Senin, 23 Juli 2012

Aku masih sakit

dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita
-Asy-Syu'ara [26:55]-
...

Tolong berhenti bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa! Rasanya aku ingin meledakkan saja semuanya dihadapan kalian. Gerah tahu!

Kalian ini mengaku sahabat tetapi dapat sedemikian rupa memperlakukanku di belakangku. Bagaimana aku bisa mengintrepetasikan persahabatan dengan kalian? Bagaimana bisa aku bersikap normal seperti layaknya kalian bersikap terhadapku? Menggelikan. Lucu kalian!

Tak usah berpura-pura baiklah padaku. Aku tahu kalian pun akhirnya merasa bersalah. Aku memang lebih baik diam saja. Malas rasanya harus mengungkit hal menyakitkan yang kalian telah perbuat terhadapku. Seperti kalian saja belum pernah mengalami yang rasanya di khianati oleh orang tersayang. Baiklah mungkin kalian tidak pernah mengalami, karena kalian tidak pernah menganggap penting dan agungnya persahabatan seperti aku menganggapnya. Jadi kalian mungkin akan sambil lalu saja bila ada yang begitu membuat hati kalian sakit. Atau mungkin hati kalian sudah beku?

Aku memang memilih menghindar, demi untuk menjauh dari perasaan tersakiti itu. Bagaimana aku dapat menahan sakit yang diakibatkan oleh orang yang kuanggap istimewa? Sudah selesai persahabatan ini, kalian hanya akan menjadi teman untukku. Setidaknya sampai luka ini benar-benar kalian dapat tebus. Aku telah lelah dengan luka. Jenuh.

Maka maaf. Ketika aku masih mampu merasakan sakit itu, kalian hanyalah orang biasa bagiku. Dan aku hanya akan diam sambil mencoba mendinginkan hatiku yang memanas tiap kali sapa itu melanda. Seolah-olah kita masih baik-baik saja.




Puasa hari ketiga ini saya bahkan belum sempat melakukan kebiasaan tadarus, tapi sudah mengurangi pahala lagi..
Source


Jumat, 20 Juli 2012

Behind the story

Saya tidak perlu jadi orang baik maupun orang benar
Karena saya hanya perlu menjalankan peran saya di bumi
Semampu saya
Tuhan tahu itu
-mine-
...

Sungguh saya tidak bohong jika saya pernah begitu malasnya menjalankan ibadah. Bahkan saya seringkali kalah beberapa langkah dari adik saya yang pertama. Ia begitu rajin beribadah, bahkan lebih dulu mengenakan jilbab dibanding saya. Maka ketika itu saya hanya ingin menjadi lebih baik dalam ibadah saya. Bukan ingin menyamai ataupun menjadi lebih baik dari adik saya. Ibu saya sendiri tidak pernah menyuruh saya untuk berjilbab. Entah kenapa. Tetapi beliau juga tidak pernah menekankan pentingnya beribadah kepada saya. Mungkin simbah saya yang agak terlalu mendorong saya untuk beribadah dengan takun. Simbah kakung saya, lebih tepatnya.

Ibu terlalu sibuk untuk mencari nafkah demi menyambung hidup saya yang saat itu dititipkan oleh simbah sesudah perpisahannya dengan Bapak. Maka saya lepas dari pengawasan ibu. Hanya sedikit memori yang saya ingat mengenai tinggal dengan simbah saya. Simbah kakung yang seringkali mengantarkan saya sekolah SD dengan sepeda ontelnya. Simbah putri yang yang berusaha menambah penghidupan dengan berjualan berbagai macam makanan mulai dari gado-gado sampai membuat kue.

