Rabu, 16 November 2011

Percakapan yang terlintas

Source
 
“Maksud lo apa mo nikah?”

“Gue udah mutusin, gue aja yang berkorban.”
“Kemana ini arah pembicaraannya?”
“Gue mau nikah sama dia, dan dia ga mau ngalah. Artinya gue yang harus pindah.”
Saya diam mematung. Mencari pembenaran dibalik kalimatnya barusan.
.............



“Kenapa baru kepikiran sekarang?”
“Apanya?”
“Itu, rencana lo. Lo bilang waktu itu nggak akan mungkin tergoda, bahkan sampe kepikiran. Sekarang kenyataannya apa?”
“Cinta mengalahkan segalanya sayang.”
“Termasuk cinta lo sama Tuhan?”
Saya terpekur menatap lantai marmer itu. Pikiran saya kosong.
..................



“Gue udah bilang sama ortunya kalo gue rencana mau nikahin dia itu serius, tapi untuk ikut dia.. Gue masih berat.”
“Terus?”
“Gue harus cari solusi, kan?”
“Ehemmm...?”
“Gue mungkin bisa nyoba bilang sama ortunya untuk ikut dia sementara sampe gue bisa nikahin dia.”
Saya melongo.
..................


“Lo belom pernah jatuh cinta makanya lo ga bisa mikir kayak gue!”
“Lo emosional.”
“Keputusan gue udah mantap kok. Toh Tuhan juga dasarnya kan satu.”
“Terus kenapa lo nangis?”
“Gue kangen keluarga gue.”
“Bukankah lo harusnya udah pikirkan konsekuensinya?”
“Gue cinta dia.”
“Tetep ga bisa ngalahin cinta lo sama keluarga, apalagi Tuhan lo kan?”
“Lo ga tau apa-apa soal cinta, makanya bisa komentar gitu.”
“Mungkin, toh pada dasarnya cinta juga akhirnya cuma satu kan?”
“Maksudnya?”
“Yah, balik lagi ke Tuhan.”
Saya menghela nafas, menatapnya yang kini terpaku.
.................



"Gue kayaknya mau balik lagi kayak dulu."
"Maksudnya?"
"Gue ga begitu ngebayangin bakal seribet ini. Aturannya terlalu ketat, berat. Belom lagi kalo suruh puasa sama sholat. Capek gue harus bangun tiap jam 5."
"Bukannya sebelum lo mutusin, lo udah tau kejadiannya akan gimana?"
"Gue kurang research kali."
"Suami lo gimana?"
"Kalo dia ga terima, ya gue pisah aja. Dulu juga gue pindah kan karena gue mau nikah sama dia. Seharusnya sekarang pas gue udah ikut dia, dia bisa terima apa adanya kalo gue berubah."
Saya mengernyitkan kening. Menatapnya yang tengah mengaduk minumannya dengan santai.



________

Percakapan diatas tidak berjalan demikian seperti yang tertulis, ada beberapa yang saya perbaiki tatanan katanya tanpa mengurangi arti sebenarnya. Maklum, otak saya sedang tidak dapat mengingat dengan baik. Orang-orang di tulisan itu ada yang masih kontak dengan saya sampai sekarang, ada yang entah sudah hilang kemana tak berkabar. Saya hanya berharap mereka bahagia dengan pilihannya. 

Entah kenapa tulisan yang seharusnya saya posting malah jadi tulisan yang ini. Saya hilang mood sejak beberapa waktu lalu. Semua pikiran jadi jungkir balik nggak karuan melintas di kepala. Hadeeehhhh

Selasa, 15 November 2011

Balada si cupu dan kuper: Bagian 3

Perdebatan itu tidak nyata-nyata terjadi begitu saja. Kami tidak berhadapan wajah, juga tidak saling melemparkan tatapan sengit. Saya berusaha semampu saya untuk menjaga intonasi suara saya, juga nada bicara yang demikian saya jaga untuk tidak terlalu terlihat bahwa saya marah. Ya. Saya marah. Demikian marah sehingga kepala saya masih sakit sampai sekarang.

Kejadiannya cukup sederhan, tapi menyentil emosi saya sedemikian rupa sehingga terlontarlah kalimat-kalimat bantahan itu. Dan saya tetap mengerjakan permintaan tolongnya. Mengajari anak baru itu mengenai program baru bukanlah hal sulit, hanya memberikan sedikit demo pengenalan produk dimana seharusnya ia maupun anak buahnya itu dapat melakukannya.

