Rabu, 16 Mei 2012

Mozaic: old friend story

"Jangan sama dia!"

Rasanya ingin meneriakkan kalimat itu keras-keras di telinganya. Biar dia tahu bahwa wanita itu tidak pantas untuknya. Memang tidak pantas. Bagaimana mungkin ia yang begitu tampan dan berwibawa akan menghabiskan sisa umur dengan wanita model seperti itu?

"Why?"

Saya tahu saya harus banyak berdebat dengannya ketika pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Dan saya akan kehabisan kata karena sulit sekali meyakinkannya. Bahwa insting saya mengatakan ia tidak cocok untuknya. Bahwa perasaan saya mengatakan ia hanya dimanfaatkan olehnya. Bahwa ia bukanlah seperti wanita yang ia pikirkan selama ini.

"But you got no prove."

Dan itu akan keluar juga dari mulutnya untuk menampik semua kalimat argumen saya. Argumen yang tidak berdasar katanya. Bahwa kemudian saya hanya bisa mendelik marah padanya.

"Terserah!"

Saya mungkin akan berakhir dengan kalimat itu. Melepaskan semuanya dan menyerahkan semua keputusan padanya. Karena bagaimanapun saya memang hanya baru beberapa kali bertemu dengannya. Dulu. Dan berita selanjutnya adalah mendengar rencana pernikahannya. Tentu saja saya mencak-mencak. Kalau bisa bahkan ingin menggeretnya meninggalkan pelaminan ketika prosesi acara akan dimulai.

...

"No prove at all but feeling, and those are true. Gue kagum!"
"Tapi lo kecewa juga kan?"
"Lo nggak tau betapa gue sayangnya sama dia."
"Really?"
"Sial!"

...

Semuanya gagal. Jadi saya tidak harus menyiapkan kalimat 'Kan gue udah bilang waktu itu..' padanya. Mungkin luka hatinya akan lama sembuh, tapi paling tidak.. tidak selamanya luka itu akan mengendap di dalam hatinya. Setidaknya sampai ia yang menjadi jodohnya muncul nanti.


You know what? You better go fishing some more girls, there's plenty outside. I bet you'll find the best match oneday pal!
source


Potongan percakapan dengan teman lama.. Saya yakin ia akan bahagia nanti. Setidaknya saya tahu ia tidak akan bahagia dengan wanita itu. Toh sudah terbukti, ia meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui orang tua teman saya itu bangkrut.

Senin, 14 Mei 2012

Fighting!

Berjualan itu tidak mudah. Banyak yang perlu dipersiapkan, terutama mengenai kerugian. Saya harus banyak belajar untuk mengasah semangat agar tidak mudah kendur. Dan mencari - cari ide untuk dapat meningkatkan profit itu ternyata membuat pusing bukan kepalang. Saya sempat mengalami stress akut yang mengakibatkan seringnya sakit kepala saya kambuh, malah sampai membuat sariawan saya ada empat sekaligus! Dan itu mengerikan. Bahkan sampai saat ini saya masih dapat merasakan sisa-sisa sariawan yang belum juga menandakan sembuh.

Mencari supplier pakaian yang mampu diajak bekerja sama dengan jujur dan menghadirkan bahan yang berkualitas bagus dengan harga terjangkau mungkin hanya mimpi. Membuat semua barang dagangan laku tanpa ada stock yang menumpuk, mungkin juga hanya mimpi. Apalagi mampu mengelola semua kegiatan sampingan demi mendapatkan uang tambahan selain gaji bulanan yang diterima dari hasil kerja kantoran, mungkin juga hanya mimpi. Tapi bukankah semua itu dimulai dari mimpi? Sukses juga mungkin masih jauh, tapi yang penting saya berusaha.

Barang yang kami (usaha saya dengan teman saya) ini mungkin bukan barang yang dapat ditemui di mall besar seperti Grand Indonesia maupun Plaza Indonesia, tapi paling tidak kami berusaha memberikan barang yang memiliki kualitas memadai sehingga mampu digunakan untuk jangka waktu yang cukup lama. Tentunya dengan perawatan yang semestinya.

