Rabu, 14 September 2011

Aku dan makan

Source 


Hari ini saya banyak ngemil. Walau perut rasanya sudah hampir meledak kekenyangan, tapi saya tetap tidak bisa menghiraukan keinginan mulut saya untuk mengecap makanan. Saya sibuk mondar-mandir meja Jeffry sekedar untuk mengisi ulang tempat makan saya dengan cemilan keripik pedas nya yang dibawa dari Dumai.

Teman satu divisi sering menjuluki saya cacingan atau perut karet karena mereka terlanjur mengenal saya yang suka makan, tidak bisa berhenti ngemil.


“Gue heran Vi, kemana semua makanan yang lo makan ya? Kok badan lo ga gemuk-gemuk?”


Saya hanya tertawa mendengar selorohan Mas Indra yang kadang disambut dengan tawa dan seloroh dari yang lainnya. Mereka sering meledek saya. Saya lebih seringnya tertawa, tak berminat menjawab. Karena mereka tidak tahu.

Saya tidak sering ngemil ketika dirumah. Itu karena saya sudah amat kekenyangan makan diluar rumah. Setiap hari, sepanjang hari kerja atau jam kerja, sebisa mungkin saya pasti mengunyah sesuatu. Entah sejak kapan kebiasaan ini terjadi. Tapi saya sudah lama melakukannya. Sangat lama.

Makan yang banyak. Kekenyangan. Kelelahan bekerja atau beraktifitas. Dan akan dengan cepat tertidur begitu sampai rumah. Makan. Kekenyangan. Kelelahan dan tertidur. Begitu datang esok pagi. Saya berharap dapat melupakan semua kejadian tidak mengenakkan yang terjadi hari itu. Solusi saya untuk menghindari pikiran saya yang semrawut.

Saya tidak akan bilang saya punya segudang masalah. Mungkin. Tapi saya sendiri tidak tahu bagaimana saya menemukan cara untuk sekedar melupakan kepenatan yang terjadi selama satu hari itu. Saya akan makan yang banyak sampai perut ini rasanya mau meledak, lalu menguras tenaga dengan bergerak kesana-kemari, dan begitu sampai rumah, lelah sangat, lalu dengan mudah akan tertidur. Saya sempat membisiki diri saya sendiri sebelum tidur dengan kalimat-kalimat yang membuat saya harus melupakan kejadian tidak mengenakkan hari itu.

“Hari ini tidur, besok lupa. Tidur, besok lupa. Tidur, besok lupa.”

Saya ulang-ulang terus kalimat itu sambil mata saya terpejam. Menyihir diri saya sendiri untuk melupakan.

Cara itu cukup efektif, karena selama beberapa lama saya lakukan pada diri saya. Saya benar-benar lupa pada kejadian tidak menyenangkan itu. Begitu bangun esok paginya, saya sudah bisa menjadi saya yang baru. Begitu terus setiap hari.

Ada hal yang membuat saya terpaksa melakukan cara itu, dibanding mencari solusi untuk menyelesaikan masalah saya. Terlalu rumit. Saya sudah terlalu lama di set untuk hidup dengan masalah yang menggantung. Tidak selesai. Menguap begitu saja. Atau lebih tepatnya, dipaksa untuk melupakan. Saya terlalu banyak kalah. Atau mengalah. Dan jalan yang akhirnya saya temui untuk melupakan sakit hati itu hanya dengan membuat diri saya cepat melupakan semua yang mengganggu kepala saya. Makan banyak. Tidur.

Orang-orang di sekeliling saya terlanjur mengenal saya sebagai orang yang banyak makan. Tidak bisa berhenti makan. Atau paling tidak selalu mengunyah sesuatu. Tak jarang saya melakukannya saat saya tiba-tiba teringat pada masalah yang mengganggu pikiran saya. Saya langsung mengunyah, atau mencari-cari sesuatu untuk dapat dimakan.