Karena kebetulan sekali mereka yang menggunakan program itu, dan saya adalah pekerja yang memonitor hasil kerja yang mereka kerjakan dengan program baru itu. Sayangnya, program itu tidak pernah diketahui olehnya, kedudukannya yang lebih tinggi membuatnya mampu memberikan gambaran bahwa cukup anak buahnya saja yang menggunakan program tersebut dan ia akan cukup menjulurkan lidah dan memainkan nada suara dengan sedemikian manisnya jika ditanya mengenai pengetahuannya mengenai hal itu. Demikian mudahnya. Kemampuan menjulurkan lidah yang sempurna.

Saya terbiasa menyelesaikan pekerjaan saya dengan cepat sehingga saya memiliki waktu luang untuk sekedar melepas penat dari keruwetan pekerjaan saya. Manajemen waktu saya terbilang baik, dan saya tidak serta merta bangga dengan hal itu. Karena kemudian hal itu hanya dipandang sebelah mata oleh beberapa orang. Bahwa ketika mereka melihat saya tengah bersantai dan tidak mengerjakan apapun, maka yang terlintas dalam benak mereka adalah saya hanya makan gaji buta.

Lalu ketika pekerjaan itu menyita hampir seluruh waktu saya, bahkan sampai melebihi jam kerja kantor saya, mereka toh tetap menggerogoti waktu saya. Bahkan sempat-sempatnya berseloroh bahwa akhirnya saya terlihat bekerja oleh mereka. Jika saja ruangan itu tidak dibuat secara terpisah-pisah, saya ingin sekali melihat ekspresi mereka ketika saya mampu menyelesaikan pekerjaan saya dengan cepat, rapih, dan tidak melupakan satu detailpun.

Saya bukannya tidak tahu bahwa anak buahnya itu sedang dibebani banyak pekerjaan, tetapi bukan berarti ia juga harus menutup mata terhadap pekerjaan saya. Jadi, seandainyapun ia tidak mampu memberi sedikit penggambaran mengenai pekerjaan yang akan dilimpahkan kepada anak baru itu, bukan berarti juga saya yang harus meninggalkan pekerjaan yang tengah saya kerjakan meskipun hanya sebentar.

Silahkan saja berdalih bahwa itu adalah bagian dari tugas saya karena saya yang lebih banyak menggunakan program tersebut. Tapi cobalah berhenti berpura-pura seolah-olah anda tahu betul mengenai program tersebut, karena jika anda benar-benar tahu mengenai program itu, anda akan menggunakannya dan tidak akan ikut memperhatikan demo yang saya lakukan ketika saya tengah menjelaskan mengenai program tersebut kepada anak baru itu.

Dan hentikan berbicara kepada saya dengan senyum menjijikan itu, karena saya cukup paham maksud anda. Tenang saja, saya bukanlah sang manajer yang mampu tunduk hanya karena terkena liur maupun kerlingan mata anda yang mampu meninggalkan garis melengkung tipis saat anda tertawa maupun tersenyum itu. Saya mungkin cupu dan kuper, tapi saya mampu lebih melihat ke dalam hati dibanding anda yang berpendidikan tinggi dan terpelajar.

Sekali lagi jika hanya menilai sesuatu berdasarkan gaya pakaian dan penampilan luar saja, tentulah bisa terlihat sebagaimana berhasilnya pendidikan tinggi yang anda enyam bahkan sampai keluar negeri itu. Percuma Pak!

Kepala saya sakit sejak perdebatan itu. Menjadi emosi seperti ini benar-benar memberi efek buruk untuk saya. Suatu kemunduran, sama sekali tidak menguntungkan.


Kesalnya
Source

___________

Menyebalkan *Jambak rambut*

Senin, 14 November 2011

Merindu

Saya merindu. Mungkin akan ada banyak tulisan mengenai rindu yang saya rasakan nanti. Perasaan ini, seperti menyelam kembali ke dalam kolam kenangan saya yang lama. 

Mengenai seseorang, ataupun orang-orang yang saya  rindukan. Mereka yang sempat sekilas hadir dalam kehidupan saya, yang masih hadir walau hanya sekelebat bayangan dalam angan, yang meninggalkan titik pada ingatan saya yang tak mampu saya hapus.
 
Mereka, seseorang, maupun orang-orang yang mampu membuat hari-hari saya terasa begitu menyedihkan ketika merindu.

