitnah! Karena saya amat sangat sudah memberi toleransi dengan semua omongan anda tentang saya dalam lindungan kalimat yang diucapkan oleh wanita yang melahirkan anda. Ucapan dari seseorang yang memiliki ilmu diluar nalar. Dan itu salah. Salah besar. Hal yang bahkan membuat keadaan menjadi sangat salah. Dan saya benci. Saya benci fitnah. Saya benci kebohongan. Dan itu dapat membuat saya membenci anda walau saya itu tidak terjadi. Saya akan diam, tapi bukan berarti saya terima semua perlakuan anda. Saya tidak akan melakukan apapun terhadap anda, karena itu akan menjadikan saya sama rendah posisinya dengan anda.

Jadi, apakah hanya karena peduli, anda berlaku demikian terhadap saya? Apakah hanya karena alasan membantu, anda dapat bersikap demikian terhadap saya? Benar bukan karena perasaan lebih yang sempat tumbuh bahkan jauh sebelum saya hadir di tengah persahabatan kalian? Bahkan kalaupun benar, saya tak akan melakukan tindakan apa-apa. Silahkan bersamanya, dan bahagialah. Jika pun tidak terjadi, kalian belum berjodoh, mungkin itu kata yang lebih tepatnya. Maka berhentilah bersembunyi dibalik kata persahabatan, atau kalimat dengan dasar ilmu diluar nalar yang dilontarkan oleh wanita yang melahirkan anda. Itu menggelikan, dan menjijikan. Seperti kurang luas pandangan anda mengenai keberadaan Tuhan yang lebih dari segalanya. 

Ini hanya saran. Mulailah berlaku terhormat. Bijaksanalah dalam berpendapat. Anda sama sekali tidak tahu apa-apa yang terjadi dengan saya maupun dia yang anda akui sebagai sahabat. Anda bermunajat, maka bermunajatlah yang benar, mintalah padaNya yang memiliki kekuasaan itu. Sama seperti yang tengah saya lakukan. Carilah cara terhormat dan terpelajar yang sesuai dengan jenjang pendidikan yang anda enyam. Istiqomahlah, dan berlakulah pintar, bukan picik. Cerdaslah. Dan bermain dengan cantik. Belajarlah melihat dengan mata hati anda sendiri, tidak perlu mengandalkan orang lain yang sama sekali tidak tahu menahu. Lakukan jika memang anda ingin menjadi lebih baik, atau tinggalkan jika anda merasa tidak lebih terhormat dari saya. Dan sekali lagi, ucapkanlah di depan saya, itu lebih melegakan dan sedikit dapat mengembalikan derajat anda di mata saya. Saya akan terima dengan hangat dan senang hati jika anda memiliki keberanian seperti itu. Cobalah.. dan uruslah urusan anda sendiri.

Sekian.


*******
Aye, it's my brave belief
That grateful we should be,
Since in the heart of grief
Is love and sympathy,
We do not weep in vain,
So let us kiss the rod,
And see in purging Pain
The Grace of God
(Robert William Service)

Selasa, 16 Agustus 2011

That is not your territory

Watching me?
Source

I’m not playing hide and seek
So don’t bother to find the place I hide something
I’m not hiding
And I’m not seeking
I’m searching and struggling