Jadi, bila ingin mengetahui lebih banyak mengenai produk kami, silahkan berkunjung di web kami yang masih menggunakan penyedia jasa gratisan karena keterbatasan dana:
  • www.tokopedia.com/egav-collection (penyedia jasa ini sering down servernya sehingga membuat kami jadi sulit melakukan update barang baru )
  • www.egav-collection.tokobagus.com
  • www.facebook.com/egav.collection
Silahkan berkunjung, walau hanya melihat-lihat atau hanya sekadar bertanya tentunya telah membuat kami senang. Apalagi bila ada yang membeli. Hehehe..

Fighting!

Usaha ini seperti bunga yang masih kuncup, semoga bisa mekar seperti bunga yang disebelahnya ;)
Source

 

Kamis, 03 Mei 2012

And we'll always be there

"Kita berangkat dari teman, Ems.."

...

Saya tahu saat itu seharusnya saya menitipkan beberapa pesan untuknya. Sekadar untuk menjaganya. Karena saya tahu betapa akan terpukulnya ia dengan keputusan saya. Tapi keadaan waktu itu sungguh sangat tidak menguntungkan kami berdua. Ia dengan segala pemikirannya. Dan saya dengan segala ketakutan saya.

Maka. Saya memilih. Dan ini bukanlah pilihan mudah. Saya juga tahu bahwa ia sangat tersakiti dan menderita. Mungkin. Karena bila tidak, saya tidak akan merasa sebersalah ini. Tapi pilihan sudah ditentukan. Dan saya hanya harus menjalani dan menerima segala konsekuensinya. Begitupun ia. Mungkin ia tidak membenci saya, tapi yang jelas, kontak kami berhenti begitu saja. Saya yang lebih dulu meninggalkannya. Lihat betapa angkuh dan kejamnya saya memperlakukannya. Juga mereka yang saya bilang saya sayangi. Saya meninggalkannya begitu saja. Bahkan tanpa penjelasan.

Dalam hati saya, tentu saja saya mengharapkan ia mengerti. Mungkin ia marah. Mungkin ia kesal. Mungkin ia membenci saya sampai tidak mau lagi komunikasi, bertemu, atau bahkan mendengar berita apapun tentang saya. Atau mungkin saja tidak. Entahlah. Berada jauh darinya, tanpa mendengar kabar apapun tentangnya, bahkan sekadar apakah ia menjaga ritme makannya, tentu membuat saya berpikiran tentangnya.

Sudah saya coba berbagai cara untuk menyingkirkan kenangan tentangnya. Tapi mengingatnya hanya akan membuat dada saya bergemuruh lagi. Sakit. Dan kebaikan untuk hati saya ini mungkin memang tidak mendengar berita tentangnya dalam bentuk apapun. Bahkan mungkin bila ada kesempatan untuk bertemu dengannya, saya hanya harus menghindarinya. Atau hati saya luluh, dan saya akan kambuh lagi seperti dulu.

Ini memang bukan penyakit. Tapi ini tetap kronis, dan menjadi demikian ganasnya jika sudah kambuh. Melumpuhkan sendi-sendi otak saya. Membuat dada saya merasa haus oksigen. Dan menyiksa. Maka saya telah memilih. Dan saya harap ia mengerti. Mungkin tidak. Saya sudah tidak mampu lagi menebaknya. Karena kami jauh. Karena sudah tidak ada lagi hubungan itu. Semua sudah berakhir. Selesai. The end. Tamat. Period. Titik.


...

Benar, Jo. Kita berangkat dari teman. Bukankah seharusnya memang kita tetap bisa berteman? Mungkin nanti ada saatnya untuk pertemanan kita ini. Yang lebih menyenangkan dan tidak menyakitkan.



We were friends, best friends and more.. and i hope that even things changed, we'll always be.. Be there
Source
 

Rabu, 02 Mei 2012

Dear, friend

Untukmu..
Selamat ulang tahun,

Kau tahu teman, biasanya aku memilih untuk memberi penjelasan padamu untuk setiap janggal yang muncul dalam benakmu tentang kita. Tapi kali ini berbeda. Kau telah memiliki kehidupanmu sendiri. Dengan dunia kecilmu bersama orang-orang tercintamu. Dan jarak itu semakin lama semakin membentang diantara kita.

Aku ingat dulu sering berharap bahwa kita akan terus saling berpegangan tangan erat, ber-empat. Ya, mimpi itu masih menggantung jelas dalam benakku. Tapi aku memilih diam saja ketika pikiranmu terbang kemana-mana dengan liarnya, sendirian. Bahkan sudah selesai juga kontak kita, sampai hari ini.