Saya hampir tidak ingat ibu saya sering mengunjungi saya ketika saya masih tinggal bersama simbah. Satu-satunya memori hanya saat itu ibu datang dengan suaminya yang baru tanpa pernah saya ingat saya dimintai pendapat mengenai pernikahan mereka. Dan saya dibelikan sepeda agar bisa berangkat sekolah sendiri. Jadi saya tidak lagi menyusahkan simbah kakung yang sudah menjelang tua untuk mengantarkan saya dengan sepeda ontelnya. Mungkin ibu pernah bilang mengajak saya untuk tinggal dengannya, suatu waktu. Tapi saya tentu saja tidak akan begitu mudah dibujuk. Karena saya bahkan tidak tahu menahu mengenai pria yang selalu di sebelahnya itu. Tidak pernah akrab. Tidak pernah merasa berusaha untuk di akrabi. Maka bukankah saya wajar bila menolak untuk tinggal dengan orang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya? Meskipun akan ada ibu disana.

Saya sempat begitu rajin beribadah. Saat itu ketika akhirnya saya pindah bersama ibu. Madrasah saya dari kelas 4 SD sampai kelas 5 atau 6, saya lupa. Yang pasti, pendidikan agama saya hanya saya dapatkan dari madrasah, sekolah, dan sedikit-sedikit dari rasa ingin tahu sendiri. Begitulah, ibu hampir tidak pernah ikut andil dalam kerohanian saya, juga kedua adik saya. Kami berlaku sendiri. Bahkan dalam hal belajar. Semuanya telah dibiasakan sendiri. Walau ibu begitu mahirnya mengaji dan begitu pintarnya semasa masih berada dibangku sekolah. Bahkan ketika ibu bercerita bahwa ia pernah menjabat sebagai guru ketika masih di Solo. Meski itu hanya guru TK. 

Lalu beberapa waktu belakangan ini, ibadah saya mengendur. Kepenatan di Jakarta seperti menghambat semangat saya untuk beribadah. Padahal dulu saya paling rajin untuk sekadar bangun di sepertiga malam untuk sekadar bertahajud maupun istikhoroh di kala kebingungan saya akan menentukan pilihan. Tapi itu dulu. Jakarta benar-benar telah mengubah saya. Bukan hanya dalam sifat, tetapi juga dalam kerohanian saya. Saya mulai mengendur. Shubuh yang hampir tidak pernah saya lewatkan, akhir-akhir ini bahkan seringkali dalam seminggu saya tinggalkan. Saya benar-benar mengalami yang namanya kemunduran mental dalam beribadah. Jakarta melumpuhkan saya.

Meski begitu, saya tidak sepenuhnya membenci Jakarta. Karena bagaimanapun, saya mendapatkan tambahan untuk biaya hidup karena bekerja disini. Dan masih tetap memimpikan untuk tidak lebih sering menginjakkan kaki di Jakarta. Saya harus memperbaiki diri lagi. Setidaknya ibadah saya. Karena hal lain, saya hanya perlu berbaik-baik diri. Saya percaya, pengadilan terakhir itu adalah pengadilan Tuhan. Jadi, ketika saya sudah begini baligh, sayalah yang menanggung semuanya.
..

Menjelang puasa ini, tak ada tradisi khusus yang harus dijalankan. Tak ada istilah harus saling bermaafan sebelum puasa agar puasa afdol maupun alasan lainnya. Tak ada istilah nyekar menjelang puasa. Karena simbah kakung saya tidak mengajarkan apa yang tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad. Dan saya tahu simbah kakung saya adalah orang paling lurus dalam masa hidupnya. Maka itu saya hanya akan berpegang teguh pada ingatan simbah saya, dan juga pengetahuan yang dapat saya cari dimanapun dijaman secanggih ini.

Maka saya akan mencoba bertenang saja menjalani ibadah puasa ini. Saya hanya harus mempersiapkan diri untuk menjadi yang lebih baik. Bukan karena saya tengah mengalami kemunduran akhlaq maupun sedang durhaka. Saya adalah manusia, dan memiliki akal serta pikiran yang diberikan oleh Tuhan saya, Alloh SWT untuk saya dapat perjuangkan sebaik-baiknya. Selama apa yang saya lakukan tidaklah jauh dari dosa tak terampuni. Dan saya sungguh tidak bohong jika saya mengatakan saya masih berada di jalur saya, jalur agama yang saya pegang sejak dulu. Agama penyerahan.

