Selasa, 11 September 2012

She doesn't care!

Seperti hanya kau saja yang takut ditinggal orang tua. Ia bahkan tidak memiliki banyak ingatan terhadap ayahnya selama hampir sepanjang umurnya. Bahkan mungkin tidak memiliki ingatan itu. Karena terlalu muda bagi umurnya ketika orang tuanya memutuskan untuk mengambil langkah ‘berpisah demi kebaikan’. Dan bahkan kemudian ingatan tentang sosok ayah itu makin kabur dan hilang dengan pernikahan kedua ibunya. Ia terima saja. Mencoba mencerna dan hidup dengan pahit itu.

Jangan bilang hanya kau yang takut jika nanti ayahmu meninggal. Kau masih akan punya ibu yang berjarak kurang dari satu jam perjalanan dengan kendaraan umum. Sedang ia hanya memiliki ibu seorang. Jarak dengan ayah biologisnya berpuluh bahkan ratusan kilometer jauhnya. Ia mungkin bahkan tidak tahu lagi kabar ayah kandungnya. Kau bisa bilang, ia bahkan sudah tidak memiliki ayah. Karena kalaupun akhirnya ada dan bertemu, ya seperti itu saja. Tidak ada yang akan dapat dilakukan ayah itu terhadapnya. Karena ayah itu telah kalah banyak dengan ibunya.

Maka bicaralah tentang keadilan. Keadilan yang kau selalu titik beratkan pada ayahmu. Sedang dalam benakmu , ingatan yang ada hanyalah ayahmu yang sakit, ayahmu yang sudah tidak memiliki pekerjaan lagi, ayahmu yang kemudian tidak lagi bisa memberikan penghidupan untuk ibumu. Karena mereka tidak memiliki tabungan apapun selain tabungan haji yang kemudian entah sudah sampai mana perkembangannya. Karena kemudian kau hanya menjadikan titik pikiran utamamu pada ayahmu. Ayahmu. Dan ayahmu.
Sementara ia hanya akan bisa menahan diri untuk tidak lepas kendali ketika kemudian untuk kesekian kalinya yang kau ingat hanyalah ayahmu. Apapun yang kau dapat lakukan, hanya kepada ayahmulah tujuanmu. Maka ia hanya bisa diam. Menahan geram kesalnya. Karena kemudian yang kau lakukan hanya menitik beratkan semua pada ayahmu yang memberikan seluruh jasanya demi kau yang sekarang. Itulah menurutmu, bukan?
Pikirkanlah mengenai keadilan itu. Karena kemudian jika kau benar-benar ingin berusaha adil. Bagilah porsinya tanpa melihat apakah ayahmu yang sedang sakit, sudah tidak memiliki penghasilan bulanan, dan ibumu yang hanya berjualan baju, tapi masih bisa dibantu pemasukan oleh adikmu yang bekerja walau lebih sering mengeluh karena akhirnya tidak memiliki kesenangan sendiri atas penghasilannya. 

Atau apakah karena ibunya mampu bekerja dan mendapatkan penghasilan ratusan ribu dalam sebulan, yang digunakan untuk menutupi kebutuhan dari penghasilan suaminya yang tidak seberapa itu lalu ia berhak mendapatkan diskriminasi dari keadilan itu? Lalu jika kau juga mengetahui bahwa ibunya harus bekerja karena dibutuhkan untuk menyokong penghasilan suaminya yang kurang, juga untuk menutupi kebutuhan hutang yang melimpah, lalu juga digunakan untuk membantu menutupi kebutuhan pendidikan anaknya yang paling kecil yang masih membutuhkan biaya banyak, apakah itu juga tidak termasuk dalam pertimbanganmu? 

Akhirnya kebutuhan itu mendadak membengkak karena kemudian ibunya diagnosis penyakit yang memang mematikan dan membutuhkan perawatan lanjutan untuk diketahui lebih lanjut seberapa perlu tindakan medis yang harus dilakukan. Kemudian adiknya menyusul diagnosis kista yang menurut ukuran seharusnya hanya bisa diatasi dengan operasi yang biayanya tidak hanya satu atau dua juta. Apalagi kemudian adiknya yang paling kecil kemungkinan juga akan terkena penyakit yang hampir sama dengan yang diderita ibunya. Apakah sedikitpun kau tidak memiliki pikiran untuk kesana?

