Senin, 28 November 2011

Pada 13 bulan ini


Kue? :D
Source

Sebenarnya tidak ada tradisi apapun di keluarga kami setiap ada hari istimewa. Ulang tahun misalnya. Saya sendiri sudah lupa kapan terakhir dibuatkan perayaan dengan mengundang beberapa teman untuk datang dan bersenang-senang di tanggal kita dilahirkan. Pengulangan setiap tahun yang kemudian menjadi bukan hal yang istimewa. Setidaknya dalam keluarga saya.

Bulan ini, pada tanggal 13 seharusnya menjadi hari istimewa itu. Pada tanggal 13 di bulan ini adik saya lahir. Ibu menamainya begitu indah. Bahkan nama itu saat ini menjadi nama yang begitu tenar dikalangan dunia hiburan. Seorang penyanyi, maupun pelakon akan dengan mudah diberi julukan itu jika tengah sukses dalam karirnya. Perbedaan nama adik saya dengan nama julukan istimewa itu hanya terletak pada kelebihan satu huruf yang disisipkan pada setelah huruf pertama. Nama yang akan selalu tenar.

Jumat, 25 November 2011

I'll be happy Mister

Source
 
Saya menerima sebuah pesan singkat hari ini. Pesan singkat berisi anjuran untuk menjaga pola makan saya. Saya mengerutkan kening, menanyakkan dalam hati bagaimana ia selalu bisa tahu tentang saya. 

Terkadang saya merasa ia seperti seorang peramal yang mampu mengetahui apapun tentang saya. Terkadang begitu kesalnya karena ia sepertinya tidak pernah bisa lepas dari masa lalunya dengan saya. Namun, ia selalu ada untuk saya. Beberapa kali dalam tiap kesempatan, kapanpun saya merasa sendiri, ia selalu bisa menghadirkan sisi lain dari kelemahan saya. Saya tahu ia ada. Bahkan bila itu melalui uluran tangan orang lain.
Dulu, jika saya sedang kesal padanya, saya memanggilnya mister. Perawakannya yang berasal dari campuran kebangsaan orang tuanya yang membuat saya memanggilnya demikian. Sekaligus untuk menyindirnya ketika saya merasa ia sudah terlalu jauh memasuki area pribadi saya. 

Kini, rasanya panggilan itu bukan lagi panggilan saat saya sedang kesal padanya. Mungkin lebih bisa disamakan dengan panggilan yang biasa saya gunakan padanya untuk menghindari namanya yang sulit dilafalkan oleh bibir orang pribumi seperti saya. 

Saya harus banyak berterima kasih padanya, juga meminta maaf. Karena saya, ia harus banyak menanggung berbagai pikiran dan masalah. Saya ini, mungkin benar seperti yang pernah di lontarkan oleh salah seorang temen saya dalam lingkaran pertemanan saya terdahulu, saya tidak pernah bisa bersyukur. Padahal ia adalah sosok sempurna untuk saya. Tapi saya terlalu dangkal untuk membayangkan dapat bersanding dengannya suatu ketika itu. Sebuah masa lalu.

Pertemuan kami cukup unik. Saya membuat rusak mobilnya dengan kelalaian saya yang saat itu baru melancarkan mengendarai motor. Ia, yang mobilnya saya buat banyak baret dan sedikit penyok hanya tersenyum menatap saya yang bersembunyi dibalik badan teman saya yang cukup besar. Saat itu, senyum itu selalu mengiringi saya kemanapun langkah saya. Bahkan kemudian saya baru tahu, bahwa ia sengaja membuat mobilnya tertabrak oleh motor saya. 

“Saya tentu dapat menghindar, tapi seharusnya ada yang dapat lebih dramatic dari itu,” pengakuannya suatu hari. 

Entah apa maksudnya. Tapi saya menebak bahwa kemungkinan ia sengaja membuat mobilnya tertabrak motor saya. Sebuah cara untuk dapat berkenalan dengan saya. Pantas saat keluar dari mobil itu ia tidak marah, bahkan temannya itu malah seperti menyembunyikan senyum. Saya yang terlambat menyadari ada misteri dibalik wajah-wajah yang nyata-nyata terpampang didepan saya. Bahkan setelah tahunan kami saling mengenal.