Kali ini mungkin akan lebih berat dari tahun kemarin. Meski saya tidak mengelak bahwa tahun kemarin sungguh merupakan cobaan paling berat yang saya alami. Tapi saya hanya harus berjalan sekali lagi, menikmati keterseokan di jalur yang lain. Jalur yang pastinya akan lebih panjang dari kemarin.
 ...


Tuhan, setidaknya kuatkanlah aku sekali lagi. Melebihi kekuatan yang pernah Kau beri sebelumnya. Karena aku mulai merasa meringkih kembali. Tak hiraukah Engkau pada rintihanku menjelang tidurku? Tenangkanlah aku, dan orang-orang di sekelilingku. Ampunilah aku..

Dengan nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh. Tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Alloh..


Source  


Selamat menunaikan ibadah puasa..

Selasa, 10 Juli 2012

Bahagia itu sederhana?

Bahagia itu sederhana.
Bahagia itu sederhana..

Saya beberapa kali mengerjap pada status salah satu rekan kerja saya itu. Orang yang tempo hari hampir selalu ada setiap kali saya sedih. Karena saya sudah tidak memiliki Jo. Bukan saya mencari penggantinya. Toh, kemudian Jo, sendiri akan mencibir bahwa saya sudah memiliki seseorang yang akan selalu ada disamping saya selama dua puluh empat jam tujuh hari tiga ratus enam puluh lima hari.

Beberapa kali pula saya selalu merasa tidak bahagia. Mungkin lebih tepatnya belum bahagia. Jadi, bahagia itu apa ya sebenarnya? Mengapa menjadi sederhana? Saya akan mencoba menelaah sesederhana apa kebahagiaan saya.

Suatu kali saya yang biasanya bisa tangguh ini bisa begitu rapuhnya hanya karena melihat anak kecil yang sibuk hilir mudik di beberapa lampu merah untuk sekadar menerima belas kasihan dari para pengendara. Rupiah. Maka saya dapat merasakan gemuruh di dalam dada ini karena terenyuh dengan penderitaan mereka.

Lalu saya akan cepat-cepat mengganti saluran televisi yang menampilkan gambar maupun berita yang berhubungan dengan penderitaan anak-anak, entah itu mereka yang menderita penyakit yang memerlukan biaya besar untuk pengobatan, maupun yang biasanya jadi acara tetap di salah satu televisi swasta dimana seseorang digambarkan hidup dengan keadaan jauh dari cukup bahkan ketika sudah bekerja keras sekalipun.

Saya sungguh terlihat tegar dan tanpa beban di hadapan umum. Sangat sedikit sekali yang mampu melihat betapa sesungguhnya saya begitu rapuh. Mungkin tawa yang saya hadirkan itu hanyalah sebuah tameng yang saya miliki untuk melindungi sisi rapuh saya. Maka saya menghindar.

Jadi, entah apa itu bahagia. Dan entah mengapa itu menjadi begitu sederhana. Ketika yang saya lakukan lebih banyak menghindar. Karena saya sungguh tidak ingin menjadi hancur berkeping-keping hanya untuk mempertahankan apa yang saya anggap mampu membuat saya bahagia. Karena pada akhirnya, kebahagiaan itu terletak pada senyum orang lain yang kita lihat. Bukan senyum kita sendiriyang kita lihat melalui cermin.

Bahagia itu sederhana.. sesederhana apakah?



Tentu saja saya yakin akan kebahagiaan. Hanya saja, bila sederhana.. apakah yang menjadi tolak ukurnya?
Source

Rabu, 04 Juli 2012

Broken

Perhatikanlah,
Kadang kala raut wajahku berubah. Seketika tersenyum, tetapi lihatkah kau akan binar mataku yang meredup? Kadangkala aku tertawa dengan riangnya. Dan dibalik bola mata ini kesenduan tersebunyi dalam. Tanpa dapat seorang pun lihat. Dan aku akan baik-baik saja.
...