Bukan hanya karena merelakan emas yang akan digadai. Bukan itu masalahnya. Karena seberapa banyakpun yang akan digadai emas itu, tetap akan ditebus, tetap tidak mengurangi biaya hidup, malah menambahi biaya karena pengeluaran akan semakin membengkak. Karena gadai itu bukan mengganti barang dengan uang. Kau sendiri tahu itu.

Maka berpikirlah.

Ia tidak pernah meminta dibelikan macam-macam selain kebutuhan rumah tangganya. Ia bahkan lebih sering memilih untuk melewatkan makan dirumah karena tahu bahwa ia harus mengirit kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan makanmu yang seperti tidak pernah cukup jika makan tidak tiga kali sehari. Ia memilih untuk makan menggunakan fasilitas kantornya, meski rasanya tidak karuan. Meski yang ia inginkan adalah makanan yang bukan hanya makanan kantin yang rasanya itu-itu saja. Memangnya pernah kau rasakan ia makan sendirian sementara kau tidak mendapatkan makananmu jika ia tengah ingin menikmati makan diluar sesekali waktu? Ia berusaha agar semua rata. Ketika ia makan, ia akan memastikan kau juga ikut makan. Ketika kau ingin makan dan yang ia lihat adalah akan berkurangnya jatah untuk makan dikemudian hari demi mengatasi kemungkinan kekurangan dana untuk membeli bahan makanan, ia akan berdalih masih kenyang.

Dan ia akan membiarkanmu melahap semua makanan itu.

Karena ia memikirkan semuanya. 

Karena ia memikirkan apa yang kau pikirkan. Bahwa di kepalamu itu kebutuhan hanyalah untuk ayahmu. Karena kemudian ia harus mencari cara untuk melakukan penghematan dari berbagai sisi. Karena ia hanya ingin kau memikirkan keadilan itu bukan hanya dari sisi keluargamu, tetapi juga dari keluarganya. Karena orang tuamu masih memiliki harta tetap berupa rumah yang entah sampai kapan akan bisa dimiliki oleh keluarganya, karena selama ini mereka masih juga menumpang di rumah kakak dari suami ibunya itu. Mungkin tidak bisa dibilang menumpang, karena ibunya juga masih harus membayar iuran bulanan sekian ratus juta yang entah maksudnya untuk apa. Mungkin dianggap menyewa, mengontrak, atau apalah.

Maka lihatlah keadilan mana yang ingin kau coba perlihatkan padanya? Ia yang menahan lapar tiap malam karena ingin melakukan penghematan jatah makanan untuk di konsumsi dirumah. Ia yang dalam setiap pikirannya juga mengetahui bahwa uang yang kemudian ia dapatkan tentu akan kau bayangkan untuk kau berikan keada ayahmu, meski kau telah memberikan pada ayahmu sebelumnya. Namun tak pernah cukup menurutmu. 

Ia yang akan terlihat kejam karena tidak memperbolehkanmu menjadi tidak adil dengan hanya memenuhi kebutuhan ayahmu seorang, dan bukan dengan memberikan kebutuhan yang sama kepada ibunya. Ia yang tidak memiliki pakaian bagus selain yang ia miliki sebelumnya. Ia yang memilih untuk memiliki hanya satu sepatu untuk segala macam acara karena membeli baru sama saja menambah pengeluaran. Sementara sepatumu terus bertambah. Sepatu futsal, sepatu main, sepatu basket, dan mungkin sebentar lagi kau ingin menambah deretan sepatu yang sudah berjejer itu dengan sepatu badminton karena kau telah mengangkat topik mengenai keinginanmu membeli raket badminton untuk memenuhi kesenanganmu akan hobi barumu.