Akan ada banyak objek yang tersebut. Mungkin juga sekedar sosok, bahkan nama. Saya perlu mendalami satu-persatu kolam kenangan saya. Menyelami perlahan mereka-mereka yang berputar-putar dalam ingatan saya beberapa hari ini.

Tentang merindu ini, saya mungkin termasuk yang paling tidak beruntung dalam menggapainya. Bahkan ketika saya paksakan untuk menjemput rindu pun, seperti habis batas waktu yang tersedia. Seringkali saya masih merasa haus. Masih terus merindu.

Rasanya dahaga terus saja menggelayut manja di tenggorokkan. Menyisakan perih saat menelan.  Merindu kali ini, rasanya terlalu sakit.

Source

Jumat, 11 November 2011

Balada Si cupu dan kuper: Bagian 2

*Fiuh
Source

Pada kemudian saya memutuskan untuk bersabar menghadapinya. Saya ingin melihat, kala suatu saat saya dapat menyelesaikan apa yang mereka limpahkan pada saya, yang mana semua itu seharusnya dapat saya perjuangkan untuk saya tolak mentah-mentah. Beberapa kali sang manajer mengatakan bahwa pekerjaan itu mudah, segitu mudahnya sampai-sampai mereka tidak punya waktu untuk mengerjakannya. Saya hanya tersenyum. Sambil lalu, saya meremas gemas lengan rekan satu tim saya. Mereka hanya tertawa, menikmati saya yang akan terlihat sibuk dan berkonsentrasi mencerna 'makanan baru' saya.

Saat itu, seringkali, pekerjaan rutin yang menjadi kewajiban saya berhasil saya kerjakan dengan cepat sehingga sesuai dengan perhitungan saya. Saya pun bisa menggunakan jam kerja sore saya dengan sedikit santai. Lalu wanita ini masuk dan dengan logat sundanya yang masih menyisakan sedikit gaya yang khas mulai berseloroh mengenai saya yang tidak punya pekerjaan. Membuat celotehan yang memperesentasikan bahwa saya di kantor ini hanya memanfaatkan gaji yang saya terima setiap bulan tanpa melakukan pekerjaan yang berarti.

Lalu mereka tidak melihat bahwa setiap kali artikel yang saya buat rutin dua mingguan tidak pernah absen mengisi majalah kantor tiap terbitnya. Dan setiap kali pujian yang disampaikan mengenai kinerja departemen tempat saya bernaung yang semakin baik sejak kedatangan saya. Begitu juga ketika artikel yang saya buat mendapatkan acungan jempol karena manfaatnya. Saya juga melakukan pekerjaan yang seringkali dilupakan oleh team saya, semampu saya. Dan itu bukan berarti hal tersebut menjadi suatu keharusan atas pekerjaan rutin saya. 

Saya memiliki ruang lingkup pekerjaan saya sendiri, begitupun mereka. Dan saya beruntung memiliki beban terhadap diri saya sendiri bahwa saya memiliki tanggungjawab untuk menyelesaikan pekerjaan saya, berikut tidak lupa menyelesaikan pekerjaan yang dilemparkan pada saya. Bagusnya, saya tidak pernah melupakan bahkan untuk pekerjaan yang seharusnya dapat saya abaikan.

Tapi saya tidak bisa begitu saja membiarkan team menjadi begitu berantakkan karena beberapa pekerjaan terbengkalai hanya karena seseorang yang seharusnya mengerjakan pekerjaan itu menjadi lalai karena sedang dilimpahi tugas yang lebih besar dan lebih penting. Jadi saya kerjakan pekerjaannya, sampai kemudian manajer mengatakan sebaiknya mungkin saya yang harus mengerjakan pekerjaan itu karena saya tidak pernah lupa.

Saya akan mendapatkan pengetahuan lebih karena mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, karena kemampuan multi-tasking dan pembagian konsentrasi saya yang baik. Sehingga setiap pulang kantor saya harus merasakan migrain yang tiada henti. Kadangkala saya mesti menahannya agar tidak begitu terlihat dari raut wajah saya. Yah, setidaknya pengetahuan saya bertambah.