Saya sungguh tak peduli dengan omongan orang. Akan mereka bicarakan apapun tentangku menurut mereka. Tetapi sesungguhnya ucapan itu hanya berlaku saat saya tengah emosi. Sesungguhnya saya peduli. Sesungguhnya saya memikirkan. Dan sesungguhnya saya menjadi sedih. Bahwa mereka tidak pernah berani mengutarakan secara langsung apa yang mereka pikirkan tentang saya. Bahwa mereka hanya bisa bergunjing dibelakang saya. Menertawakan kebodohan saya. Kadang kala juga mencemooh keberuntungan saya.

Mereka sesungguhnya tidak tahu. Maka saya akan tetap saja pura-pura tidak tahu. Berpura-pura bahwa saya tidak mendengar ucapan tersembunyi mereka. Bertingkah seolah saya baik-baik saja. Saya memang baik-baik saja. Setidaknya itu yang ingin saya perlihatkan pada mereka.

Saya tak butuh dikasihani. Berikanlah yang selayaknya ingin kalian berikan padaku, bila itu memang yang kalian lihat pantas untuk ku dapatkan. Dan saya tidak akan melayangkan protes atau gumaman. Saya hanya ingin mencoba lebih bersyukur. Setidaknya saya hidup.

Dan tak akan saya umbar lagi seluruh kisah kelam saya pada kalian. Sudah cukup. Saya hanya akan sendirian. Mencerna baik-baik semua erangan perjalanan hidup saya. Dan mencoba menelan semua yang pahit itu sambil membayangkan manis nantinya akan datang juga. Tuhan, terlalu baik pada saya. Itu yang mereka tidak dapatkan. Hati.

...

Saya tidak tahu bagaimana seharusnya memperlakukan sahabat. Ataukah mereka yang tidak tahu bagaimana memperlakukan saya sebagai sahabat..?


Berkali-kali lagi saya kecewa, pada mereka yang saya percayai sebagai sahabat..
Source


Rabu, 27 Juni 2012

Ijo semangka

Bahkan ketika jarak dapat di persempit, tak juga mampu memecah rindu. Maka ketika air mata menjadi penghibur sementara, ku nikmati saja dalam kesepian.

Bukan salahku, karena mereka juga tidak mungkin mau dipersalahkan. Maka aku juga tak akan menyalahkan mereka. Karena hadirku mungkin hanya sekelebat. Seperti bintang yang kadang tak disadari keindahannya.

Bahkan dikala malam pekat begitu membutuhkannya untuk sekadar menjadi titik penerang yang seadanya.

Kangen kalian..


Sangat.

Eh, jadi pengen ngerujak semangka!
Source

Minggu, 24 Juni 2012

Satu

 They say true love last forever
I say true heart will always there
Till death do us part
-mevi-
...


Baiklah..

Hari ini, tepat satu tahun yang lalu. Dimana semua berawal. Dan akulah yang ada saat ini. Tanpa apapun. Mungkin sekadar mengingat. Lalu ada yang tersenyum sinis, lalu ada yang menyeringai, mungkin mencibir, memaki, mengutuk, bahkan bila ada yang tersenyum bahagia aku sendiri tak tahu orangnya.

Hari ini adalah satu tahun umurku. Umur yang mengawali semua. Diantara berliter air mata yang telah sempat tertumpah. Diantara bermacam emosi yang sempat tertuang. Diantara kekacauan ditengah apa yang mereka sebut bahagia. Mungkin lebih baik tak ada yang mengingat. Tetapi menyedihkankah bila kuingat? Karena sesungguhnya hari ini mungkin seharusnya jadi hari diantara hari paling membanggakan dalam hidupku. Bahkan bila saja aku boleh berbahagia. Bertahan selama satu tahun. Mampukah aku bertahan lebih jauh?

