Jumat, 10 Agustus 2012

Selamat ulang tahun mbah..


Seharusnya saya bisa menuliskan banyak hal mengenai beliau. Karena beliau yang mengambil alih tanggung jawab ibu saya untuk merawat saya selagi saya masih kecil. Karena beliaulah yang banyak berjasa dalam memberikan saya perlindungan ketika saya masih terlampau dungu untuk mengetahui betapa dunia ini tidak sesederhana yang saya pikirkan. Dan karena beliaulah yang selama ini begitu tegar dan kuat menghadapi kerasnya dunia. Demi saya dan adik saya.
 
Seharusnya begitu banyak yang bisa saya gambarkan mengenai sosok  beliau. Begitu banyak. Bahkan sampai begitu sulit menuliskannya dalam rangkaian kata, atau kalimat. Saya sangat menyayangi beliau, tentu saja. Tak perlu meragukan. Karena beliau juga adalah satu alasan saya memilih menyerah. Dan mencoba berdamai dengan keadaan.

Seharusnya tulisan ini sudah muncul sejak dini hari tadi. Ketika hari berganti. Tanggalan dalam kalender sudah berubah. Dan waktu sudah tak lagi sama dengan kemarin. Tetapi saya terlalu bingung bagaimana menyampaikan kekaguman dan penghormatan saya pada beliau. Terutama mengabadikan rangkaian kata untuk hari kelahiran beliau, yang berarti bahwa semakin berkurangnya usia beliau di dunia ini. 

Ia yang melahirkan ibu saya, dan juga ke lima anaknya yang lain. Dan beliau yang memperjuangkan hidup mereka agar layak, dan bahagia. Tentu saja saya kehilangan kata-kata. Tidak bisa menggambarkan dengan sempurna betapa sempurnanya beliau. Beliau.. simbah Puteri.

Selamat ulang tahun, mbah.. 
Semoga kuat iman, panjang umur, sehat selalu, dan bahagia..

Source

Rabu, 08 Agustus 2012

Maka ku biarkan saja sama


Memang mengerti itu tak mudah. Apalagi bila dengan emosi. Yang ada hanya mau marah karena kesal berkepanjangan, bukan? Lalu hari itu datang juga. Mungkin diantara kesalmu pada setiap alpaku karena kedua jari ini masih kurang sempurna untuk kugunakan. Maka aku bebas tugas selama hampir dua minggu. Atau lebih.
 
Tepatnya ketika aku beberapa kali mengesampingkan hal yang biasa ku kerjakan. Mencuci beberapa pakaian kotor itu misalnya. Karena aku tidak leluasa menggunakan satu tanganku untuk mengucek hasil rendaman. Dan karena keterbatasanku demi menjaga agar luka ini cepat sembuh, maka aku pun mengistirahatkan dua jemari di tangan kananku. Memangnya mudah mencuci dengan satu tangan? Lalu alih-alih cucian piring yang menumpuk itu, kau tahu itu sama sekali bukanlah sudut kesukaanku. Aku mana pernah membiarkan cucian kotor menumpuk seperti itu. 

Tapi saat itu aku absen. Karena aku kesulitan menggunakan tangan kiriku untuk mengusapkan sabun demi melindungin jemari di tangan kananku yang jika lukanya terkena air maka akan cepat lembab. Aku tidak merasa begitu lihai menggunakan tangan kiriku untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih leluasa dan terbiasa digunakan dengan tangan kanan.
Seminggu itu aku tengah kesakitan. Kau lihat sendiri bagaimana tidurku tak nyenyak diantara rembesan darah menstruasiku. Lalu ketika aku membebaskan diri dari rutinitas sahur. Karena aku memang membutuhkan istirahat lebih.

Dan aku tidak perlu harus menerima kalimat keras dan kesal darimu hanya karena aku memilih untuk tetap tidur saat waktu sahur makin menipis. Karena aku memang butuh istirahat. Sudah kukatakan bahwa kepalaku sakit, maka aku tertidur lebih awal. Aku pun tak akan diam saja melihat keadaan berantakkan disana sini jika saja aku bisa menggunakan kedua tanganku dengan leluasa. Seperti pernahkah kau melihat aku membiarkan beberapa barang berserakan demikian saja dan hanya menoleh acuh?