Aku mengerti kekecewaanmu. Tetapi akan dimengertikah kekecewaanku olehmu? Dan bila kau benar sahabatku, maka tidak seharusnya kalimat itu meluncur dari bibirmu. Setidaknya itu menurutku. Maafkan aku yang naif ini. Hanya mengira bahwa sahabat adalah orang yang paling mampu mengerti kita, bahkan sahabat adalah orang yang menjaga kita, dan menerima kita apa adanya.

Baiklah kupikir aku telah salah mengira mengharapkanmu akan memiliki pemikiran sepertiku. Tapi, sekali lagi.. selamat ulang tahun.. sayang..


Our memory, aku masih ingat betul bagaimana akrabnya kita dulu. Ya, dulu.
Source

Selasa, 01 Mei 2012

May day

Bad day.
Bad feeling.
What a May.
Such hurting.
-Mine-
...


Aku menerima keluhanmu. Yang kau sembunyikan dalam setiap artikel yang kau kirimkan pada emailku. Lalu untuk apa aku bertanya ketika jawabanmu tentu sudah kuketahui. Aku tidak akan sakit, karena bukanlah orang yang kusayang yang menyampaikan keluhan itu. Tetapi sesak ini tentu tidak mampu membohongiku. Karena kaulah yang nyata-nyata telah kupilih yang menyembunyikan keluh dan complaint itu melalui artikelmu. Katakan bagaimana aku harus bersikap menghadapi sikap manis yang kau tunjukan dihadapanku, tetapi dibelakang kau menyembunyikan keluh?

Rasanya semakin sulit membuatmu mengerti. Bukan hanya bagaimana membuatku bisa bicara dan mengungkapkan apa yang kurasa. Tapi bagaimana membuatku merasa nyaman untuk mengungkapkan itu semua padamu. Dan kau selalu gagal. Setiap kali aku merasa mulai bisa membuat diriku nyaman, kau merusaknya

Aku tentu tidak berusaha menyalahkanmu. Tapi aku memang kesal. Karena kepercayaan itu sulit sekali kubangung atasmu. Dan aku merasa begitu payah tidak mampu mempercayaimu.

Aku sangat kesal!


Source


Btw, selamat hari buruh, semoga masa depan selalu menjadi lebih baik :)

Jumat, 27 April 2012

Dogma for this hot day

Saya hanya harus bertahan lebih lama lagi. Sedikit lagi.
Menghadapi semuanya dengan lebih tegar lagi. Lebih kuat lagi.
Menjalani semua ini dengan lebih sabar lagi. Lebih Bijaksana lagi.

Saya pasti bisa.
Ini hanya sebagian kecil dari apa yang akan saya dapat kemudian.
Mungkin hanya harus sedikit berangan. Bermimpi. Dan berharap.

Membenci kalian tak akan membuat semua ini menjadi lebih baik.  
Saya. Lebih baik. Dari. Kalian.



Pict from here

Senin, 23 April 2012

For your day today

Suatu hari kau akan mengerti
Bagaimana menerjemahkan sikapku
Yang membuatmu bingung
Mengesalkanmu sampai ke ulu hati
Memancing emosimu
Bahkan membuatmu menyalahkan diri sendiri

Suatu hati kau akan paham
Bagaimana mengartikan tingkahku
Yang selalu meninggalkan tanda tanya dihatimu
Mengombang ambing perasaanmu
Membuatmu merasa tak menentu

Suatu hari kau akan menerima
Bahwa aku memang seperti ini adanya
Tanpa caci di belakangku
Tanpa keluh kala ku tak dihadapanmu
Dan tanpa keputusasaan dalam menghadapiku

Bahkan suatu hari kau akan sempurna
Menghadapi semua dengan senyum
Bijaksana dalam mengelola peluh
Tak pernah putus memupuk harap optimis
Bahwa hidup, bukanlah sekadar memiliki
Tetapi hidup adalah belajar
Menerima, mencerna, dan mengelola

Bagaimanapun aku tahu
Kau hanya manusia biasa
Sempurna tentu tak akan pernah kau capai
Tapi harapan tentu tak boleh berhenti
Karena hidup adalah harapan yang harus ada
Sampai mata tertutup tuk selamanya
Amin.


Selamat ulang tahun,
Suamiku..



Tuhan, bantu aku sampaikan yang menjadi harapan dan doaku padanya
Pict







Ini hanyalah ungkapan dan doa dari seorang istri. Sederhana. Dan apa adanya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...