*******
“Sampai matipun kujelasin ga akan ngerti kamu!”
Aku terpaksa melontarkan kalimat itu untuk menyudahi pembicaraan kita. Tapi kau itu memang bebal, susah sekali meladenimu bicara. Bahkan untuk hal yang sudah berkali – kali ku ulangi.
Aku telah mengorbankan perasaanku pada satu – satunya wanita paling kucinta sepanjang aku hidup demi satu hal  yang kau sudah tahu jawabannya, dan masih juga kau tanyakan hal yang sama: mengapa aku menginginkanmu melepasku.
Sudah hilang pikiran aku menerka – nerka apa yang ada di dalam pikiranmu. Kau hargai ikatan suci dan janji yang diucapkan di hadapan Tuhan, menurutmu aku tidak? Menurutmu yang selama ini kulakukan adalah upaya untuk mendurhakai agama dan pengetahuanku? Aku tengah memperjuangkan apa yang kau bilang janji dan ikatan suci itu. Aku tengah memperjuangkan selubung hitam yang membelit duniaku dan duniamu dalam ikatan suci yang terpaksa kujalani dalam keadaan penuh ketidakpastian. Aku. Berjuang. Dan yang kau lihat hanyalah aku dengan raut wajah terbaca tak masalah dengan keadaan yang menimpaku saat ini. Lemah sekali argumenmu. Maaf. Aku. Tidak. Terkesan.
Jika saja semua usaha itu harus terlihat didepan matamu, tercium didepan hidungmu, dan terdengar tepat disamping kedua telingamu itu, entah sudah berapa orang yang akan tertipu dengan rayu maut bujuk mematikan demi untuk meluluhkan sebongkah hati. Pikirkan.
Usahaku. Tak perlu. Kau lihat.
Tuhan tahu. Kau tidak perlu tahu yang dilihat Tuhan.
Itu. Bukan. Teritorimu.

Senin, 15 Agustus 2011

How it feels to keep a heart.. alone?

You may not know
Source

Seharian ini tak ada kamu.
Sepi..
Bahkan ceracau pertengkaran pun tak ada.
Kamu itu, kenapa begitu menyebalkannya sampai tidak mau menerima handphone mu sendiri. Itu bukan barang milikku yang ku beli, itu barang milikmu yang kamu beli dengan uang hasil kerjamu. Seenaknya saja kamu lempar ke jalan dan berikan padaku.
Kamu pun akhirnya mengakui satu – satunya alat yang dapat menghubungkan kita hanya benda itu. Sulitnya membuatmu mengerti.
Tidak. Aku bukan rindu padamu.
Entah apa namanya. Tapi memang sepi. Karena satu – satunya orang yang kuajak bertukar cerita untuk menemani rutinitas kerja yang membosankan ini hanya kamu. Beda mungkin denganmu yang setiap saat selalu dibutuhkan oleh banyak orang. Akan ada siapa saja yang menghubungimu dengan bermacam topik menarik, urusan kantor, ajakan berkumpul, sebatas broadcast message nggak penting, atau sekedar bbm berisi sedikit rayuan dari para pengagummu di luar sana. Atau mungkin dia, your lady in red. Dia mungkin sedang bertanya – tanya di ujung sana kenapa kamu tidak membalas sms nya sejak jumat malam itu, atau sabtu pagi. Ah, perkiraan waktuku sepertinya sudah mulai melemah sejak pertengkaran hebat lalu. Nantilah kamu sendiri yang baca, kamu pasti bisa mengira – ngira kapan lady in red mu itu mengirimimu kabar yang membuatku makin menumpuk kekesalan padamu.
Maaf, aku bukan cemburu. Mungkin sedikit. Tapi lebih kepada rasa terdustai. Sudah kukatakan sebelumnya betapa kamu adalah makhluk bebas yang tidak terikat pada apapun sehingga mempunyai hak istimewa untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Tapi kamu sendiri yang janji padaku untuk menjaga perasaanmu. Atau janji itu sedemikian semakin tersingkir hanya karena sepi. Kalau memang demikian alasanmu, maaf.. tidak berlaku untukku. Karena aku masih menjaga perasaan itu walau luluh lantak hatiku dengan kondisi saat ini.
Aku terluka.
Bukan fisik. Bukan tangan yang kamu tarik – tarik di depan umum itu. Bukan pula lengan yang ngilu karena tergesek bahan jaket yang kamu tarik – tarik demi menahan langkah kakiku.
Ini hatiku.
Yang luka.
Dan kamu melakukannya dengan mudahnya. Beralaskan sepi.
Akupun butuh teman. Tapi dapat kuredam sepi itu saat kamu tak ada. Atau hanya aku yang selama ini selalu menjadi penjaga hati itu?
Entah. Kamu tahu jawabannya?

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...