Entah keberuntungan atau kerugian dengan yang saya lakukan. Walau saya banyak makan, saya sulit untuk gemuk. Dan saya tidak pernah mengeluarkan kembali setiap makanan yang saya makan. Saya mungkin beruntung, bukan pengidap bulimia atau anoreksia. Tapi mungkin saya cacingan benar seperti yang sering dikatakan orang. Metabolisme saya yang bagus, atau saya memang cacingan.

Hari ini saya kembali sibuk mondar-mandir menanyakkan makanan untuk dikunyah. Walau perut saya rasanya sudah mau meledak kekenyangan. Sepertinya ada yang ingin saya lupakan. Kekesalan hari ini, ingatan akan kekesalan sebelumnya, atau apapun. Saya hanya ingin makan. Pahit rasanya lidah jika tidak mengecap makanan walau hanya sebentar.

Saya harus mencari makanan lagi, persediaan keripik yang saya minta dari Jeffry mulai menipis. Saya harus menghampiri Jeffry lagi untuk mengisi ulang tempat makan saya.

Minggu, 11 September 2011

A limit for everyone

Source



There's a limit for everything
Am i just questioning, or throwing sentences?
Still we don't have a power to know everything
Though we really ought  to know
A limitation
Barrier
a Mind
*******


Andai aku memiliki keberanian itu, seperti yang pernah kamu sampaikan melalu teks itu, bersimpuh dan menciumi ujung kakimu. Kurasa itupun hanya untaian kata penghibur. Tak akan lagi terlontar. Bahkan dalam masa-masa bahagia yang nanti akan masing-masing alami.
Kamu, dan duniamu. Terlalu banyak peristiwa. Terlalu banyak pemikiran. Terlalu banyak ego. Aku pun tidak sempurna, tapi kamu akan selalu menilaiku baik. Mungkin tidak akan secara pribadiku, tapi kesalahan itu kamu akan tunjuk pada kaumku. Maaf, aku tidak bisa ikut dirimu menyalahkan kaummu. Setiap orang berbeda, kamu akan dapat menerima perbedaan dan berkompromi. Tiap orang yang pada dasarnya baik, akan selalu kembali kepada kebaikkan. 

Tak akan ikut mencecar atau menilai. Aku dengan pikiranku sendiri. Aku yang aneh, yang pikirannya tak akan pernah bisa kamu mengerti. Aku dengan egoku. Dunia yang hanya akan aku mengerti seorang diri. Meski nanti aku akhirnya akan menemukan batasan itu. Dimana aku akan berhenti, merebahkan punggungku yang lelah, menaikkan kakiku yang melepuh, dan menyenderkan kepalaku yang penuh dengan penat. Tapi tidak saat ini. Mungkin nanti. Terlalu banyak yang membuatku takut. Terlalu membuatku galau. Terlalu membuatku merasa terpojok. Aku ini memiliki sendiri diriku. Tak akan bersembunyi dibalik agama, atau siapapun. Cukup aku sendiri.

Aku yang aneh. Yang membuatmu lelah. Membuatmu capek. Dan aku yang mulai berubah. Yang tidak akan pernah membuatmu mengerti. Bahkan saat aku sendiri mengaku salah dan terlontar maaf dengan tulus. Saat aku berucap tak dapat terlalu lama berdiam diri tanpamu ada di dalam duniaku. Itu kutulis tulus, yang mungkin hanya merupakan sebuah kalimat tanpa arti untukmu.

Tak apa. Tiap orang punya batas. Ada kalanya saat seseorang merasa kelelahan, ia menepi. Beristirahat. Lalu saat menoleh, ia telah menemukan orang-orang yang tulus peduli. Saat itu, ia akan lupa pada apa yang telah membuat mereka mencapai batas itu. Melupakan semua yang telah mereka tinggalkan saat menepi. Dan menyambut uluran tangan orang-orang baru tersebut. Dunia baru.