Saya mungkin tidak sepintar kalian yang berjenjang pendidikan strata 1, tetapi saya lebih memiliki tanggungjawab dan pengertian jauh diatas jenjang pendidikan kalian. Setidaknya, saya tidak sepintar kalian dalam mendelegasikan pekerjaan yang seharusnya kalian kerjakan, bahkan dengan bodohnya saya tetap mengerjakan pekerjaan itu walaupun dapat saya tolak dengan berbagai alasan. Mungkin suatu saat saya harus belajar olahraga lidah, juga belajar menyunggingkan senyum diplomasi agar setiap orang tidak merasakan lidah saya yang tengah terjulur untuk mencoba menjilat. 

Kamis, 10 November 2011

Si cupu dan kuper



Pada suatu rapat pertemuan seseorang dengan tiba-tiba berseloroh, menjuluki saya jenius karena salah satu celetukan yang saya lemparkan dapat mendatangkan ide bagus untuk mengatasi salah satu masalah yang tengah jadi topik pembahasan. Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi ramai oleh tawa dan pujian yang bersifat sindiran. Bahwa saya yang selama ini terlihat tidak begitu pintar mampu mengutarakan sebuah solusi.

Saya tersenyum, berpura-pura tidak mendengar salah seorang junior manajer yang kebetulah duduk berhadapan dengan saya. Memamerkan deretan gigi saya yang berbalut bracket pada salah satu rekan kerja saya yang cukup akrab pada saya, saya mengendikkan bahu. Rekan kerja saya tersenyum mahfum, seperti menyadari bahwa adegan barusan itu terlalu berlebihan. Saya meninju ringan pundaknya, dan kami tertawa.

Pada beberapa waktu sebelumnya, ketika dalam kesempatan ngobrol melepas rutinitas pekerjaan, dan saya melontarkan beberapa referensi tempat makan yang saya tahu. Seseorang, sang juniot manajer itu kembali menyelidik saya. Mengutarakan bahwa dibalik penampilan saya yang seperti orang aneh atau kuper ini ternyata menyimpan banyak kejutan. Disebutkannya mengenai koleksi lagu saya yang ia tahu dan seringkali membuatnya tercengang, lalu pilihan buku bacaan saya, juga tulisan-tulisan saya yang sempat tidak sengaja dia baca. Pun demikian tetap saja dia menitikberatkan pada cara berpakaian saya yang dinilainya tidak memenuhi standar wanita pekerja kantoran pada umumnya.



Saat itu saya hanya berseloroh sambil lalu, bahwa dibalik tingkat pendidikannya yang tinggi itu, dia rupanya belum mempelajari filosofi "Jangan menilai buku hanya dari sampul luarnya saja". Kembali seisi ruangan tertawa, seolah-olah saya telah melakukan sebuah manuver yang cukup telak untuk junior manajer itu. Tapi saya lebih melihatnya sebagai bahan ejekan baru, atau paling tidak saat mata mereka saya tatap, saya masih melihat sikap meremehkan itu. Saat itu saya masih tertawa, namun terasa hambar. Rasanya kerongkongan ini kering.


Waktu itu dengan datangnya beberapa rekan kerja baru, saya merasa senang karena mungkin ruangan tidak akan lagi sehampa saat ditinggal beberapa rekan kerja saya yang memilih untuk mengundurkan diri karena ketidakjelasan ruang lingkup pekerjaan, juga karena dari rumor yang saya dengar, junior manajer terlalu berambisi untuk menaikkan posisi dengan memborong beberapa project pekerjaan secara membabi buta. Selentingan yang saya tangkap dari pembicaraan antara beberapa orang yang masih dalam tim saya sepertinya menyalahkan kinerja junior manajer dalam mengorganisir anak buahnya. Sehingga ketika tekanan itu semakin tidak menentu, maka pilihan satu-satunya adalah mencari lahan usaha lain.

Bahkan Ricky, rekan kerja saya yang dulu sering beradu argumen dalam hal candaan dengan saya malah mendapatkan posisi yang lebih baik dari junior manajer, tentu saja dengan jenjang upah yang lebih menjanjikan dibanding disini. Sedang laki-laki yang saya beri panggilan khusus yang cukup baik dengan saya itu kabarnya tengah memulai usaha sendiri. Sedang satu pria yang disini dijuluki mirip dengan Ariel Peterpan itu juga mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih menjanjikan disini. Terakhir, saat Mas Ega, satu orang yang paling sering memanjakan saya dikantor akhirnya pergi (Saya cukup sedih dan kehilangan saat itu), malah akan terbang ke Dubai untuk meneruskan karir bersama sang istri yang juga telah lebih dulu meniti karir disana.