Lalu seperti apa kemudian hari? Ketika raket, atau sepatu, atau pakaian baru yang kau miliki itu dilirik oleh ayahmu? Akan kau berikan bukan? Secara Cuma – Cuma karena alasanmu, ayahmu itu tidak memiliki barang lain. Lalu pakaian yang menjulur tidak karuan dari lemari jatinya itu apa namanya? Lusuh? Kusam? Memangnya untuk kebutuhan apa pakaian baru untuk ayahmu itu? Sudah ia jelaskan pula bahwa ia memilih mengenakan sandal jepitnya ke kantor karena ia memang lebih memilih melakukan penghematan itu karena kebutuhan membeli sepatu baru bisa digunakan untuk kebutuhan lainnya. Bukan karena ia memang menyukai memakai sandal jepit ke kantor! Meski sesungguhnya ia memang menyukai suasana kasual itu, tapi kau sendiri tahu betapa sandal jepit tak mungkin akan ia gunakan terus menerus.

Maka akhirnya ia memilih untuk menyerahkan semuanya padamu. Kau saja yang atur semuanya. Kau saja yang atur bagaimana menurut baikmu. Jika memang menurutmu kebutuhan ayahmu lebih besar dibanding kebutuhan ibunya. Maka aturlah. Ia tidak akan menaruh protes lagi. Ia tidak ingin melanjutkan kekesalannya karena hal ini. Kau akan lihat nanti bagaimana pertimbangannya berdampak di kemudian hari. Kau yang atur. Ia sudah lelah. Lelah untuk mengantisipasi apa-apa saja yang akan datang dikemudian hari. Kebutuhan apa saja yang diperlukan. Bukan sekadar apakah kau malas, tidak bersih, tidak pernah meletakkan barang pada tempat yang pernah disepakati sebelumnya, tidak teratur, dan sebagainya. Bukan itu.

Ia sudah terlanjur lelah untuk memikirkan semuanya. Jadi terserahmu saja. Ia menyerah. Ia mungkin sudah terlalu lelah untuk peduli terhadap semua. Memikirkan semua yang akan membuatkan menjadi semakin gila. Seperti sariawan yang tidak pernah sembuh sejak puasa lalu.

Ia memilih untuk tidak peduli saat ini. Mungkin ia memang hanya bisa marah-marah. Seperti katamu.


.. AND SHE REALLY IS!
Source

Sabtu, 08 September 2012

Tuhan, aku merasa begitu lelah


Aku ini memang bukan siapa-siapa. Tak berhak terus menerus memperlakukanmu seperti demikian. Karena kau juga memiliki perasaan. Namun aku juga bertahan denganmu karena aku memiliki perasaan. Karena aku memiliki harapan untuk dapat bahagia denganmu. Mempertahankan apa yang dinamakan takdir. Apa yang telah seharusnya digariskan oleh Alloh SWT
.
Namun aku juga memiliki banyak kekurangan itu. Yang mungkin saja juga banyak kau benci. Diantara keluh tengah malamku. Dibalik pejam mataku. Yang aku tak mungkin dengar namun aku tahu. Karena aku pernah begitu salah dimatamu. Dan kau akan selalu menilai bahwa aku selalu melihatmu dengan begitu salah.
Aku telah mencoba bertahan. Merubah diri menjadi lebih baik. Namun kau pun sepertinya seringkali melupakan caramu memperlakukanku. Dan aku bukanlah asisten pribadimu yang sealu harus mengingatkanmu. Karena aku tidak diciptakan untuk menempati posisi seperti itu disampingmu. Atau bahkan satu shaft di belakangmu.

Bila kau ingat kembali sikapmu padaku. Bagaimana kau bisa begitu baiknya dihadapan semua orang. Bertindak seolah-olah aku adalah satu-satunya makhluk didunia ini yang kau cintai. Maka mereka akan iri. Lalu seketika akan memuji bahwa aku adalah wanita paling beruntung dimuka bumi ini. Namun mereka tentu tidak tahu yang ku rasakan. Mereka tidak tahu hatiku yang sebenarnya.