Aku mungkin menceracau, melontarkan kalimat yang tidak akan dapat tercerna dalam pikiran siapapun. Aku menulis. Apapun yang terlintas dalam kepalaku. Bahkan ketika kalimat yang terbayangkan dalam kepalaku adalah hal yang akan membuatku menderita. Penyesalan. Aku menulis. Dan ini akan menjadi teman sejatiku, selain sepiku nanti.

Aku akan mencari batasku. Batasan yang sampai sekarang masih berupa tanda tanya untukku. Sampai nanti..

Sabtu, 10 September 2011

In search of happiness

Being happy doesn't mean that everything is perfect,
it means that you've decided to look beyond imperfections
(Unknown)
*******



Saya ini ada waktu untuk menulis. Hari ini. Dengan suara televisi yang tengah menayangkan FTV, dengan dia yang tengah tertidur dibalik selimut, dengan abang yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, dan dengan kamu yang juga tengah bergelut dengan dunia maya. 

Tapi saya tidak tahu hendak menulis apa. Akhir-akhir ini terlalu banyak yang menggelayut dikepala saya. Ada satu orang yang sampai mengatakan kalau isi kepala saya itu aneh. Saya itu aneh ya? Tapi abang tidak mengatakan itu padaku saat kuceritakan hal yang sama padanya, saat kebetulan ia tengah dapat dihubungi. 

Sinetron di televisi itu sedang ada adegan tangis, entah, saya tidak begitu memperhatikan acara sinetron. Lagipula televisinya juga tidak menampilkan gambar yang bagus, suaranya juga krese-kresek, jadi makin malas memperhatikan alurnya. Hanya butuh suaranya agar ruangan ini tidak begitu sepi selain dari suara ketikkan keyboard.

Tibat-tiba kepala saya terbersit soal kebahagiaan. Ah, kebahagiaan. Saya lupa kapan terakhir kali merasa bahagia. Saya tertawa, kadang terbahak-bahak, walau lebih banyak terkikik. Tapi apa itu artinya saya tengah bahagia? Entah. Saya kurang begitu paham takaran kebahagiaan itu apa. Apakah jika saya sudah bisa tertawa terbahak-bahak artinya saya sudah merasakan bahagia? Bagaimana kalau tawa saya itu tidak dapat membuat hati saya menghangat? 

Bahagia ya.. Banyak yang tertawa terbahak-bahak, tapi apa mereka bahagia? Saya ini orang yang mudah tertawa. Banyak hal yang mampu membuat saya tertawa, atau paling tidak terbersit senyum di ujung bibir. Kadang saya hanya menyunggingkan senyum untuk hal yang orang lain akan mengerutkan kening. Aneh ya? Mungkin.


Source

Ah, saya mungkin sedang aneh. Tempo hari sempat berujar galau pada abang. Dan abang seperti biasa tidak pernah bertanya lebih. Dia cukup mendengarkan dan itu menenangkan. Tapi tiba-tiba aku ingin merasakan bahagia. Seperti apa ya bahagia itu?

Adakah disana yang mengetahui bahagia itu berbentuk apa? Lagi-lagi saya aneh ya? Ah, apa saya aneh? Abang mungkin akan cuma merespon dengan 'Hmm', lalu membalikkan pertanyaan itu kepada saya lagi, 'Menurutmu kamu aneh?'. Ahh abang!

Jumat, 09 September 2011

I need you.. time

Source
 
Rindu menulis

Rasanya ingin punya beberapa waktu dalam satu hari saja untuk dapat menulis. Tetapi waktu memang tidak pernah mau kompromi dengan keinginan kita sebagai pengembara dunia yang hanya sementara ini. Ada beberapa hal yang akhirnya membuat kemauan untuk menulis jadi harus terpendam, lalu terlupa. Saya bukan melupakan menulis.
 Ingin rasanya dapat meluangkan waktu untuk sekedar menggerakkan jari-jari tangan pada keyboard notebook ataupun komputer saat pikiran menggelayut ingin sekedar bercerita. Namun lagi-lagi kecepatan sang waktu yang juara. 