Saya masih ingat kerlingnya saat itu. Senyum khas yang tak bisa lepas dari wajahnya kala saya bersamanya. Bahkan disaat nyata-nyata ketika saya menikamkan pisau di jantungnya. Sampai membuatnya berusaha melebihi dari batas kemampuannya. 

Pesan singkat itu. Ia masih saja memperhatikan saya bahkan ketika saya telah menyakitinya sedemikian rupa. 


"I’ll be happy Mister, I’m on my way of finding what I’ve told you to do
I’ll be strong, 'cause I’ve let you go.."

Rabu, 23 November 2011

Aku si egois

Source

Kadang, seperti yang pernah kukatakan padamu. Aku menjadi takut terhadap diriku sendiri. Takut terhadap apa yang mungkin dapat kulakukan, dapat kuketahui. Dan mengetahui bahwa hanya aku yang mampu mengetahui. Ini terdengar angkuh. Tapi merupakan suatu hal yang tak mampu kutahan atau tolak. Hal itu.. begitu mengalir dengan tiba-tiba.

Silahkan katakan aku pemimpi suci, peramal, bahkan yang lebih mengerikan dari itu. Aku pernah mendengarnya semua. Bukan satu atau dua orang yang tahu kemudian menggunakannya untuk memperolokku, menjadikan bahan ejekan, bahkan menghina. Aku terima. Bukan aku yang menginginkan hal ini, bukan aku yang minta. Aku diberikan. Dan tidak bisa kutolak. Toh tidak serta-merta itu menjadikan aku begitu angkuhnya mengatakan aku mengetahui semuanya. 

Tenang saja, semua kutelan sendiri. Kusimpan sendiri. Yang terjadi kemudian, hanya akan ada aku penciptaku saja yang tahu. Seharusnya aku pun lebih bisa mengontrol perasaan untuk berbagi ini. Bahwa tidak serta-merta orang-orang yang dekat denganku akan mengerti bahwa ini kemudian tidak serta-merta membuatku senang atau bahagia.

Aku tahu. Dan hanya dapat menyimpannya sendiri. Berkali-kali kusingkirkan bayangan yang muncul ketika aku memutuskan untuk berbagi, namun berkali-kali pula akhirnya aku salah telah menekan perasaan itu. Rasanya seperti menusuk diri sendiri, bahkan ketika kita sudah tahu akibatnya. Tetap saja aku menusuk diri sendiri. Rasanya berkali-kali lipat sakitnya.

Untuk tahu saja, aku bercerita, dan berbagi, bukan akhirnya hanya akan dijadikan bahan hinaan atau ejekan yang begitu menyakitkannya. Bahkan ketika aku sebelumnya telah mengetahui akan seperti apa kejadiannya. Atau mungkin ketika aku akhirnya tidak dapat menahan pengetahuanku itu untuk membuat kalimat itu terlontar, ketika aku telah mengetahui sebabnya. 

Aku bukan si pintar, si jenius, si cerdas, bukan juga si orang suci. Aku adalah si egois yang hanya ingin melindungi hatiku. Ketika sudah terlalu banyak orang yang berkata ingin melindungiku. Terlalu banyak yang berkata mengetahui apa yang mereka tidak ketahui. Aku si egois yang memutuskan untuk egois dalam keegoisanku. Dan akan menyimpannya sendiri.

Jadi tak perlu repot menerka, menebak, atau membuat cerita sendiri untuk di sampaikan padaku yang hanya akan membuatku makin menjauh. Simpanlah cerita itu dalam hati saja. Atau ketika ingin berbagi denganku, maka akan kujaga dan kusimpan rapat-rapat bersama pengetahuanku. Jangan berfikiran aku akan perlakukan hal sama seperti yang telah terjadi padaku, aku terlalu sibuk untuk berfikir mengenai balas dendam. Terlalu sibuk menjaga keegoisanku.