Kau yang tidak tahu bagaimana memperlakukanku, bagaimana berlaku padaku. Suatu ketika di tengah raung tangisku akan berubah menjadi makhluk paling manis di hadapanku. Namun sampai kapan itu akan bertahan? Karena kemudian kau akan lupa, dan tali itu akan mengendur. Lalu kau dengan sifat aslimu akan muncul.

Kau yang terlihat angkuh dimataku. Yang dalam lepas kendali akan terus menimpali semua amarahku. Maka aku kemudian akan semakin marah. Dan kau tidak menyadari bahwa kau telah membuatku semakin menakutimu. Aku yang semakin kehilangan rasa aman dan nyaman itu maka akan semakin menjauh darimu. Dan kau tidak akan menyadarinya. 

Sekali lagi aku bukanlah asistenmu. Aku juga bukan pembantumu. Aku bukanlah program yang dapat kau andalkan setiap saat. Karena aku terkadang juga lelah menjadi jam pengingatmu. Kadang aku muak menjadi alarm mu. Kadang aku juga menjadi lupa karena banyaknya hal yang menggelayut dalam memoriku.
Maka kau yang sedang kesal itu tidak menyadari bahwa tindakan dan semua kalimat balasanmu hanya akan membuatku menjadi semakin menjauhimu. Aku yang terlalu lemah untuk dapat menahan tangis ketika kau mengharapkan aku menjawabmu dengan kalimat dari mulutku, alih-alih hanya diam. Aku yang terlalu takut untuk mengutarakan maksudku hanya karena aku tahu bahwa kau kemudian akan kesal dan membuatku menjadi yang berdosa. Akulah yang selama ini terus merasa dihantui rasa bersalah itu.

Maka ketika hari ini kembali terulang kejadian serupa. Kau yang telah menyentuh tombol amarahku dalam sebuah argument ringan itu tak mampu meredam emosiku, malah membuatku semakin merasa tersudut. Karena kau tidak bisa menahan diri untuk mengalah padaku. Kau dengan egomu sebagai laki-laki. Kemudian tali itu semakin mengendur.

Dan kini aku disini. Sendiri. Menangisi nasib. Menangisi ibu yang baru memberi kabar bahwa adikku menderita kista di perutnya, juga ibu yang terdeteksi tumor di payudaranya. 

Ya. Aku menangisi nasib. Nasib yang seharusnya dapat kuubah dengan jalanku. Karena aku terlalu penakut. Karena aku terlalu lemah. Karena aku terlalu tak berdaya. Aku yang seperti robot ini. Aku. Yang entah mengapa menjadi tidak mengerti mengapa aku ada.

Astaghfirulloh hal adziiim

Tuhan. Aku merasa begitu lelah.

Jumat, 07 September 2012

Lelahku kali ini


Ada saat.. dimana kau hanya ingin diam. Dan tidak melakukan apapun. Tidak juga melihat. Karena saat itu adalah dimana kau merasa cukup. Bahkan untuk melihat. Maka kau hanya bernapas. Dan termangu. Membiarkan tubuhmu yang telah begitu lelah untuk tergeletak begitu saja. Tak perlu melakukan apapun. Bahkan jikapun matamu tidak terpejam, kau sedang tidak melihat. Seperti patung. Kaku saja.

Biarkan tubuhmu kaku. Merasakan lelah yang teramat sangat. Merasakan sakit yang demikian menyiksa. Menikmati. Mungkin aku telah berubah menjadi seorang masochist. Tentu aku menyangkal. Karena aku tidak sedang benar-benar menikmati sakit. Aku tengah mencoba mencerna. Merasakan. Kemudian menjadi lebih kuat karena aku tahu rasa sakitnya. Aku begitu mengenalinya. Di sekujur tubuhku.

Aku benar-benar butuh itu. Istirahat. Dan akan membatu saja sampai nanti.