Saya masih berusaha mencari tahu bagaimana bercerita dengan baik tentang semuanya. Tentang diri saya, tentang orang-orang di sekeliling saya, tentang apapun dalam hidup saya. Dan setiap berhadapan dengan lahan kosong untuk sekedar mengetikkan huruf demi huruf itu, rasanya otak terlalu lancar mengalirkan kalimat-kalimat untuk tertuang dalam lahan kosong itu. Sehingga tulisan pun terlalu mudah mengalir dengan bebas. Dan menjadikan saya sendiri bingung, apa yang sebenarnya saya ingin tulis.

Saat ini pikiran saya sedang bercabang kemana-mana. Kepada kehidupan pekerjaan saya, kehidupan pribadi, bahkan kehidupan orang lain. Ya, mungkin terkadang saya menganggap diri saya seperti yang tengah mengurusi seluruh dunia dengan isinya. Padahal kan masih ada Tuhan, tapi saya yang ingin menjadi orang yang tidak peduli pun jadinya malah terlalu peduli. Terlalu banyak hal yang terjadi, dan saya semakin membutuhkan waktu untuk berada disamping saya, setidaknya untuk sekedar membekukan waktu untuk saya beristirahat sejenak menghirup udara sebelum mulai membereskan hal satu-persatu. 

Saya kelelahan. Tapi pun itu tidak membuat sang waktu beranjak kasihan. Ya, saya memang bukan orang yang senang dikasihani, tapi mungkin pengecualian untuk sang waktu.

*******


Can't i just have one minute freeze.. time?


Kamis, 25 Agustus 2011

Another Scratch

Masihkah akan kamu menoleh?
Source



 
I can’t concentrate today.
These all really knock me down.
I don’t know how to handle all this mess alone.
Even when you said you’ll never gonna leave.
The truth is, I made you left.
Something that I would regret one day.

*******


Hi dewa!
 
Apa kabar kamu? Pasti sibuk ya, bukan sibuk mikirin aku kan? Hehehe.. Maaf, candaku bukan pada tempatnya kali ini.
Aku tadi sengaja melewati kantormu saat pulang, berharap bisa melihatmu walau sekilas, tapi kayaknya kamu udah pulang duluan karena aku kemaleman pulang kantornya. Atau mungkin kamu ndak mampir dulu ke kantor, tapi langsung pulang dari tempatmu ditugaskan. 

Gimana pekerjaan hari ini? Tes nya berjalan lancar kan? Maaf aku ndak sempet tanya sama temenku apa itu UAT. Aku abis sakit kemarin, terakhir kita ngobrol di telpon tempo hari dan berakhir dengan saling menyakiti lewat sms itu..kau berhasil memporak-porandakan semuanya. Aku udah bukan cross-twisted lagi, tapi pikiranku malah luluh lantah. Aku nangis lho semalaman sampai mataku bengkak segede bola pingpong. Belum pernah aku nangis seperti malam itu, sampai akhirya aku muntah karena ndak bisa menghentikan aliran kristal bening dari kedua manik mataku. Itu semua salahmu! Hasilnya, aku bolos kerja karena ndak mungkin ke kantor dengan tampang kusut dan mata bengkak seperti kodok. Apalagi kepalaku pusing sekali akibat ndak tidur karena ndak bisa berhenti nangis. Lagi-lagi aku akan menyalahkanmu karena telah membuatku seperti itu. Ya! Semua salahmu!

Kenapa sih kau jahat sekali hari itu? Seharusnya predikat itu kan melekat padaku yang telah meninggalkan bekas tak termaafkan dihatimu, tapi rupanya aku salah kira. Kau bisa lebih membuatku merasakan perih tak tertahankan. 