Got a secret
Can you keep it?
Swear this one you'll save
Better lock it, in your pocket
Taking this one to the grave
-Secret, the pierce-



__________

Saya sedang sangat kesal. Entah kenapa. Rasanya kesal sampai saya bisa tertawa untuk hal sepele. Kesalnya.

If you were mine

Source

If you were mine
Maka aku tak akan lagi membutuhkan mimpi untuk menjaga kebahagiaanku
Cukup denganmu saja
Because if you were mine
Kebahagiaan adalah nyata
Karena kau yang akan menjaga mimpiku
Tentangku, tentangmu, tentang kita
So if you were mine
Aku pasti tengah menatapmu
Yang terlelap disampingku




__________
note : BLOGGER CONTEST "IF YOU WERE MINE" a novel by Clara Canceriana

Senin, 21 November 2011

I give you back the words

carut-marut bayangan itu makin sering menghampiri kolam kenanganku. Mencari diantara banyaknya gambar yang tersimpan didalamnya. Namamu, seseorang yang telah lama menjadi tempatku mencurahkan percaya. Dulu. Bahkan jauh ketika aku belum mengenal seperti apa itu dunia dimana para gadis menjadi wanita. Dewasa.

Aku menelusup mencari bayanganmu. Mendikte segala yang kubisa temukan. Kata, yang lebih baik dari yang kupunya sekarang. Sahabat. Gemerisik suara yang tiba-tiba lebih kencang dari percik air hujan yang menetesi genting rumah.. mulai membuatku mempertanyakan.

Apakah kau yang nyata-nyata menabuh genderang itu begitu kencang? Mengapa hati ini begitu goyah? Kaukah itu yang dulu selalu menemaniku bertukar kisah tentang apapun? Ataukah gemerisik itu nyata-nyata suaramu yang memperdengarkanku alunan nada dusta? Kucoba pejamkan mata, mencari kembali dalam kolam kenanganku. Dirimu dalam sikapmu. Sikapmu dalam tutur katamu. Tak terlihat jelas. Semua memburam dalam sudut pandangku yang biasa.

Aku mulai meraba. Benarkah itu yang kau tasbihkan dalam lisan bahwa kau akan disana? Lalu mengapa aku seperti tak melihatmu utuh? Mengapa ini ragu yang kemudian mengambil alih tingkat kesadaranku? Ketika nyata-nyata kalimat yang kau tunjukan padaku berbanding terbalik dengan tanganmu yang tak kunjung terulur? Kalimat itu, bagaimanapun ingin kukembalikan padamu..

"Masihkan kau menjadi sahabatku?" 

Source
_________

Tulisan ini mengendap cukup lama dalam draft, menunggu untuk di publish. Saya sedang tidak bisa banyak menulis, dan sedang tidak kreatif. Jadi tulisan dari draft ini yang saya posting. :D

Kamis, 17 November 2011

Hanya ingin tidur

Everyone hears what you say, friends listen to what you say, best friends listen to what you don't say -Unknown-


Kepala saya sakit. Mata saya perih. Hari ini saya hanya ingin mengeluh. Dan tidur. Terlalu banyak yang tiba-tiba bermunculan dan menyita pikiran saya. Mengetahui banyak hal dan menyimpannya sendiri memang terkadang memberikan beban tersendiri. Tetapi untuk berbagi beban, bahkan hanya sekedar untuk tempat cerita itu juga suatu beban. Saya tidak bisa sembarangan menceritakan yang saya ketahui pada sembarang orang. Bahkan sahabat terdekatpun terkadang tidak bisa begitu saja kita percaya.

Orang yang kita pikir adalah yang terbaik, belum tentu menjadi yang terbaik, sebaliknya, bahkan musuh terkadang menjadi yang terbaik. Tetapi kita sebenarnya bisa merasakan siapa yang benar-benar tulus terhadap kita dan siapa yang tidak. Hanya saja, terkadang perasaan 'mengenali' itu seringkali terbaikan karena kita hanya melihat.