I shut my eyes
In order to see
-Paul Gauguin-



Mungkin saya butuh tidur lagi yang nyenyak
Source

Kamis, 30 Agustus 2012

Jelas bukan saya

Jadilah saya yang lagi-lagi paling tidak tahu semua topic yang tengah di perbincangkan. Topic yang semua orang tiba-tiba jadi membuat saya mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati: pada ngomongin apa ini?
Saya yang tidak heboh ini, yang tidak suka bergunjing, yang memilih untuk lebih banyak memberi tanggapan positif ketimbang tanggapan lebay mengenai hal-hal yang jadi tiba-tiba jadi topic hangat.. merasa terkucil. Yah, nasib wanita kuper seperti saya ya begini ini. Tidak jarang hanya jadi salah satu personel penggembira. Yang keberadaannya bahkan kadang baru disadari ketika saya sudah tidak ada lagi. Atau mungkin bahkan tidak pernah akan disadari sama sekali.

“Eh, itu dari tadi Vi ternyata duduk disitu ya?”

Padahal saya sudah duduk disana sejak sejam yang lalu. Dan mereka baru menyadari bahwa saya ada disana hanya karena saya tidak ikut cekakak-cekikikan bercanda nggak jelas dan tidak heboh seperti halnya mereka. Saya yang lebih senang diam dan mengikuti obrolan jika memang bukan sekadar gossip, bergenit-genit ria menggoda para pria yang lewat, dan beramah-tamah yang tidak jelas. Begitulah.

Maka saya sudah dipastikan tidak akan laku untuk memiliki teman dengan pikiran sempit seperti mereka yang tahunya hanya menghabiskan uang yang dimiliki dengan pergi nonton setiap selesai gajian, makan mewah begitu terima gaji, ataupun mejeng di mall menghabiskan uang dengan belanja barang mewah. Itu bukan saya.

Dan mengenai obrolan ngalor ngidul nggak jelas yang berisi kejelekan orang lain, kelemahan orang lain, ataupun segala hina dina yang ditujukan pada orang yang mereka benci sama sekali tidak menarik buat saya. Topik seperti itu bukankah topic anak sekolahan jaman dahulu yang masih belum merasakan bahwa kehidupan bukan hanya berisi hal-hal remeh macam itu. Maka saya tentu tidak akan termasuk ke dalam pertimbangan mereka untuk diajak berkomunikasi. Karena saya tidak asyik. 

Saya tidak bisa tertawa begitu kerasnya seolah-olah saya sedang berada dirumah saya sendiri dengan orang-orang yang berasal dari satu muhrim dengan saya.  Apalagi bergenit ria dengan alasan beramah-tamah dengan pria-pria yang beredar di sekitar tempat saya berada, bahkan pada mereka yang sama sekali tidak saya kenal. Saya bukan orang yang semudah itu mengumbar ‘keramahan’. Jelas bukan saya.

Sayangnya.. lingkungan saya seperti itu. Dan ketika saya memutuskan untuk menyingkir, aka nada orang-orang baru yang menambah daftar ketidakberesan sikap yang terjadi. Sayangnya.. itulah lingkungan saya.


HAHAHA!
Source

Kamis, 23 Agustus 2012

Happy ied

SELAMAT IDUL FITRI
1433 H
Semoga semua kembali menjadi yang terbaik




Source

Jumat, 17 Agustus 2012

Tentang jilbabku

Hari ini adalah hari kemerdakaan. Yak. Tepat tiga tahun lalu di hari ini juga saya mulai memerdekakan diri saya untuk berjilbab. Mulanya memang tanpa alasan. Saya hanya ingin berubah. Toh ketika itu saya juga tidak pernah memakai pakaian yang aneh-aneh. Saya yang tomboy ini biasa mengenakan kaos gedombrongan, celana gunung, dan sendal gunung atau sendal jepit kemana-mana. Hanya saja memang rambut saya sejak kecil sampai awal-awal SMU selalu pendek. Lebih tepatnya berpotongan seperti cowok. Cepak.

Simbah Putri saya yang awalnya memperlakukan rambut saya seperti itu. Katanya biar ringkas dan tidak susah di urus. Saya sih menurut saja. Kemudian hal itu menjadi seperti habit untuk saya. Bahwa ketika rambut saya sudah menyentuh cuping telinga saya, itulah saat yang tepat untuk potong rambut.