Aku kalah… 

Untuk itu aku memutuskan untuk menghindarimu. karena rupanya aku terlalu sayang tuk melihatmu menyakiti dirimu sendiri, yang pada akhirnya aku malah menuduhmu melakukan itu untuk memberikan efek lebih menyedihkan untukku. Untuk menyalahkanku karena telah membuatmu melontarkan lelucon yang dengan argumenmu katanya hanya bermaksud untuk kau terima sendiri. Tapi maaf dewa, alasanmu sama sekali ndak bisa kuterima. Sebut aku terlalu sensitif atau bodoh, tapi aku merasakan sakit yang lebih sakit dari yang kau rasa dengan semua kebaikanmu selama ini. Walau terlalu sering kau bilang bahwa kau tak apa, kau baik-baik saja, kau melakukannya dengan ikhlas tanpa tujuan apapun. Sama saja, aku yang paling tau hatimu terbuat dari apa. Karena bahan dasar hatikupun dibuat oleh Tuhan yang sama seperti yang kau sembah selama ini.
Jangan khawatir dewa, aku ndak membencimu kok. Aku bahkan terlalu menyayangimu sehingga aku merasa ndak akan pernah sanggup melihatmu memikul bebanku seperti yang selama ini kau lakukan untukku. Aku ndak tau sampai kapan aku akan seperti ini, tapi kau sudah terlalu banyak menjadi bentengku, menjadi matrasku, menjadi payungku, dan semua yang kubutuhkan saat aku melemah, tersesat, terseok, terpuruk, bahkan terjatuh. Aku sudah terlalu banyak merepotkan dewa, sahabat terbaikku, sahabat tersayangku, sosok yang menempati tempat tersendiri dihatiku melebihi dari dewa-dewa lainnya. Posisimu mungkin sedikit dibawah pemimpin yang nanti akan dikirimkan Tuhan untukku, yang sering terlontar dari mulutmu untuk meledekku. Tapi itu bukan berarti kau tidak seistimewa itu, kau pasti tau mengapa, ya, karena posisi pemimpinku itu memang sudah ditakdirkan Tuhan untuk lebih berkilau dimataku dibandingkanmu, siapa yang berani menyangkalNya? Toh nanti saat kau memimpinpun kau akan menempati posisi itu.

Aku pergi ya..dan entah sampai kapan aku akan berani menampakkan wajahku kembali dihadapanmu, memperdengarkan suaraku kembali di telingamu, atau mungkin meninggalkan sedikit rasa perih pada lengan atau punggungmu yang sering kupukul dan kucubiti. Mungkin aku akan pergi selama-lamanya dari hidupku kalau kulihat atau kurasa kau memang sudah tidak membutuhkanku lagi. Mungkin..dengan aku pergi kau akan menemukan kembali kekuatanmu, menemukan kembali dirimu yang sebenar-benarnya, menemukan kembali apa yang selama ini kau cari. Dan bahkan bila diperlukan untukku menghilang selamanya dari hidupmu tuk menebus semua itu, aku mungkin akan berusaha menelannya bulat-bulat, agar pait itu tak perlu begitu terasa. Jangan khawatir dewa, aku akan baik-baik saja tanpamu, setidaknya dengan begitu aku akan belajar untuk lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung padamu, seperti yang selama ini kulakukan. Kalau memang suatu saat nanti kau telah menemukan seseorang yang akan kau pimpin, dan saat itu kau merasa sudah tidak perlu lagi kehadiranku karena sudah merasa terbiasa dengan kehadiranku, aku akan terima. Mungkin memang sudah sepantasnya aku benar-benar menghilang dari hidupmu setelah apa yang kulakukan selama ini terhadapmu.

Hhh, aku pasti akan dibenci temen-temenmu yang kenal aku. Maaf ya dewa, aku benar-benar menyakitimu ya? Kau kenal aku kan? Kau juga pasti tau aku akan mengalami masa-masa sulit saat nanti benar-benar lepas darimu. Sekarang aja aku ndak bisa menahan tanganku yang tak henti gemetar saat menulis kalimat-kalimat menyakitkan ini. Kau tau pasti aku emang lebih payah dan lebih lemah daripadamu kan..terima kasih karena menempatkan posisiku begitu istimewa dihatimu, sangat tersanjung sekaligus sakit mendengar kau sampai harus berubah jadi androgyny di hadapan ibumu hanya karena aku. Mungkin itu termasuk salah satu alasan aku memilih untuk mengambil keputusan ini, juga merupakan alasanku mengirimimu sms yang kau akui ndak bisa kau artikan.