Lagi, kau lukai perasaanku. Lagi, kau lempar jatuh kepercayaan yang tengah ku bangun. Dan aku hanya akan diam saja. Tak akan kau temukan aduanku pada siapapun. Bahkan pada diriku sendiri. Aku hanya akan diam. Tak merasa perlu menjelaskan karena kalimatmu sudah cukup menudingku. Bahkan kau juga acuh.

Karena aku terlanjur tersakiti oleh nada bicaramu. Karena aku terlanjur mendengar kosakata kalimat dalam bahasa yang kau gunakan. Kemudian aku kecewa. Bagaimana kau sepertinya telah melupakan satu hal: bagaimana memperlakukanku selayaknya.

Maka ku biarkan juga sama sepertimu.



Aku rapuh dan cengeng, tapi bukan berarti kau bisa mengejekku sesukamu
Source



Senin, 06 Agustus 2012

de javu hari raya


Aku bisa mengatasi sendiriku. Jika aku kesepian, nanti. Sungguh mungkin aku akan sedih ketika kau pergi. Tapi aku pun bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa kau pergilah. Lagipula sudah dua lebaran aku menahanmu dari kedua kakek nenekmu. Juga ketika kau membiarkan orang tuamu menempuh perjalanan mereka tanpamu.

Dan aku sungguh berterima kasih atas kebaikanmu memilih untuk menemaniku melewati sisa ramadhan dan menyambut lebaran yang akan berjalan sepi nanti. Tetapi tidaklah lebih baik daripada perlahan mengetahui bahwa kau pun sesungguhnya ingin mengunjungi mereka, serta mengawal kedua orang tuamu yang mulai sepuh.

Aku memang tak akan kemana pun. Lagipula tak ada tempat untukku berlabuh kemudian. Aku akan mendekam dalam rumah itu. Sendiri. Dengan diriku saja. Menikmati riuh ramainya bulan suci dan hari perayaan dalam sepiku. Itu jika kau pergi. Mungkin aku akan berkunjung. Simbah putri tentu juga akan menerima kedatanganku. Tapi tentu aku juga lebih baik menghindari omongan itu. Ketika kau tak ada, atau bahkan ketika aku harus menemui tuan itu. Tidak akan.

Jika ku katakana aku tak mau menemui sanak saudaramu yang telah meninggalkan trauma kelam dalam kenangan sisa hidupku, maka aku benar menolak. Dan itu berlaku untuk tuan itu. Yang entah sampai kapan ketika maaf ini sudah tak menjadi masalah, malah kenangan pahit yang tidak mau pergi dari kepalaku.
Aku tahu, seharusnya aku menjadi muslimah yang baik. Muslimah yang ber-akhlak mulia. Menyunjung tinggi pengertian dan memiliki kesabaran tiada berbatas, serta pemakluman tak bertepi. Namun aku juga hanyalah manusia biasa. Aku memiliki keterbatasan dan kekuranganku sendiri. Yang tidak mungkin dapat dibandingkan dengan siapapun yang ada dalam benakmu.

Dan sungguhpun aku tidak ingin sendirian dalam menyambut perayaan di akhir ramadhan nanti, namun aku juga tak mungkin menjadi penghalang antara kau dan keluarga besarmu. Terutama ketika aku mengetahui dengan pasti betapa rindu kau pada mereka.

Sudah barang pasti sabuk keuangan itu memang begitu membuatku khawatir. Terlebih ketika aku juga harus memikirkan bagaimana membantu menutup hidup orang tuamu, dan bagaimana mempertahankan hidupku, juga dirimu. Kau sungguh tahu masa –masa sulit itu. Bukan hanya sekadar trauma pahit yang ingin dapat kulupakan, namun jelas banyak hal yang akan menanti kita di depan nanti. Dan itu lebih penting daripada mempertahankan tradisi pulang kampong bersama segerombolan penduduk lain yang melakukan tradisi yang sama. Yang bahkan mungkin hanya akan ada di Negara ini.