Saat itu, terpaksa semua project terhenti, karena pengunduran diri mereka yang mendadak dan secara berurutan dinilai sebagai salah satu bencana bagi departemen. Dan saya sempat kebagian beberapa back up pekerjaan yang benar-benar tidak pernah saya kenal sebelumnya. Apa daya, lingkungan kantor saya bukanlah lingkungan yang dapat menghargai dan menghormati bahwa setiap orang telah melakukan perjanjian kerja dimana ada kesepakatan terhadap satu ruang lingkup kerja tertentu, dimana tentu saja saya dapat menolaj pekerjaan yang bukan pekerjaan saya. Tapi pada kenyataannya, dunia kerja tidak seperti dunia sekolah, dan perintah atasan langsung menjadi sebuah mantra yang bila ditolak, tentu akan mengakibatkan posisi pekerjaanmu semakin mendapatkan tekanan. Jadi, saya berusaha menerima dan mengerjakan beberapa limpahan pekerjaan itu.

Singkatnya, Manajer saya juga sepertinya melihat bahwa kebutuhan departemen semakin mendesak, belum lagi kebutuhan pribadi untuk mendapatkan posisi yang lebih baik dari posisi yang dimilikinya saat ini, akhirnya dua orang baru datang sebagai pengganti empat rekan kerja saya yang telah mengundurkan diri. Saya pikir, dengan hadirnya dua orang baru ini, setidaknya akan ada perubahan berarti, paling tidak, kita semua bisa belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa menitikberatkan sebuah beban lebih dari kesanggupan adalah sebuah cara yang akan mendatangkan kerugian pada diri kita sendiri.

Awal mula masuk, seperti kebanyakkan karyawan lainnya, sikap masih malu-malu, yang kemudian berubah menjadi memalukan. Ini adalah arti dalam kamus pergaulan saya, dan bukan seperti yang sering dijadikan lelucon di kalangan bebas. Kebiasaan junior manajer mencela dan merendahkan saya malah dijadikan acuan untuk mereka ikut jejak junior manajer. Saya punya hak untuk marah, tapi sepertinya terlalu kekanak-kanakkan untuk meladeni setiap kalimat yang mereka lemparkan pada saya. Bahwasanya saya adalah bukan orang yang dapat seenaknya mengutarakan kekesalahan bahkan amarah, bila saya merasa tidak nyaman dengan orang itu. Paling mudah, saya anggap angin lalu, atau lebih mudahnya, saya anggap mereka tidak pernah hidup di dunia yang sebenarnya.

Itu anggapan saya dulu. Tidak saat kemudian ditengah gempuran berbagai project yang harus segera diselesaikan ini saya kembali menjadi satu-satunya yang terlihat paling lemah dan dapat dimanfaatkan sedemikian rupa. Ditengah rapat, saya biasa dapat muntahan pekerjaan yang seringkali ditolak oleh mereka yang merasa lebih kompeten untuk mengerjakan pekerjaan yang tingkat kesulitannya lebih tinggi, bahkan jika itu adalah termasuk dalam ruang lingkup kesepakatan perjanjian kerja mereka sendiri. Tapi ketika muntahan itu saya terima diluar dari berita yang seharusnya saya ketahui, saya merasa terhina dan tidak senang. Ini seperti seolah-olah saya hanyalah pelengkap penderita mereka saja yang dapat langsung digunakan apabila mereka kehilangan sebuah wadah untuk memuntahkan hal yang mereka anggap tidak begitu akan terlihat hasil kerjanya.

Pekerjaan mudah dan ringan, menurut mereka. Yang hanya akan dapat mereka selesaikan dengan kedipan mata. Lalu mengapa mereka tidak kerjakan jika untuk menyelesaikannya saja bahkan lebih mudah daripada bernafas? Saya hanya ingin meneriakkan kalimat itu di telinga mereka, bahkan kepada karyawan baru yang langsung menjadi kesayangan junior manajer hanya karena ia bersikeras mengetahui segala hal dan menguasai segalanya. Dan saya tetap menjadi si cupu dan kuper yang dapat diberikan limpahan pekerjaan yang kemudian jika saya berhasil mengerjakannya akan membuat mereka terkagum-kagum kaget.