Karena kata-kata itu sempat terlontar, dan entah apakah itu menjadikannya janji. Namun aku terbukti mengingkari. Dan memilih untuk bertahan diantara sinis mata dan cibir mulut. Aku bertahan. Sampai hari ini. Mungkin juga tak akan ada yang mengingat. Karena siapalah aku ini? Si biang onar, pembuat kekacauan. Bahkan sekadar menyebut namaku mungkin sudah membuat mereka lupa pada detik berikutnya.

Tapi ini seharusnya jadi hari bahagiaku. Aku yang mampu bertahan. Satu tahun. Mencoba untuk melancarkan bicara, mencoba untuk berjalan. Meski terbata, dan terseok. Masih akan adakah tahun kedua, ketiga dan seterusnya? Bahkan bila memang apa yang mereka sebut 'sampai maut memisahkan' itu adalah benar adanya.


Happy anniversary..
-Jun 24, 2011-



Source

Jumat, 15 Juni 2012

Off to a trip

Jadi kantor saya tiap tahunnya pasti mengadakan outing atau dalam bahasa akrabnya adalah suatu acara untuk sekadar melepaskan diri dari penatnya rutinitas pekerjaan dan sedikit penghiburan yang diberikan oleh manajemen untuk karyawannya. Acara yang seharusnya berisi berbagai macam kegiatan yang mampu membuat para karyawan menjadi sedikit santai dan melupakan pekerjaan, juga memper-erat ikatan kekeluargaan agar selalu dapat kompak dan semakin akrab.

Penghargaan kecil dari manajemen perusahaan ini sebenarnya terbagi menjadi beberapa kelompok yang mana tiap kelompok departemen akan mempunyai jadwal acara sendiri tiap tahunnya. Biasanya para sales yang dinilai telah bekerja keras menguntungkan perusahaan akan mendapatkan penghargaan tertinggi melalui quarterly award maupun acara hiburan ke luar negeri. Tahun ini banyak sales yang telah berangkat untuk jalan-jalan keliling eropa. Sementara para staff support operational biasanya akan mendapatkan acara santai berdasarkan kesepakatan dari departemennya masing-masing.

Departemen saya kebagian untuk menyelenggarakan acara outing ke Bromo-Malang-Surabaya. Agendanya memang sebagian besar menitikberatkan pada kunjungan ke Bromo dan jalan-jalan tentu saja. Bagi karyawan ibu-ibu mungkin lebih tertarik pada acara belanja yang tentu menjadi bagian dari agenda outing. Tahun lalu saya tidak ikut ke Garut (acara outing tahun lalu), maka tahun ini saya memang berniat untuk ikut karena sejujurnya saya belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di Bromo.

Saya berangkat pada tanggal 14, dan rencana kembali tanggal 16. Pesawat Lion yang berangkat pertama membuat saya harus bangun pagi demi mengejar jadwal check-in pada pukul 06.50 pagi. Saya punya ketakutan terhadap pesawat. Maka, ketika jadwal awal keberangkatan yang tadinya menggunakan kereta api diubah menjadi naik pesawat membuat saya sedikit ketar-ketir. Tapi saya toh ingin merasakan liburan ke tempat yang jauh dari yang selama ini menjadi rutinitas saya. Maka saya beranikan diri. Mungkin akan sedikit takut, tapi toh saya telah pernah naik pesawat sendiri keluar negeri dan saat itu saya selamat. Semoga kali ini saya tetap dapat berangkat dan pulang dengan selamat.

Saya sungguh ingin bersenang-senang. Melupakan sejenak semuanya. Ya, semuanya. Bahkan mungkin bila saya dapat sekadar mengalami hilang ingatan hanya ketika saya sedang outing dengan orang kantor, saya ingin sekali dapat dikabulkan. Saya sungguh harus bersenang-senang. Jadi, masa bodoh dengan semua kejengkelan, kesedihan, kegalauan, dan semua yang negatif  yang selama ini saya alami. Saya ingin ke bromo, dan bersenang-senang!

draft H-1


Saya sungguh berharap pegunungan dan segala keriaan nanti dapat mengikis sedikit kenegatifan dalam hidup saya
Source


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...