Entahlah. Sudahlah.. kau mau pergi menemani mereka kau pergilah. Aku juga tak akan kemana-mana. Lebih senang ada teman dalam sepiku, tapi sendiripun tak apa. Aku akan dapat melaluinya. Sungguh aku pernah melaluinya. Aku tak ingin mereka menambahi julukan padaku lagi nantinya.. karena tentu saja bebanmu akan menjadi semakin berat nantinya.

Jika sepi nanti, aku akan mencari keramaianku sendiri
Source

Kamis, 02 Agustus 2012

Plan: #Menulis dengan bahagia


Terkadang iri. Begitu iri sampai kemudian membuat otakku begini beku. Jadilah ketika menatap lembar putih di layar monitor notebook itu saya hanya menatap kosong. Kubiarkan saja kursor itu berkedap-kedip menunggu untuk bergeser ke kanan tanda ada deretan huruf yang muncul. Sungguh. Saya iri.
Bukan hanya jaringan internet dirumah yang begitu menguji kesabaran. Tetapi juga pekerjaan dikantor yang lebih sering membuat kepala saya migrain. Hasilnya, Sariawan saya sampai menghuni pipi kanan dan kiri saya. 

Saya sungguh ingin menulis hal yang membahagiakan. Apapun itu. Yang sederhana. Dan membahagiakan. Menceritakan betapa saya senang setiap kali bisa mencoba makanan baru. Menggambarkan acara outing kantor tempo hari. Atau bahkan hanya menceritakan suatu hari nanti saya akan dapat menikmati liburan yang benar-benar berlibur tanpa harus memikirkan budget yang harus saya tahan demi menikmati libur. Bener deh!

Dan segala hal yang kemudian beralih pada masa lalu dan kesedihan itu bukanlah disengaja. Aku telah mencoba berbagai cara membangun emosi bahagia itu. Menciptakan bayangan-bayangan penghibur. Tapi yang muncul malah kilasan kesedihan. Akhirnya yang terjadi adalah tulisan yang jauh dari cerita bahagia.
Tapi tenanglah aku.. Keyakinan bahwa bahagia itu akan kudapatkan masih ada disini. 5 cm didepanku. Aku hanya harus lebih yakin lagi. Dan lebih berusaha lagi. Nanti, disini yang ada hanya cerita bahagia. Aku yakin itu!

Nanti aku akan menulis dengan raut bahagia, dan tulisan yang bahagia. Pasti!
Source

Rabu, 01 Agustus 2012

Happy birthday, Kiddo!


Kedatangannya pertama kali memang langsung membawa kebahagiaan. Namanya yang juga berarti 'cinta' dalam bahasa Jepang memang benar-benar mendatangkan banyak cinta. Apalagi ia begitu mudah menyerap ilmu dan cepat belajar. Kami memang langsung tambah sayang padanya.

Ia bahkan belum genap berusia lima tahun ketika itu. Tapi sudah fasih melakukan penghitungan dan pengurangan dengan menggunakan kesepuluh jarinya. Bahkan kemudian ia tidak lagi memerlukan kesepuluh jarinya untuk membantunya menghitung. Cukup dibayangkan dalam pikirannya saja, dan ia mampu menyelesaikan penghitungan dan pengurangan itu. 

Kemudian ketika saya bertemu lagi dengannya, ia malah sudah lancar membaca. Bahkan lebih cepat dari usia anak pada umumnya. Karena kemudian saya baru menyadari bahwa usianya bahkan belum lewat jauh dari angka lima. Dan ia bahkan sudah tidak lagi perlu mengeja.
Yang paling mengejutkan tentu saja ketika ia kemudian menyapa saya melalui bbm. Dan kami bertukar pesan melalui blackberry messenger. Saya sampai masih takjub dengan kepintarannya. Usia seperti itu sudah begitu lancarnya menyerap semua ilmu. 