Saya mengantuk. Rasanya ingin tidur yang panjang untuk waktu yang lama. Mungkin saya butuh bermimpi. Mimpi biasa, a normal dream which might make me happy. Tak apalah walau hanya mimpi yang dapat membahagiakan saya sesaat. Saya ingin tidur panjang, yang nyenyak, dengan mimpi yang biasa. Seperti mimpi yang menjadi bunga tidur. Seperti mimpi biasa..





life sucks, get a helmet 
-Unknown-






Tempat tidur yang nyaman :D

Source

Rabu, 16 November 2011

Percakapan yang terlintas

Source
 
“Maksud lo apa mo nikah?”

“Gue udah mutusin, gue aja yang berkorban.”
“Kemana ini arah pembicaraannya?”
“Gue mau nikah sama dia, dan dia ga mau ngalah. Artinya gue yang harus pindah.”
Saya diam mematung. Mencari pembenaran dibalik kalimatnya barusan.
.............



“Kenapa baru kepikiran sekarang?”
“Apanya?”
“Itu, rencana lo. Lo bilang waktu itu nggak akan mungkin tergoda, bahkan sampe kepikiran. Sekarang kenyataannya apa?”
“Cinta mengalahkan segalanya sayang.”
“Termasuk cinta lo sama Tuhan?”
Saya terpekur menatap lantai marmer itu. Pikiran saya kosong.
..................



“Gue udah bilang sama ortunya kalo gue rencana mau nikahin dia itu serius, tapi untuk ikut dia.. Gue masih berat.”
“Terus?”
“Gue harus cari solusi, kan?”
“Ehemmm...?”
“Gue mungkin bisa nyoba bilang sama ortunya untuk ikut dia sementara sampe gue bisa nikahin dia.”
Saya melongo.
..................


“Lo belom pernah jatuh cinta makanya lo ga bisa mikir kayak gue!”
“Lo emosional.”
“Keputusan gue udah mantap kok. Toh Tuhan juga dasarnya kan satu.”
“Terus kenapa lo nangis?”
“Gue kangen keluarga gue.”
“Bukankah lo harusnya udah pikirkan konsekuensinya?”
“Gue cinta dia.”
“Tetep ga bisa ngalahin cinta lo sama keluarga, apalagi Tuhan lo kan?”
“Lo ga tau apa-apa soal cinta, makanya bisa komentar gitu.”
“Mungkin, toh pada dasarnya cinta juga akhirnya cuma satu kan?”
“Maksudnya?”
“Yah, balik lagi ke Tuhan.”
Saya menghela nafas, menatapnya yang kini terpaku.
.................



"Gue kayaknya mau balik lagi kayak dulu."
"Maksudnya?"
"Gue ga begitu ngebayangin bakal seribet ini. Aturannya terlalu ketat, berat. Belom lagi kalo suruh puasa sama sholat. Capek gue harus bangun tiap jam 5."
"Bukannya sebelum lo mutusin, lo udah tau kejadiannya akan gimana?"
"Gue kurang research kali."
"Suami lo gimana?"
"Kalo dia ga terima, ya gue pisah aja. Dulu juga gue pindah kan karena gue mau nikah sama dia. Seharusnya sekarang pas gue udah ikut dia, dia bisa terima apa adanya kalo gue berubah."
Saya mengernyitkan kening. Menatapnya yang tengah mengaduk minumannya dengan santai.



________

Percakapan diatas tidak berjalan demikian seperti yang tertulis, ada beberapa yang saya perbaiki tatanan katanya tanpa mengurangi arti sebenarnya. Maklum, otak saya sedang tidak dapat mengingat dengan baik. Orang-orang di tulisan itu ada yang masih kontak dengan saya sampai sekarang, ada yang entah sudah hilang kemana tak berkabar. Saya hanya berharap mereka bahagia dengan pilihannya. 

Entah kenapa tulisan yang seharusnya saya posting malah jadi tulisan yang ini. Saya hilang mood sejak beberapa waktu lalu. Semua pikiran jadi jungkir balik nggak karuan melintas di kepala. Hadeeehhhh

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...