Saya mungkin berpakaian alakadarnya, dan apa adanya. Saya tidak sepintar mereka yang berkutat pada bidang yang mereka sudah tekuni sejak lama, bahkan jenjang pendidikan saya sangat amat jauh berbeda dengan tempat dimana saya duduki saat ini. Kemampuan saya meningkat karena saya belajar, bahkan dari hal yang hanya pernah saya dengar namanya ditelinga saya, atau bahkan untuk hal yang saya belum pernah mengetahui sebelumnya.

Saya, si lulusan manajemen ini akhirnya berani menerima pekerjaan di bidang IT berdasarkan belajar dan keingintahuan. Dan saya mau belajar! Jikapun saat itu saya tidak terjebak dengan kebutuhan pemenuhan kehidupan yang tidak mendesak, mungkin saya sudah menekuni bidang yang sesuai dengan pendidikan saya saja. Itu bahkan kalian tidak dapat melihat. Sama seperti kalian yang akan menatap jijik pada deretan data yang telah saya kumpulkan pada excel saya, karena kalian tidak mengerti excel, bahkan menolak mempelajarinya.

Lalu kalian akan memicingkan mata dan menyunggingkan garis bibir kalian membentuk kiasan kurva melengkung sebagai icon senyum dan meminta saya untuk mengerjakan pekerjaan yang berhubungan dengan microsoft office yang membuat kalian jijik itu. Dan saya juga harus mengerjakan pekerjaan yang menguras keringat dan kerut saya karena bahkan bahasanya baru saja saya dengar saat itu. Tapi saya belajar, saya kerjakan, karena saya tidak selihai kalian yang dengan leluasa dapat main ping-pong dengan lisan kalian yang licin itu. Saya, yang kalian juluki cupu dan kuper inilah yang akhirnya menyelesaikan pekerjaan kalian. Dan bahkan kalian tidak dapat melihatnya sebagai sebuah usaha yang utuh. Bahwa itu bukan bidang yang saya tekuni sejak lama, bukan passion saya, dan bukan dunia dimana saya tertarik untuk terlibat.

Saya banyak belajar, karena saya butuh. Setidaknya saya sanggup menopang tubuh saya sendiri, bila saya masih susah menghidupi keluarga saya. Tapi jika kalian lihat dengan hati kalian, saya ini juga manusia, dan bukan robot. Seringkali bila kalian terlalu tenggelam dalam tawa setelah mengejek saya yang cupu dan kuper ini, kalian lupa bahwa saya juga manusia seperti kalian. Bahwa dibalik pakaian lusuh dan sendal jepit ini adalah orang yang senantiasa bersedia membantu kalian tanpa perlu disebutkan satu-persatu jasanya. Saya tidak butuh itu, tak butuh medali atau penghargaan, hanya butuh tatapan yang sama seperti saat kalian menatap sesama kalian.





___________
Sepertinya ceracauan ini akan berlangsung sampai minggu depan. *Fiuhhhh*

Selasa, 08 November 2011

Jangan paksa aku!

Ketahuilah bahwa, aku datang, bukan berarti aku telah melupakan semua hal yang menyakitkan itu. Ketahuilah pula, aku pun tengah berusaha melupakan. Jangan khawatir mengenai maaf itu, kalian tak usah merepotkan pikiran kalian, karena aku pun tidak mau merepotkan diri sendiri dengan menyimpan dendam. Tapi untuk lupa, tolong ajari aku. Karena cara lama yang kugunakan untuk tidak mengingatnya, malah semakin membuatku semakin erat pada ingatan itu.

Bila mungkin, apa sebaiknya aku membuat diriku agar hilang ingatan? Melupakan semua yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukannya? Sepertinya itu dapat membuat kalian semua senang. Agar aku bisa menjadi aku yang kalian harapkan. Ibu akan senang karena merasa anaknya telah kembali seperti yang beliau kenal, kau akan senang karena telah mendapatkan aku sesuai maumu, bahkan simbah tak perlu repot meyakinkanku bahwa beliau sudah begitu cocok dengan karaktermu, juga adik-adikku yang akan tersenyum girang dan leluasa bergaul denganmu. Tapi maaf, aku belum seberuntung itu untuk mendapatkan anugerah itu. Aku. Belum bisa. Lupa


Ah, sepertinya aku kembali menyeracau. Topik pada tulisan kali ini seharusnya bukan tentangmu, tapi selalu kau yang terlibat. Entah kapan, tapi ketika kau suatu saat membaca tulisan ini mungkin akan timbul kesal lagi padaku. Atau mungkin kau akan mengirimkan mentah-mentah tulisan ini pada orang yang kau kehendaki. Oops, maaf aku menceracau lagi.