Saya sebenarnya memang sudah sering memuji kepintarannya. Apalagi kalau bukan karena ia adalah sosok anak yang memang begitu cepat belajar dan menyerap ilmu seperti spons. Sejak dulu, tak pernah kami kerepotan jika ada Ai. Bahkan suasana rumah semakin ceria dan tidak lagi sepi. Ai begitu mewarnai hari-hari. 

Sejak kecil tidak pernah rewel ketika ditinggal orang tuanya untuk bekerja. Bahkan seperti telah mengerti bahwa orang tuanya akan pergi setiap senin sampai jumat untuk bekerja, ia tidak pernah rewel atau menangis ketika orang tuanya pamitan untuk pergi bekerja. Bahkan sifat pengertiannya kemudian membuatnya jadi mandiri. Ia memang jadi lebih sering seperti menikmati dunianya sendiri, bermain dengan beragam macam mainannya. Tapi itu tidak membuatnya menjadi anak yang tidak bisa bergaul, karena ia malah jadi mandiri. 

Ai masih belum bisa masuk SD karena SD negeri saat ini katanya tidak dapat menerima siswa yang masih belum mencukupi persyaratan usia masuk sekolah, yaitu tujuh tahun. Untuk sekolah swasta tentu saja bukan perkara murah mengingat biaya sekolah saat ini sudah tinggi. Apalagi ada diskriminasi kemampuan calon siswa dalam penerimaan murid baru. SD negeri di dekat tempat tinggal Ai lebih mengutamakan siswa yang masih belum lancar baca tulis disbanding yang sudah lancar seperti Ai. Jadilah rencananya Ai akan masuk madrasah saja. Karena anak itu juga akan kasihan jika harus menunggu sampai tujuh tahun.

Madrasah juga bagus. Setidaknya bukan hanya pendidikan umumnya saja yang akan terasah, rohaninya juga akan semakin bagus kan?

Hari ini Ai genap berusia enam tahun. Dan entah apalagi kepintaran selanjutnya yang akan diperlihatkannya. Mungkin semakin fasih berbahasa inggris, mengingat ia beberapa kali minta diajari bahasa inggris oleh adik saya yang berprofesi sebagai guru pengajar bahasa inggris.



Selamat ulang tahun Paul, panjang umur, sehat selalu, semakin pintar, bahagia selalu, dan ceriakan selalu sekelilingmu dengan cinta ya nak!


Happy birthday kid!
Source

Selasa, 31 Juli 2012

Cerita sahur


Ada beberapa hari dimana setiap Ramadhan tiba kami akan telat untuk sahur. Biasanya ibu bangun sahur di awal-awal bulan puasa. Menyiapkan makanan dengan dibantu saya, dan kedua adik saya. Si kecil biasanya memang yang paling jarang bisa membantu menyiapkan menu sahur karena ia begitu susah dibangunkan untuk sahur. Maka biasanya yang lebih sering turun tangan adalah ibu, saya dan adik saya nomor satu. Tapi seperti yang saya bilang, biasanya ibu hanya bangun di awal-awal bulan puasa. Mungkin tidak lebih dari seminggu. Karena selebihnya, entah kelelahan karena harus tetap bekerja pada siang hari, atau karena kebiasaan insomnianya yang membuatnya masih mengantuk untuk bangun sahur, ibu hampir tidak akan pernah lagi bangun untuk menyiapkan sahur.

Jika sudah demikian, biasanya saya yang turun ke dapur untuk sekadar menghangatkan menu sahur sisa buka puasa sebelumnya atau menambah menu dengan menggoreng beberapa makanan beku yang ada di lemari es. Lalu setelah semuanya siap, maka saya akan membangunkan para penghuni rumah satu-persatu. Mengetuki pintu kamar dan membangunkan adik-adik saya. Biasanya yang paling susah dibangunkan ya adik saya yang paling kecil itu.