Emosional? Mungkin, tapi aku ndak melihat cara lain untuk membuatmu terbebas dari beban yang membuatmu menyalahkan dirimu sendiri, untuk alasan apapun terhadap apa yang terjadi padaku.
Baik-baik disana ya dewa, jaga kesehatanmu, jangan keseringan tidur larut, nanti susah kalau mau absen, ingat tuk membiasakan diri absen tanpa harus di kirimi alarm, lalu kumohon dengan sangat untuk berusaha bagaimanapun caranya menghindari yang shubhat itu saat kacau melandamu ya..untuk makan, kau kan punya maag, kumohon..perhatikan juga yang satu itu, minumnya juga yang bener ya, jangan kebanyakkan minuman bernatrium benzoat atau apalah itu yang banyak ada di dalam minuman kemasan yang berwarna. Janji ya dewa, seenggaknya suatu saat nanti, saat kau benar-benar membenciku atas perlakuanku, kau tidak melewatkan sedikitpun apa yang kuingin kau tuk baik-baik disana, saat aku benar-benar tak ada, saat kau benar-benar tak mau menemuiku. Atau saat masing-masing mulai merasa nyaman dan tidak memerlukan satu dan yang lainnya. Bukannya aku menyombong, tapi kau yg paling tau diriku, aku bisa pastikan aku hanya akan bisa tersenyum atau bahkan tertawa tuk menutupi kelemahanku atas kehilangan keterbiasaan denganmu. Sungguh aneh, tapi aku ndak pernah merasa sebergantung ini pada seseorang yang kukenal hanya dalam waktu kurang dari setahun, hal yang berbeda dengan voldemort. Tapi aku akan belajar, kau tau kan aku cum laude?

Kamu yang bahagia ya disana..kalo boleh aku minta sedikiiiit aja, ingat aku ya..walau cuma sebentar, walau cuma sebagai 'bekas sahabat'..

Akan ada yang ku 'ceritakan' padamu suatu saat nanti, cerita ndak begitu penting mungkin, tapi cukup memberikan pengaruh atas terbentuknya diriku yang sekarang. Sayang sang waktu ndak mau sedikit berbagi tempatnya untukku menumpahkan semua, atau mungkin karena keberanianku yang mulai surut di rebut kenaifan dan kebodohanku. Kau tunggulah, aku hanya butuh waktu untuk merangkai sedikit setiap alphabet itu menjadi rangkaian kata dalam beberapa kalimat panjang lainnya yang bermakna, yang mungkin kau ndak akan bisa artikan, sama seperti tulisan ini mungkin..

Terakhir, maaf ya untuk semua yang selama ini ndak sempat terpenuhi, semua janji yang sempat terlontar yang mungkin harus aku ingkari atau ndak mampu terlaksana karena keputusan bodohku. Nanti, suatu saat..saat kau menemukan kebahagiaanmu, kalau kau masih membutuhkanku, kau tau kemana menemuiku..i tupun jika kau mau.. dan mungkin saat itu kita bisa menertawakan kebodohan masing-masing..

always at your service your highness, whibsib
 Baik-baik ya dewa…

Without wax, always
..fnt

*******

Tulisan itu pernah aku publish di blog ku yang lain. Tempat dimana aku biasa menorehkan coretan-coretan manja ku. Kali ini terpaksa aku letakkan disini. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi mengutarakan maksudku. Terlalu buntu otak ku. Maafkan..