Tulisan ini mungkin biasa, seperti keluhan biasa, atau gerutuan. Tapi untukku, ini adalah bagian dari diriku yang tak mampu kujelaskan dalam bentuk kalimat dalam nada suaraku sendiri. Aku akan menangis sebelum sampai pada apa yang ingin kusampaikan, bila kalian memaksaku mengutarakan alasanku mencoba menghindarinya sebisa mungkin. Jadi.. Jangan paksa aku untuk melupakan! Karena aku tidak sehebat itu untuk memiliki hati seluas yang kalian harapkan. Kalian bukan aku, jadi kalian tidak bisa menempatkan diri di posisiku dan menjadi sok tau. Tidak akan mungkin semudah itu aku melupakan perilakunya terhadapku. Tidak untuk saat ini, atau entah sampai kapan.

Source

Kamis, 03 November 2011

Educating me


Saya ingin sekolah lagi. Melanjutnya jenjang pendidikan saya yang hanya alakadarnya. Beberapa hari belakangan ditengah kesibukan kerja, saya sesekali mengintip ke halaman web yang berisi tentang informasi kuliah sabtu/ minggu atau kuliah karyawan. Rasanya, ingin melanjutkan jenjang pendidikan strata saya. Entah kenapa, hasrat itu kembali muncul. 

Saya pernah punya harapan dapat memperoleh pendidikan paling tidak sampai S2, dimana saya dapat menjadi contoh yang baik untuk anak saya kelak. Selain tentunya untuk menaikkan kelas saya di dunia kerja, juga saya tidak ingin membiarkan otak saya tumpul terlalu lama karena tidak di asah dengan pendidikan.


Semasa dulu saya mengambil pendidikan diploma, saya hanya berfikir bagaimana caranya agar sekolah cepat dan dapat segera mencari pekerjaan, setidaknya jika tidak bisa membantu meringankan beban keluarga, saya dapat sekedar memberi penghidupan untuk saya sendiri sehingga ibu bisa sedikit santai dalam memikirkan biaya untuk saya dan adik-adik saya. Setelah mendapat kerja, kelak saat itu saya berharap dapat meneruskan pendidikan saya ke jenjang yang lebih tinggi, dengan maksimasi strata 2. Tidak perlu terlalu tinggi sampai meraih gelar Doktor atau Profesor, karena saya sadar perhatian saya kelak akan lebih melulu banyak untuk mengurus keluarga, terlebih anak saya kelak. 

Saya tidak ingin membiarkan otak saya berdiam diri menghadapi rutinitas dunia kantor yang menjemukan, maka saya perlu mencari hal baru untuk terus melatih otak saya. Opsi lainnya selain melanjutkan sekolah adalah mengikuti kursus. Tahun lalu saya memiliki beberapa rencana terkait dengan dunia pendidikan yang ingin saya tekuni. Mengejar impian untuk menguasai berbagai bahasa, juga melanjutkan pendidikan. Namun semua sepertinya harus tertunda, atau mungkin tidak akan mungkin bisa saya lakukan, mengingat begitu banyak hal menyita perhatian dan pikiran saya. Otak saya mungkin bisa menjadi tumpul dengan terbaginya perhatian kepada beberapa hal yang malah menguras emosi jiwa saya. Maka, saya punya harapan (Tuhan, berbaik hatilah pada hambaMu kali ini, AMIN) untuk tahun depan saya bisa melanjutkan jenjang pendidikan saya, atau setidaknya telah mendaftar di salah satu kursus yang saya minati.

Saya harus tetap bertahan hidup di tengah kondisi saya saat ini. Paling tidak, jika saya impian saya terhadap kehidupan pribadi saya tidak dapat terwujud seperti kemauan saya, saya akan tetap dapat bertahan hidup dengan ilmu yang saya telah enyam. 

Saya bukannya pesimis, tapi hidup itu harus terus memiliki rencana, apapun kondisinya. Saya tidak ingin suatu saat terjebak dalam kondisi dimana saya tidak memiliki apapun untuk sekedar melangkah maju, atau bahkan sekedar bernafas. Saya ingin mempunya beberapa langkah cadangan sekedar untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Saya perlu sekolah, melanjutkan jenjang pendidikan saya. Agar otak saya tidak tumpul, agar saya dapat bertahan hidup dengan layak.

Kapan ya bisa sekolah lagi?
Source


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...