Kalau ibu, biasanya di hari-hari berikutnya akan jarang sahur. Paling makan tapi sedikit. Tapi tak jarang ibu tidak sahur dan hanya minum air putih saja. Lalu tidur lagi. Bisa dibilang kehangatan sahur pada keluarga itu hanya terdapat di hari-hari pertama puasa saja. Selebihnya sudah seperti masing-masing. 

Terkadang saya biarkan saja mereka nyenyak dalam tidur mereka ketika saya terbangun untuk sahur. Saya tidur lagi. Lalu suami ibu akan sesekali membantu menyiapkan sahur dan membangunkan kami. Tapi ia pun bukanlah mualaf yang rajin. Berpuasa hanya pada awal-awal nya saja karena kemudian akan mengeluh kelelahan karena pekerjaannya yang membutuhkan tenaga dan ia bukanlah orang yang mampu menahan lapar dan haus.

Pernah saya biarkan saja waktu sahur berlalu begitu saja sampai akhirnya ada yang berteriak bahwa kami telah telat sahur. Ketika melihat jam, ternyata sudah masuk waktu imsak. Maka kami akan buru-buru mencari apa saja untuk dapat digunakan sebagai pengganjal perut selama sehari nanti. Biasanya saya paling hanya melahap air putih sebanyak-banyaknya. Tidak akan ada yang mau repot menyiapkan hidangan sahur di waktu yang mepet itu. Bahkan kami juga pernah terbangun karena adzan shubuh. Yang mana artinya bahwa kemungkinan besar waktu sahur sudah tidak mungkin sempat lagi. Maka ketika adzan itu kami hanya meneguk air semampunya.

Begitulah. Saya teringat masa-masa itu. Dimana jika saat ini saya tidak disana. Akankah ibu juga masih hanya akan bangun sahur dan menyiapkan sahur di awal-awal puasa saja, dan selebihnya membiarkan yang lainnya mencari cara sendiri untuk mengganjal perut selama menjalankan ibadah puasanya. Kadang saya kesal karena ibu seperti acuh saja dengan kebutuhan kami. Meskipun saya akui kami memang sudah cukup besar dan mampu dengan mandiri menyiapkan kebutuhan kami. Tentu maksudnya bukan hanya itu. Maksudnya adalah kebersamaan itu. Bahwa melakukan apapun dengan keluarga adalah yang paling menyenangkan. Apalagi di bulan Ramadhan dimana suasana paling kental kentara adalah kebersamaannya.


-       Suatu hari ketika saya telat sahur


Source

Ps. Jari tangan saya sudah baik saja. Sudah bisa digunakan untuk menulis dan mengetik normal. Sebelumnya, bahkan untuk menekuk saya tidak bisa.. Thank God.

Minggu, 29 Juli 2012

Payahnya saya


Bahkan bertemanpun aku masih merasa tidak memiliki teman
Sunguhpun aku tak tahu dimana letak salahku,
Lagi
-Mine-

Aku hanya berusaha baik. Meladeni setiap ucapan kalian. Lalu juga setia mendengarkan curahan hati kalian. Mencoba memberi semangat saat salahs atu dari kalian merasa sedih. Menjadi salah satu bagian dari perkumpulan rutin kalian. Dan itu kurasakan masih juga kurang. Ada yang hilang disini. Dihatiku.
Aku tidak suka bergosip. Tidak bisa bergosip tepatnya. Pun meskipun bisa, aku tetap tidak akan melakukannya karena aku tidak suka. Membicarakan orang lain. Menggunjingkan hal yang tidak penting dan bukan urusan kita. Aku tak pernah merasa harus menjadi suka dan bisa bergosip. Maka aku diam saja diantara kalian. Dan itu membuatku merasa direndahkan. Kalian jadi tak pernah melihat keberadaanku. Karena aku merasakannya.

Tak ada diantara satupun kalimatku yang akan kalian timpali. Bahkan jika suatu saat aku tak ada disana, kalian mungkin juga tak akan pernah menyadari ketidakberadaanku. Apalagi menanyakkan. 