Saya pernah dipanggil 'Mas' ketika naik angkot. Saya hampir sering berkelahi dengan anak laki-laki yang menyebalkan ketika di sekolah. Bahkan saat saya mengenyam pendidikan di madrasah seusai sekolah dulu, pun saya pernah berkelahi dengan teman sekelas saya sampai rok panjang yang saya kenakan sobek sampai mendekati bokong. Tapi saya tetap dikenal sebagai anak gadis yang baik oleh ibu saya, juga keluarga yang lainnya. Karena saya walaupun sering bermasalah, tetap saja tidak ada yang begitu signifikan dampak dari akibat perbuatan saya. Atau mungkin dulu ibu saya juga tidak terlalu memperhatikan saya karena beliau terlalu sibuk dengan kegiatan diluar rumahnya. Voli, pertemuan dengan orang tua murid adik saya yang paling kecil, koperasi, dll.

Maka ketika saya memutuskan berjilbab, semua tentu heran. Saya yang tomboy dan selalu terlihat acuh ini tiba-tiba memutuskan untuk menutup seluruh rambut yang ada di kepala saya, juga sisa aurat yang kadang terlihat. Saya memang jarang mengenakan kaos lengan pendek, karena kaos saya semua ukurannya besar-besar. Bahkan seragam sekolah saya juga ukurannya L untuk badan saya yang kurus. Rok yang saya miliki ya hanya rok sekolah, karena saya tidak suka pakaian yang tidak ringkas.

Singkatnya, mereka tentu berharap saya tetap istiqomah. Dan tentunya saya diharapkan jadi muslimah yang baik, yang jauh dari kesan tomboy, cuek, dan lainnya yang menurut mereka negatif. Saya berusaha. Toh jilbab yang saya kenakan juga bukan jilbab yang aneh-aneh. Bukan model yang sekarang mulai merajalela dengan nama hijab gaul. Saya sih memang tidak gaul. Dan saya tidak memiliki keperluan untuk memperkenalkan jilbab sebagai pakaian yang gaul karena menurut pengertian saya, jilbab ya jilbab, penutup aurat dan suatu kewajiban yang ditetapkan oleh Alloh SWT sejak lahir. Maka saya tetap jadi kuper dan tomboy. Oke, tomboy saya berkurang lumayan sejak berjilbab.

Saya masih tomboy, sedikit. Setidaknya menurut saya. Saya sudah meninggalkan celana gunung saya jauh sebelum saya kuliah di kampus baru. Lalu pakaian gombrong saya juga sudah pensiun, kecuali dirumah. Tetapi bukan berarti saya jadi pakai pakaian ketat, karena saya sungguh tidak suka dengan gaya pakaian seperti itu. Biasa saja. Celana bahan, karena saya masih harus berusaha menyingkirkan stigma negatif mengenai penggunaan rok yang kurang praktis untuk mobilitas yang sedang saya jalani saat ini. Lalu pakaian yang tidak terlalu ketat, juga tidak terlalu longgar. Yang penting tidak membentuk siluet lekuk tubuh saja. Dan jilbab ini juga jauh dari gaul. Menutupi bagian dada, dan tanpa model apapun. Tidak ada lilit melilit leher, bros,  atau hiasan lainnya macam yang ada saat ini. Sederhana.

Dan saya bahagia karenanya. Minder karena jadi terlihat kuno dan kuper? Tentu tidak. Karena saya menyadari saya berbeda. Setidaknya saya tidak ikut-ikutan arus. Dan alhamdulillah masih tetap bertahan untuk berjilbab sampai hari ini. Semoga seterusnya.. Amin!

Oiya, merdeka juga buat negaraku. Semoga ikutan berjilbab ya dari segala macam negatif yang tidak sesuai dengan ridho illahi.. hehehe..


Masih banyak sih yang harus saya perbaiki dalam kewajiban berjilbab ini..
Source

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...