And you say I only hear what I want to
I don't listen hard
Don't pay attention to the distance that you're running
To anyone, anywhere,
I don't understand if you really care
I'm only hearing negative
(Stay, Lisa Loeb)


>>

I remember,
When i first post this writing, you came to look after me
Now i think i just can dream about you.. to look after me

Senin, 22 Agustus 2011

Trust

Ingat lambang ini?
Source


Kamu tahu dengan pasti bagaimana perasaanku padamu

Promises made and broken
Hopes raised and then dashed
Sweet words have been spoken
But My Darling, is this the time promises last?
(P.M Montgomery)

Aku sengaja mencari tulisan itu untuk postingan kali ini. Karena otakku terlalu tumpul untuk merangkai kata-kata ku sendiri. Maaf, tapi aku terlalu kalut untuk mencari tahu dimana letak salah dalam perlakuanku padamu.

Up and down, round and round,
Our lives have been wild,
Oft times it's been like a carnival ride.
But through it all, there has been one constant thing,
Without you, my world is not worth living.
(P.M Montgomery)

Jo, ku..
Jo, ku yang dulu. Aku yang terlalu tenggelam dalam kharisma yang tanpa sengaja menerangi perjalanan hidupku. Aku yang terpesona oleh begitu banyak peluh yang terjatuh untukku. Aku yang terlanjur mencandu mu. Kamu yang dulu.
Jo, ku..

Now, I choose to believe once again.
I place my heart in your hands.
Don't break it. It's fragile;
Held together by hope and a dream.
(P.M Montgomery)

Haruskah kutanam lagi kepercayaan itu padamu? Bagaimana bila kembali rusak? Darimana harus aku mengulang? Aku bahkan tidak tahu bagian mana yang rusak atau rapuh. Ini adalah kepercayaan yang aku bahas, kepercayaan yang pernah tertuang dalam tulisanmu yang lalu. Kepercayaan yang kamu tawarkan untuk aku sampirkan di punggungmu, yang menjadi pegangan kesukaanku.

Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim,
Because it was grassy and wanted wear;
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
(Robert Frost)

Aku..  entah harus menyebut apalagi untuk ungkapkan yang kurasa. Memaafkan, dan melupakan. Tolong ajari aku caranya. Karena sepertinya aku kesulitan melakukan keduanya. Perjuangkan perasaan itu.. apakah harus dengan melalui jalan seperti ini?


Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way,
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I-
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference
(Robert Frost)

Minggu, 21 Agustus 2011

Afternoon blues

It's because the weather i'm crying
Source



Aku sendiri disini. Ingin menulis. Tapi tak tahu apa yang ingin ku tulis. Pikiranku bercabang kemana-mana. Ada banyak sekali yang berkelebat di kepalaku. Terlalu banyak.

*******


Sesaat tadi, saat aku tengah menyetrika, aku memikirkan beberapa hal. Terutama saat kita sedang bercakap-cakap melalui media elektronik itu. Aku mendengarkan laguku, lagu yang beberapa waktu belakangan ini sering mengisi kedua gendang telingaku saat aku tengah sendiri. Alunan ayat-ayat suci yang dilantunkan oleh Al-Ghamdi. Menenangkan, sekaligus mengiris pinggir hatiku. Perlahan irisan itu mendalam, dan semakin dalam.
Aku teringat ibu. Membayangkan apa yang tengah dilakukannya saat itu. Berkumpul bersama Dhiva dan Yaya kah? Atau asyik duduk berpelukan di atas tempat tidurnya sambil menikmati tontonan Televisi. Atau malah mungkin mereka semua tengah berkumpul di dalam kamar itu bersama-sama. Bercengkerama, tertawa, membahas apapun kecuali aku. Kecuali aku. Dan aku menangis. Ya, melakukan kegiatan merapihkan pakaian-pakaian yang telah dicuci olehnya itu sambil sibuk menghapus linangan air mata yang tak mampu kutahan.

Aku rindu.

Teramat rindu.

Dan membayangkan bahwa percakapan itu tidak melibatkan pembicaraan mengenai ku sama sekali membuat air mataku semakin deras mengalir. Aku ingin ada disana, ditengah-tengah kalian.