Karena aku tidak heboh. Aku tidak suka heboh. Aku tidak suka menambahkan keramaian yang telah ada. Dan aku lebih banyak diam. Mendengarkan. Mengamati. Tapi selalu ada. Dan tak pernah kalian sadari.
Aku juga tidak suka membicarakan mana pria paling tampan dikantor. Mana pria yang bisa di taksir. Ataupun mana pria yang bisa dijadikan incaran untuk membangun masa depan nyaman karena kekayaannya. Aku tidak pernah merasa perlu melibatkan diri dalam percakapan murah tersebut. Maka aku diam saja. Mendengarkan. Mengamati. Dan lagi tak pernah kalian sadari.

Kalian jika sadari, tak pernah sekalipun keluar dari mulutku sikap manja dan genit itu ditengah kalian. Karena aku sadar harus menjaga harkat dan derajatku dihadapan siapapun. Apalagi bila ada pria disana. Maka aku diam saja. Dan kalian tidak peduli.

Percuma saja memberitahu kalian apa yang salah. Bahwa bergunjing itu salah. Bahwa membicarakan yang bukan menjadi urusan kita itu salah. Dan bahwa bergenit-genit itu salah. Karena kalian tidak memiliki pemikiran sepertiku. Jadi kubiarkan saja. Bahkan ketika kalian mengejek penampilanku yang kalian anggap tidak seksi karena tidak menonjolkan lekuk tubuh, aku diam saja. Karena percuma memberitahu kalian apa itu arti muslim dengan jilbab. Karena para perempuan muslim yang ada diantara bagian perkumpulan kita tidak menunjukkan contoh yang baik untuk dapat kalian mengerti apa makna jilbab yang mereka pakai. Dan diam mungkin jawaban terakhirku. Karena sungguhpun telah kujelaskan makna pakaian muslimahku tetap kalian tidak akan mengerti. Dan mencemooh dalam hati.

Aku sungguh tahu. Usia muda kalian mungkin mempengaruhi. Namun bukan berarti pemikiran muda kalian mengambil alih seluruh kontrol kehidupan kalian. Aku mungkin telah lelah mencoba memberitahu bahwa muslimah tidak mengenakan pakaian yang akan menonjolkan lekuk tubuh. A[alagi bila kalian berjilbab. Yang terjadi malah sebaliknya. Celana jeans yang dipakai sekatat mungkin, atasan dengan tangan 7/8 tanpa menggunakan dalaman sehingga sebagian lengan terlihat. Bahkan pemakian kerudung atau jilbab yang terlihat hanya sebagai penutup kepala. Lalu apalah arti puasa jika kalian tidak pernah sekalipun melakukan ibadah sholat?

Baiklah sholatku belum benar. Cara berpakaianku juga belum benar. Dan mungkin juga sikap serta sifatku belum benar. Namun aku berusaha memperbaiki diri. Dan mampu menahan diri. Setidaknya sampai saat ini. Aku belum sekalipun terpancing untuk bergunjing, menggoda para pria yang lalu lalang di lobi itu. Dan segala sikap yang tidak seharusnya diperlihatkan oleh wanita baik pada umumnya. Karena sungguhpun aku tidak ingin orang memandang rendah derajat wanita apalagi aku termasuk didadalamnya.

Aku sungguh merasa terasing. Berkumpul dengan kalian menjadi hanya sekadarnya saja. Karena aku tak pernah merasa dianggap. Dan dalam hati kalian tak pernah menanggapku. Akulah yang salah menilai kalian. Bukan. Bukan aku yang salah. Karena kesan pertama terhadap kalian ternyata sudah lama kucoba singkirkan. Dan kesan pertama yang buruk itu ternyata benar. Sungguhpun aku seharusnya (lagi) mempercayai naluriku.
…

Payahnya saya. Benar-benar tidak bisa berteman dengan makhluk wanita. Payah! Benar saja saya lebih baik bertaman dengan teman laki-laki saja. Atau sendiri lebih baik.
 

Source

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...