Biasanya aku akan merangsek ke sisi ketiak ibu, menenggelamkan kepalaku dibawah lengannya, dan menciumi aroma ketiak ibu yang sama sekali tidak berbau. Mungkin tidak akan banyak yang akan dibahas pada kamar itu, biasanya aku akan lebih banyak diam. Menikmati waktu bersama ibu. Ibu pun akan diam. Sepertinya kita akan sama-sama tahu bahwa waktu itu terlalu berharga untuk sekedar dihabiskan dengan bercakap-cakap yang tidak perlu. Kita akan diam bu, diatas tempat tidur di dalam kamar itu. Diam dan menatap layar Televisi. Sesekali mengomentari acara Televisi yang tengah di putar pada layar cembung berukuran 29 inch itu. Sesekali menertawai adegan lucu yang terpampang pada layar Televisi itu.

Lalu Dhiva atau Yaya akan muncul dengan cengiran khas nya. Menelusup ditengah-tengah aku dan ibu. Aku pun akan langsung mempertahankan posisiku untuk tetap ada disamping ibu sambil berpura-pura mengusir Dhiva atau Yaya yang berusaha untuk berada ditengah-tengah aku dan ibu. Lalu kamar itu akan dipenuhi oleh tawa yang membahana. Tawa Dhiva atau Yaya yang menggelegar, dicampur dengan tawa ibu. Sedang aku hanya akan tertawa kecil sambil memperhatikan mereka satu-persatu. Lalu merebahkan kepala kembali diatas bantal dan melanjutkan menatap layar Televisi.

Menjelang sore, pasti semuanya tengah meributkan menu berbuka puasa. Ibu akan sibuk menanyai menu apa yang kami inginkan untuk berbuka. Lalu ibu dan Yaya mungkin akan pergi ke komplek depan rumah untuk membeli lauk, biasanya hari-hari terakhir puasa seperti ini ibu sudah malas untuk memasak dan memilih untuk membeli menu berbuka puasa. Sedang sahur, kebanyakkan akan diisi oleh menu makanan instant yang sudah dibeli lebih dulu jauh-jauh hari. Es timun suri atau es kelapa bercampur sirup pasti akan terhidang sebagai menu pembuka untuk berbuka. Menu kali ini apa bu? Ada es timun suri atau es kelapa campur sirup itu? Lalu gorengan itu, apakah masih tersaji?

Semua orang sepertinya berbuka puasa bersama-sama hari ini. Nana mungkin berbuka puasa bersama keluarganya atau Anggi. Dia pergi sejak siang kerumah keluarganya, dan akhirnya member kabar akan berbuka puasa bersama keluarganya. Dan kamu, pergi berbuka puasa bersama teman-teman lamamu. Teman-teman yang menurutmu mengerti dirimu. Sedang aku, menyelesaikan tumpukan pakaian untuk disetrika. Ditemani sepi dan air mata, juga tumpukan pakaian kusut menunggu untuk kubuat halus dan wangi.
Aku serius waktu menuliskan akan membajak dirimu saat kamu tengah berada ditengah-tengah mereka. Tapi jawabanmu yang sepertinya tidak mau meluluskan permintaanku itu membuatku memilih untuk mengalihkan kalimatku. Aku bilang bercanda dan tidak serius. Ironis, aku menangisi keputusanku. Entah kenapa, tapi sepertinya aku menyesali caraku mengalihkan perhatian atas sepi yang memelukku hari ini. Tawaran untuk buka puasa yang sebelumnya kamu utarakan sepertinya juga tidak serius. Karena kamu cepat sekali menarik kesimpulan aku tidak mau. Padahal aku tengah berpikir bagaimana mengiyakan tawaranmu. Kamu itu, benar-benar tidak mengenalku lagi ya. Padahal akhirnya aku katakan bahwa aku akhirnya sendirian.

Sudahlah.

Aku akhirnya benar-benar sendiri. Tidak kemanapun atau dengan siapapun yang kulontarkan dalam bahasa teks itu. Sendiri di tempat ini. Hanya ditemani suara ketikan keyboard notebook ku, juga acara Televisi.

Aku rindu.

Adik-adikku. Kamu. Dan ibu.
*******



Selamat berbuka puasa 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...